Diplomasi Prabowo ke Prancis: Nilai Strategis dan Jangkar Stabilitas

Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI. Anggota Badan Legislasi DPR RI
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Sugiat Santoso tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Presiden Prabowo melawat ke Prancis dalam kunjungan luar negerinya.
Rombongan kepala negara mendarat di Bandara Orly pada 26 Mei 2026 pukul 10.00 waktu setempat yang disambut baik oleh Menteri Tenaga Kerja dan Solidaritas Prancis, Jean-Pierre Farandou.
Ada pun puncak kunjungan luar negeri ke Prancis berlangsung dua hari kemudian, ketika Presiden Emmanuel Macron menyambut langsung Presiden Prabowo dalam sebuah upacara kenegaraan dengan jajar kehormatan di Les Invalides pada 28 Mei 2026 lalu.
Prancis telah menjadi mitra strategis bagi Indonesia sejak tahun 1950. Berbagai kolaborasi di bidang ekonomi, energi, dan pertahanan telah mewarnai hubungan bilateral kedua negara yang melampaui sekat geografis serta perbedaan budaya.
Hubungan semakin solid dengan hadirnya kemitraan strategis di sektor pertahanan, mengingat status Prancis sebagai salah satu negara Eropa Barat dengan industri militer terbaik di dunia.
Dalam konteks ini, Indonesia menempatkan Prancis sebagai poros utama untuk memperkuat stabilitas dan postur pertahanan di kawasan Indo-Pasifik yang semakin dinamis.
Sementara pada sektor ekonomi dan energi, kedua negara semakin memantapkan kolaborasi dalam agenda hilirisasi serta transisi energi yang ramah lingkungan.
Menurut data Kementerian Investasi dan Hiliriasi/BKPM RI tahun 2026 pada periode 2021–Q1 2026, realisasi investasi pengusaha dan koorporasi Prancis di Indonesia mencapai USD1,69 miliar dengan rata-rata pertumbuhan 33,7% per tahun.
Investasi tersebut secara nyata menyerap setidaknya 37.000 tenaga kerja di Indonesia yang tidak sebatas komoditas mentah melainkan transfer teknologi. Artinya ditengah ketidakpastian ekonomi global saat ini, kemitraan dengan Prancis membantu Indonesia dalam menjaga stabilitas perekonomian nasional.
Indonesia saat ini tengah fokus pada program hilirisasi nikel sebagai bahan baku utama baterai kendaraan listrik (EV). Di tengah tantangan pengembangan ekosistem dan transisi energi ini, Prancis melalui perusahaan pertambangan dan metalurgi multinasional bernama Eramet telah menjalin kerja sama dengan Danantara.
Kolaborasi ini bertujuan untuk membangun ekosistem rantai pasok mineral yang komprehensif dengan pola manajemen yang terintegrasi secara hulu ke hilir.
Pada konteks yang lebih strategis, kemitraan multidimensi dengan Prancis memberikan jangkar pengaman bagi tata kelola komoditas strategis Indonesia terkhusus pada industri nikel.
Pasalnya di tengah ketidakpastian global, sektor pertambangan nikel kerap menghadapi kerentanan akibat eskalasi geopolitik yang mengganggu rantai pasok. Melalui kolaborasi ini, Indonesia tidak hanya mengamankan pasar ekspor di Eropa tetapi juga mendapatkan kepastian investasi teknologi pengolahan yang aman, stabil, dan berkelanjutan.
Nilai Strategis
Hubungan kemitraan dengan Prancis memiliki nilai strategis bagi Indonesia di panggung dunia. Hal ini memperkuat posisi tawar Indonesia dalam memainkan peran dalam pasokan mineral kritis. Secara sederhana mineral kritis ini bisa dipahami sebagai komoditas tambang yang berdampak langsung terhadap sektor perekonomian, pertahanan, keamanan, dan teknologi sebuah negara.
Oleh karena itu, sebagai mineral kritis, nikel memiliki kerentanan dan risiko tinggi terhadap gangguan rantai pasok terutama saat menghadapi kampanye negatif global terkait isu lingkungan.
Pada titik ini, reputasi Prancis yang menerapkan kepatuhan ketat terhadap tata kelola lingkungan dan sosial dengan standar Environmental, Social, and Governance (ESG) menjadi modal strategis bagi Indonesia untuk menembus hambatan proteksionisme di pasar global
Apalagi Prancis banyak menggagas serta menyelenggarakan konferensi lingkungan seperti One Planet Summit dan Paris Agreement yang otomatis menjadikannya mereka menjadi salah satu rujukan utama bagi regulasi hijau di Uni Eropa.
Lebih jauh, ketika hilirisasi nikel Indonesia bekerjasama dengan Prancis secara otomatis akan menghadirkan otoritas moral dalam membantah kampanye negatif. Hal ini terjadi karena produksi komoditas mineral kritis di Prancis selama ini diproduksi melalui strandar global Environmental, Social, and Governance (ESG) yang akuntabel dan profesional.
Di sinilah letak kejelian Presiden Prabowo dalam memanfaatkan momentum geopolitik. Ia memperkuat diplomasi dengan Prancis dengan membangun relasi bilateral untuk melawan tembok proteksionisme hijau.
Hasilnya adalah komoditas mineral kritis Indonesia kini tidak lagi dipandang miring sebagai ancaman ekologis tapi diakui sebagai bagian integral dari transformasi energi global yang ramah lingkungan.
Jangkar Stabilitas
Pada lanskap geopolitik stabilitas tidak hanya berkaitan dengan konflik terbuka melalui perang militer. Stabilitas sebuah negara juga berkaitan dengan kemampuan sebuah negara menjaga ekonomi dan produksi sumber daya yang dimiliki.
Kunjungan Presiden Prabowo ke Prancis adalah contoh sederhana bagaimana Indonesia sejatinya bisa memainkan peran strategis di tataran global dalam upaya merawat fondasi ekonomi dalam negeri tetap stabil.
Memperkokoh kemitraan multidimensi bersama Prancis melalui kerjasama perdagangan alutsista hingga standardisasi industri nikel merupakan langkah taktis dari Presiden Prabowo dalam menempatkan Indonesia sebagai jangkar stabilitas.
Pilihan ini menegaskan bahwa Indonesia tidak terjebak dalam dikotomi persaingan kaku di antara kekuatan besar dunia, baik: Amerika Serikat, Tiongkok dan Rusia. Sebaliknya, dengan merajut poros strategis bersama Prancis setidaknya menjadi modal berharga bagi Indonesia dalam menjalankan politik luar negeri Bebas-Aktif secara berdaulat.
Selain itu, kehadiran Presiden Prabowo di Paris secara signifikan memperkuat posisi moral Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Apalagi antara Prancis dan Indonesia memiliki titik temu dalam penyelesaian di Gaza melalui solusi dua negara (two-state solution).
Artinya politik luar negeri Bebas-Aktif di abad ke-21 tidak lagi dijalankan dengan cara pasif namun dijalankan aktif dengan menunjukkan keberanian dan kejelian melihat peluang.
Berani mengambil posisi dalam isu kemanusiaan di Palestina sembari mampu melihat peluang untuk memperkuat kemitraan hubungan bilateral antara Indonesia dan Prancis. Keseimbangan antara kepentingan ekonomi dan penguatan ketahanan ini pulalah yang menjadi kebaharuan dalam gaya diplomasi politik luar negeri Prabowo.
Pada akhirnya, keberhasilan kunjungan ke Prancis ini memberikan sebuah pelajaran bahwa kedaulatan ekonomi dan kewibawaan politik berada dua sisi dari mata uang yang sama.
Selanjutnya, pekerjaan rumah bagi para pengambil kebijaka di Indonesia ke depan bisa membuktikan bahwa jangkar stabilitas yang ditambatkan Prabowo di Prancis mampu menopang kesejahteraan rakyat Indonesia.
