Gempa Bumi NTT: Solidaritas Sosial dan Kesadaran Kontemplatif

Praktisi bisnis karbon hutan dan pengelolaan hutan berkelanjutan Pemerhati dan pegiat isu sosial, lingkungan hidup dan peradaban Islam di MUI Pusat dan Muhammadiyah
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Sugijanto Soewadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gempa bumi tidak hanya mengguncang tanah. Ia juga mengguncang rasa aman, kesadaran, dan cara manusia memahami dirinya di hadapan alam. Gempa tektonik berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, pada 15 Agustus 2026 pukul 04.58 WIB, menjadi pengingat bahwa kehidupan manusia berlangsung di atas bumi yang senantiasa dinamis. Gempa tersebut terjadi pada kedalaman sekitar 15 kilometer dan sempat memunculkan peringatan dini tsunami bagi sejumlah wilayah.
Peristiwa seperti ini perlu dibaca secara utuh. Penjelasan geologi membantu kita memahami penyebabnya; keimanan membantu kita menemukan makna; sedangkan ketenangan batin dan solidaritas sosial menuntun kita untuk bertindak secara benar. Ketiganya bukan pilihan yang saling meniadakan, melainkan tiga cara untuk merespons kenyataan yang sama.
Kesadaran Geologis dan Etik
Secara geologis, gempa bumi merupakan pelepasan energi akibat perubahan dan pergeseran batuan di dalam bumi. Energi tersebut merambat sebagai gelombang seismik dan menimbulkan guncangan yang kita rasakan di permukaan.
NTT termasuk kawasan Indonesia yang aktif secara tektonik. Wilayah ini dipengaruhi oleh pertemuan lempeng, zona penunjaman, serta berbagai sesar aktif. Salah satu struktur penting di kawasan Flores adalah Flores Back-Arc Thrust, yaitu sistem sesar naik yang berada di bagian utara Pulau Flores. Pergerakan pada struktur semacam ini dapat menghasilkan gempa dangkal dengan guncangan kuat.
Dalam gempa NTT terbaru, BMKG mengidentifikasi mekanisme sesar naik. Karena pusat gempanya relatif dangkal dan berada di wilayah laut, gempa tersebut memiliki potensi mengganggu kolom air laut. BMKG kemudian mengeluarkan peringatan dini tsunami, yang selanjutnya diakhiri setelah pemantauan menunjukkan kondisi muka laut kembali aman.
Penjelasan ini penting karena membantu masyarakat keluar dari anggapan bahwa gempa merupakan peristiwa yang sepenuhnya misterius. Gempa mengikuti hukum-hukum alam yang dapat dipelajari, dipantau, dan dikurangi risikonya, meskipun belum dapat diprediksi secara tepat mengenai waktu, lokasi, dan kekuatannya.
Menyebut gempa sebagai bencana alam tidak berarti bahwa alam adalah musuh manusia. Gempa merupakan bagian dari dinamika planet bumi. Yang menjadikannya bencana adalah perjumpaan antara proses alam dan kerentanan manusia: bangunan yang tidak tahan guncangan, tata ruang yang buruk, kurangnya pengetahuan evakuasi, serta lemahnya akses terhadap informasi dan pertolongan.
Di sinilah ilmu pengetahuan memperoleh peran etis. Pengetahuan geologi bukan sekadar kumpulan data tentang lempeng dan sesar. Ia seharusnya membantu manusia membangun rumah yang lebih aman, menyusun jalur evakuasi, memperkuat sistem peringatan dini, serta melindungi kelompok yang paling rentan.
Gempa juga mengajarkan bahwa pembangunan tidak boleh hanya mengejar pertumbuhan fisik. Rumah, sekolah, rumah ibadah, jalan, pelabuhan, dan fasilitas kesehatan harus dirancang dengan memperhitungkan karakter geologis wilayah. Keselamatan publik merupakan bagian dari keadilan sosial.
Antara Ujian dan Peringatan
Dalam perspektif Islam, bencana tidak dapat secara tergesa-gesa ditafsirkan sebagai hukuman bagi kelompok atau masyarakat tertentu. Manusia tidak memiliki pengetahuan untuk memastikan maksud ilahi secara spesifik di balik setiap musibah. Menuduh korban sebagai pihak yang sedang dihukum justru berpotensi menambah luka dan menghilangkan rasa kasih sayang.
Al-Qur’an menyatakan bahwa manusia akan diuji dengan berbagai bentuk kesulitan, termasuk rasa takut, kelaparan, kehilangan harta, jiwa, dan hasil kehidupan. Pesan utamanya bukanlah agar manusia mencari-cari kesalahan korban, melainkan agar manusia menghadapi ujian dengan kesabaran, kesadaran, dan pengharapan.
Gempa dapat menjadi ayat kauniyah, tanda kebesaran Allah yang tampak melalui hukum dan kekuatan alam. Ia juga dapat menjadi ujian, khususnya bagi mereka yang mengalami kehilangan dan penderitaan. Bagi masyarakat yang lebih luas, gempa merupakan peringatan moral agar manusia tidak merasa berkuasa mutlak atas bumi.
Namun, kesadaran keagamaan tidak boleh berhenti pada rasa takut. Jika gempa hanya dipahami sebagai ancaman gaib, masyarakat dapat terjebak dalam fatalisme. Sebaliknya, iman yang dewasa mendorong manusia untuk membaca tanda-tanda alam, mengembangkan ilmu, memperbaiki tata kelola, dan menolong sesama.
Tawakal yang Aktif
Dalam Islam, tawakal bukanlah sikap menyerah sebelum berusaha. Tawakal berarti menggantungkan hati kepada Allah setelah melakukan ikhtiar yang sungguh-sungguh. Dalam konteks kebencanaan, ikhtiar itu berupa evakuasi, penyelamatan, pertolongan medis, penguatan bangunan, penyebaran informasi yang benar, dan pemulihan kehidupan warga.
Doa dan tindakan tidak perlu dipertentangkan. Orang yang berdoa ketika gempa sekaligus perlu menjauh dari bangunan yang berisiko. Orang yang membaca istighfar tetap harus mengikuti arahan petugas. Orang yang percaya kepada takdir tetap berkewajiban menjaga keselamatan diri dan orang lain.
Di sinilah prinsip hifz al-nafs, perlindungan jiwa, memperoleh relevansinya. Menyelamatkan manusia, mencegah kepanikan, menyediakan tempat pengungsian, dan memastikan bantuan sampai kepada korban merupakan bagian dari tanggung jawab moral dan keagamaan.
Gempa menghadirkan pengalaman eksistensial yang kuat. Dalam beberapa detik, seseorang dapat menyadari bahwa rumah, harta, rencana, dan rasa aman tidak sepenuhnya berada dalam kendalinya. Kesadaran tersebut dapat melahirkan kecemasan, tetapi juga dapat membuka ruang perenungan.
Sikap batin yang sehat sekurang-kurangnya memiliki lima unsur:
- Tenang, agar keputusan tidak dikendalikan kepanikan.
- Waspada, karena gempa susulan dan bahaya sekunder tetap mungkin terjadi.
- Rendah hati, karena manusia memiliki keterbatasan di hadapan kekuatan alam.
- Berharap, karena penderitaan tidak boleh mematikan masa depan.
- Peduli, karena keselamatan pribadi selalu berkaitan dengan keselamatan komunitas.
Sabar tidak berarti tidak menangis. Sabar berarti tetap menjaga kejernihan, tidak menyebarkan fitnah, tidak mengeksploitasi penderitaan, dan terus mencari jalan untuk bertahan serta membantu. Dalam suasana bencana, ketenangan seseorang dapat menjadi perlindungan psikologis bagi orang lain.
Doa, Solidaritas dan Pembelajaran
Bagi masyarakat yang terdampak, doa dapat menjadi sumber penguatan. Ungkapan inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un mengingatkan bahwa manusia berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Ia bukan kalimat untuk meniadakan kesedihan, melainkan cara untuk menempatkan kesedihan dalam horizon iman dan kesadaran kealamsemestaan.
Bagi masyarakat yang jauh dari lokasi bencana, doa perlu diterjemahkan ke dalam solidaritas. Bantuan yang dibutuhkan bukan hanya makanan dan pakaian, tetapi juga air bersih, obat-obatan, perlengkapan bayi, dukungan bagi lansia dan penyandang disabilitas, serta pendampingan psikologis sejak hari kejadian sampai pemulihan pasca bencana.
Solidaritas juga menuntut tanggung jawab dalam berkomunikasi. Informasi tentang gempa, tsunami, dan gempa susulan harus bersumber dari BMKG dan otoritas resmi. Foto atau video korban tidak boleh disebarkan tanpa pertimbangan martabat dan privasi. Di tengah bencana, informasi yang keliru dapat menjadi bencana kedua.
Gempa NTT seharusnya tidak hanya dikenang sebagai angka magnitudo atau berita singkat. Ia perlu menjadi momentum untuk memperkuat budaya sadar bencana. Masyarakat perlu memahami langkah keselamatan dasar, sekolah perlu melatih evakuasi, pemerintah perlu memperbarui peta risiko, dan pembangunan harus mengikuti standar ketahanan gempa.
Lebih jauh, peristiwa ini mengingatkan kita tentang hubungan etis antara manusia dan alam. Manusia bukan penguasa yang berdiri di luar alam, melainkan bagian dari sistem bumi yang kompleks. Karena itu, hidup beragama juga perlu melahirkan tanggung jawab ekologis: menghormati daya dukung lingkungan, menghindari pembangunan serampangan, dan mengelola ruang hidup secara hati-hati.
Membaca gempa hanya dengan geologi dapat membuat kita kehilangan makna. Membacanya hanya dengan bahasa keagamaan dapat membuat kita mengabaikan mekanisme alam dan kewajiban mitigasi. Membacanya hanya dengan emosi dapat menjerumuskan kita pada kepanikan.
Pembacaan yang lebih utuh menghubungkan ketiganya: ilmu menjelaskan bagaimana bumi bergerak, iman menata cara kita memaknai keterbatasan, dan solidaritas menunjukkan bagaimana manusia seharusnya bertindak. Ketika bumi berguncang, tugas kita bukan hanya bertanya mengapa, tetapi juga belajar bagaimana menjadi lebih siap, lebih rendah hati, dan lebih manusiawi.
Wallahu a’lam
