Konten dari Pengguna

Bajumu Yang Kelak Akan di Hisab

Suhari Ete

Suhari Ete

Sekretaris Umum Perhimpunan Jurnalis Rakyat Tinggal di Batam - Kepulauan Riau

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Suhari Ete tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bajumu Yang Kelak Akan di Hisab
zoom-in-whitePerbesar

Suatu sore, Istri saya Dinda Maryam mengatakan bahwa kadang ia merasa ketakutan ketika membeli sebuah baju baru, karenanya ia selalu memberikan baju lamanya terlebih dahulu kepada yang berhak sebelum ia membeli yang baru. Menurutnya baju baju yang menumpuk, tidak pernah dipakai menjadi tidak memiliki manfaat dan ini bisa menjadi bagian dari perhitungan hisab harta kita kelak di akhirat.

Untuk yang satu ini saya sangat setuju, bahkan secara mendasar, kita hendaknya hidup secara sederhada atau minimalisme myang akan menuntut kita sebagai manusia untuk to live with less (hidup dengan sedikit harta).

Sebenarnya konsep ini juga pernah muncul dari sekelompok orang di Jepang dan negara-negara barat yang melihat bahwa kebahagiaan tidak bisa didapatkan melalui kepemilikan harta (padahal sejak 1440 tahun lalu, Islam sudah bilang seperti ini).

Namun, para minimalis tidak hanya mendorong manusia untuk lebih peka terhadap harta yang mereka miliki, tetapi juga waktu, komitmen,dan hubungan

Saya juga menambahkan bahwa menurut saya gaya hidup minimalis dapat menjadi salah satu cara untuk menggapai ketakwaan. Takwa dapat diartikan sebagai “peka” atau dalam Bahasa Inggris, conscious. Orang-orang yang bertakwa adalah mereka yang peka. Peka bahwa setiap langkah yang mereka ambil dalam hidup adalah sesuai dengan syari’at Allah. Kehidupan mereka tertata sehingga sesuai dengan perintah Allah SWT dan jauh dari larangan-Nya.

Begitupun dalam mengadopsi minimalisme. Kita dituntut untuk “peka” dalam setiap langkah dalam kehidupan. Setiap barang yang kita miliki harus memiliki fungsi; jika tidak, singkirkan. Setiap waktu yang kira miliki harus digunakan untuk hal-hal yang benar-benar berguna; jika tidak, jangan lakukan. Setiap pertemanan/hubungan yang kita jalani harus membawa manfaat untuk kehidupan; jika tidak, tinggalkan. Setiap sosial media yang kita gunakan atau grup chat yang kita masuki harus membawa value untuk diri kita; jika tidak tutup atau keluarlah.

Hidup kita dituntut untuk rapih, tertata, dan terhitung. Dan bukankah ini juga sesuai dengan perintah Umar Ibn Al Khattab untuk menghitung diri kita sebelum dihitung di hari perhitungan?

Menurut saya, minimalisme membantu saya untuk mempersiapkan pertemuan saya dengan Allah SWT. Misalnya saja, dengan mengurangi kepemilikan barang, saya sudah berusaha untuk mengurangi pertanyaan-pertanyaan yang Allah akan ajukan di hari itu

Meskipun secara fisik, barang yang kita miliki tidak akan kita bawa ke liang lahat, namun jika kita berfikir lebih dalam lagi barang-barang tersebut akan kita “bawa”. Sebab akan ada pertanyaan-pertanyaan dari Allah tentang mereka: Kenapa barang tersebut dibeli? Untuk apa? Dengan apa? Untuk apa dibeli jika tidak kamu gunakan? Bukannya banyak yang lebih membutuhkan?

Sama halnya dengan waktu kita, tingkah laku kita di sosial media, dan juga hubungan kita. Mereka semua akan dipertanyakan. Intinya, minimalisme tidak hanya membuat kehidupan saya lebih terhitung dan terorganisir, tetapi juga membantu persiapan untuk kehidupan akhirat.