Konten dari Pengguna

Hujan Di Akhir Ramadhan

Suhari Ete

Suhari Ete

Sekretaris Umum Perhimpunan Jurnalis Rakyat Tinggal di Batam - Kepulauan Riau

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Suhari Ete tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hujan Di Akhir Ramadhan
zoom-in-whitePerbesar

Malam di Batam masih menyisakan rintik, Kumandang adzan Isya menyapa dengan teduh, larut dengan udara dingin, memanggil para pemburu surga yang sudah kekenyangan menu buka puasa. Tidak ada yang berjalan kaki menuju masjid malam ini, Ramadhan sudah pertengahan jalan, sebentar lagi ia melangkah meninggalkan kita semua. Kehangatan bulan seribu bulan segera usai. Di masa yang akan datang, kita belum tentu berjumpa kembali. Meski sangat diingini.

Ramadhan bulan keberkahan. Waktu ketika pahala menggurita berlipat-lipat. Masa dimana Ibadah puasa hanyalah untuk Allah semata, khusus.Ramadhan tak lama lagi akan pergi. Meninggalkan kita. Baik bagi orang-orang yang mengutamakannya, dan menjadikan amal ibadah sebagai titik inti kehidupan saat Ramadhan. Ataupun bagi orang yang acuh tak acuh. Menganggap Ramadhan sebagai rutinitas tahunan belaka, hingga tak berbekas dalam akhlak sepeninggalnya.

Menjelang Lebaran Idul Fitri, akhirnya bukan mesjid yang bertambah ramai, namun pusat perbelanjaan, pasar dan pusat perdagangan yang kian ramai di kunjungi warga. Padahal sejatinya, makna dan hakikat Idul fitri merupakan keteladanan umat islam dalam ungkapan sebuah sederhanaan dalam merayakan hari kemenangan setelah sebulan penuh menjalankan ibadah zaum ramadan. Dan bukan untuk bermewah-mewah dengan pakaian mahal dan gaya hidup hedonisme.

Budaya berbelanja saat ini sudah menjadi sebuah gaya hidup masyarakat kelas mulai dari kelas atas hingga masyarakat ekonomi kelas bawah. Dan, sebagai gaya hidup, belanja masyarakat kerap kali meski bukan masuk dalam skala prirotas kebutuhan namun hanyalah suatu bentuk penunjukan status sosial.

Masih ada sepuluh hari terakhir,dan ada malam lailatul qadar. Malam yang lebih baik dari malam-malam lainnya. Pada salah satu malam itu, seseorang yang ikhlas bersungguh-sungguh beribadah dan mendekatkan diri kepada sang Pencipta, akan dikaruniai malam Lailatul Qadar. Tentunya hal tersebut dapat kita raih, ketika kita mengabaikan segala urusan perihal duniawi. Ya, semua urusan dunia yang remeh temeh.

Namun apakah kita seideal itu? Atau kita benar-benar yakin terhadap janji Allah, itu semua kembali kepada diri kita semua