Istriku Gendut (baca :Montok)

Sekretaris Umum Perhimpunan Jurnalis Rakyat Tinggal di Batam - Kepulauan Riau
Tulisan dari Suhari Ete tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Punya istri dengan berat badan yang berlebih memang punya tantangan hidup yang jauh lebih besar ketimbang istri yang punya tubuh ideal, atau minimal nggak gendut-gendut amat lah. Tapi bagi saya biasa biasa saja tuch
Beberapa waktu yang lalu, misalnya, seorang penceramah kondang membuat guyonan soal parameter kesalihan perempuan. Dalam guyonannya tersebut, ia menyebut bahwa salah satu ciri perempuan salihah itu berat badannya tidak lebih dari 55 kilo. Walau semua paham betul bahwa apa yang disampaikan oleh si penceramah adalah guyonan, namun tentu saja tak sedikit perempuan yang terpelatuk.
Maklum saja, bagi perempuan, urusan berat badan memang urusan yang bikin sensitif. Mungkin sama sensitifnya dengan urusan ukuran panjang dan ketahanan durasi bagi kaum lelaki.
Banyak stereotipe yang mengatakan bahwa istri bertubuh makmur identik dengan istri yang tidak bisa menjaga pola makan, tidak mau berolahraga, terlalu kurang gerak dan malas-malasan, dsb. Sebuah stereotipe yang memang kerap menjadi beban tersendiri bagi para istri kategori BBW.
Saya dulu termasuk seseorang yang berbadan kurus (52 kg), setelah menikah terlihat lebih berbandan sedikit (60kgs). Beberapa studi telah menunjukkan bahwa mereka yang memiliki pernikahan yang bahagia, cenderung mengalami kenaikan berat badan, baik pada suami maupun istri. Apa yang menyebabkan seseorang bisa gemuk setelah menikah?
Dalam sebuah penelitian, ilmuwan melihat rekam jejak 169 pasangan yang baru menikah. Selama 4 tahun mereka diukur masing-masing berat badannya, serta diukur kebahagiaan umum dan seberapa puas mereka dengan rumah tangga yang dijalani.
Dan pasangan yang melaporkan bahwa mereka punya rumah tangga bahagia, dinyatakan mengalami kenaikan berat badan dalam rentang waktu studi tersebut dijalankan. Dan mereka yang tidak mengalami kenaikan berat badan, cenderung berpisah
Sedangkan penelitian yang dilakukan di University of Queensland, Australia mengungkapkan bukti lain. Mereka meneliti 15 ribu orang selama 10 tahun. Para ilmuwan menemukan, bahwa rata-rata mereka yang menjalin hubungan cinta cenderung mengalami kenaikan berat badan 6,5 kg dibandingkan mereka yang lajang. Dan mereka yang punya pasangan cenderung naik berat badannya 2 kg per tahun.
Mengapa orang yang punya rumah tangga bahagia berat badannya naik? Ilmuwan menemukan bahwa ada perilaku umum yang cenderung dialami oleh para pasangan bahagia. Mereka yang hidup bersama, cenderung meniru gaya hidup dan rutinitas pasangannya.
Biasanya pria memiliki porsi makan lebih banyak dari wanita. Karena tubuh pria memiliki kebutuhan kalori lebih besar dari wanita. Dan setelah menikah, biasanya wanita cenderung memiliki porsi makan yang sama atau bahkan lebih banyak.
Sebelum menikah, biasanya pria memiliki pola makan yang tidak teratur atau seadanya sehingga cenderung kurus. Tapi setelah menikah, akan ada seseorang yang memasak untuknya setiap hari. Sehingga dia makan dengan lebih teratur dan lebih banyak dari sebelumnya.
