Konten dari Pengguna

Jangan Malu Menjadi Tua

Suhari Ete

Suhari Ete

Sekretaris Umum Perhimpunan Jurnalis Rakyat Tinggal di Batam - Kepulauan Riau

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Suhari Ete tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jangan Malu Menjadi Tua
zoom-in-whitePerbesar

Siang itu entah karena ingin mengusir kantuk atau apa, teman saya sebut saja namanya Tungir, tiba tiba bersenandung sebuah lagu era Jadul yang mungkin cukup populer di masa itu

Masihkah kau ingat waktu di desa

Bercanda bersama di samping gereja

Kala itu kita masih remaja

Yang polos hatinya bercerita

Waktu kini t'lah lama berlalu

Sudah sepuluh tahun tak bertemu

Entah dimana kini kau berada

Tak tahu dimana .. silakan teruskan sendiri

Tak ayal beberapa komentar dan debat terbukapun berseliweran di antara meja kerja kami.

“Wuiiihh lagunya… Ketauan udah tua!” celetuk teman kami yang lain sambil senyam-senyum ga jelas.

“Ini lagu siapa, ya? Seumur hidup belum pernah dengar,” Ujar teman saya yang berambut keriting pura pura ngga tahu, padahal ia juga tahu menurutku. Sementara yang lainnya mengomentari “Jadul banget woiii!”

Memang umur bisa membedakan preferensi lagu seseorang, tapi ini kan baru setengah benar.

Saya sendiri sih cukup hafal memang dengan lagu tersebut. Pertanyaannya kenapa malu untuk suka sesuatu yang dianggap jadul sehingga mencirikan kalau kita tua? Kayak suka lagu jadul tadi misalnya.

Kenapa kita merasa malu untuk tahu, suka, atau melakukan sesuatu hanya karena sesuatu tersebut dianggap jadul sehingga mencirikan kalau kita tua? Bahkan untuk hal sepele semacam lagu jadul?

Saya sendiri sempat merasa agak gimana gitu saat memutar lagu lawas hanya karena komentar orang, sih. Terutama komentar anak saya yang doyan lagu lagunya BTS atau Black Pink.

Bisa saja dulu kita suka dan hafal lagu-lagu evergreen atau lagu-lagu yang ada dalam CD berjudul Greatest Hits Love Song itu hanya karena waktu masih kecil, emak bapak atau om dan tante kita waktu itu sering banget memutar lagu itu.

Atau, ketika kamu suka Iwan Fals, bisa saja itu gara-gara kita berteman dengan anak-anak Oi yang sering membawakan lagu-lagu si om pas gegitaran di teras rumah.

Atau bahkan, bisa saja kita tahu lagu-lagu lawas dari band pop Malaysia semacam Exist hanya karena saban pagi diputar dengan kencang oleh tetanggamu yang budiman.

Suka lagu-lagu jadul itu tidak melulu berkaitan dengan umur. Ini juga soal lingkungan, pergaulan, atau wawasan. Ya, kan, kita tidak harus jadi angkatan tahun 70-an untuk tahu lagu-lagu The Beatles yang DNA-nya musik populer itu.

Nah, komentar komentar negatiftadi menyumbang alasan seseorang jadi malas untuk secara jujur suka lagu jadul. Sekalipun pada dirinya sendiri dan bisa membuat seseorang jadi memutar lagu “Dynamite”-nya BTS atau “How You Like That”-nya Blackpink hanya sebagai simbol perlawanan, kekinian, sekaligus kemudaan.

Itu pun tetap berisiko. Setidaknya berisiko dicengcengin: “Hoi, sekarang mah kita harus hati-hati sama si Jamilah. Dia K-Popers.”

Jadi nikmati kejadulan dalam dirimu. Entah itu karena umur kamu memang sudah “banyak” atau karena kamu masih muda tapi suka lagu-lagu lama.