Konten dari Pengguna

Konflik Generasi Muda dan Tua

Suhari Ete

Suhari Ete

Sekretaris Umum Perhimpunan Jurnalis Rakyat Tinggal di Batam - Kepulauan Riau

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Suhari Ete tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Konflik Generasi Muda dan Tua
zoom-in-whitePerbesar

Belakangan ini geliat serikat pekerja semakin hari semakin menurun jika di tinjau dari tingkat partisipasi anggota dalam semua kegiatan serikat pekerja, terutama dari generasi mudanya. Karenanya semua pihak harus tidak boleh lelah menyadarkan pengurus tingkat basis, bahwa kekuatan di internal tempat kerja atau pabrik sangatlah penting, karena akan sangat memengaruhi perubahan di dalam pabrik itu sendiri amupun tingkat yang di atasnya

Ada fenomena di mana saya melihat ada konflik antara generasi muda dan generasi senior (baca:tua) yang terjadi belakangan ini di dalam salah satu organisasi. Perbedaan pendapat, kepentingan bahkan berujung pada mosi tidak percaya.

Karenanya sebuah federasi atau konfederasi haruslah dipimpin oleh orang-orang yang mau terbuka dan demokratis. Organisasi harus menciptakan anggota yang kritis, supaya bisa mengontrol kepemimpinan

Kekritisan, keberanian dan kemajuan anggota janganlah dianggap sebagai penghalang atau sebagai saingan. Karena sebuah organisasi itu milik anggota, bukan milik segelintir pengurusnya. Tongkat kepemimpinan harus terus berjalan, biar tidak menyumbat laju kepemimpinan.

Kepengurusan yang kuat adalah pengurus yang selalu terbuka, sering berkomunikasi, memperhatikan kondisi sesama pengurus, dan mencari jalan keluar bersama di saat ada permasalahan.

Perbedaan generasi inilah akan menjadi satu tantangan bagi organisasi dalam waktu mendatang. Untuk mengatasinya dalam dunia psikologi sosial berkembang istilah simpati dan empati ketika mencoba memahami keadaan orang lain dari perspektif orang tersebut. Istilah ini lalu berkembang menjadi sebuah idiom: “Always put yourself in others’ shoes”.

Segala sumber mengenai perbedaan karakter antargenerasi baiknya menjadi bekal kita dalam memahami mereka, bukan malah menimbulkan asumsi atau prasangka. Pemahaman terhadap “keunikan” pribadi itu menjadi lebih mudah ketika kita tidak memiliki asumsi atau prasangka terhadap orang lain. Budayakanlah untuk mencoba mengerti dari perspektif orang lain sebelum memutuskan segala sesuatu

Untuk menjaga sebuah organisasi yang kuat, tetap utuh dan kuat, diperlukan kerjasama yang kuat juga, harus dilandasi dengan keikhlasan untuk menerima amanah dan takut berbuat salah, seperti menyalahgunakan wewenang untuk keperluan pribadi tanpa adanya diskusi.

Bila kita telah mengimani perjuangan dengan keikhlasan, kita tidak akan menyakiti atau mengkhianati sesama anggota dan pengurus. Kekompakan tingkat organisasi akan timbul jika mereka saling membutuhkan, saling menghargai, saling terbuka ketika ada masalah baik yang berkaitan dengan organisasi, saling percaya dan penuh tanggung jawab, ikhlas menerima amanah, Insya Allah akan menjadikan organisasi kita besar, kuat, berkelanjutan, dan benar- benar menjadi sekolah politiknya kaum buruh.

Tapi, bila sampai ada pengurus yang tidak mau dikontrol , biasanya seleksi alam akan berjalan dengan sendirinya. Karena tidak semua masalah bisa dipecahkan secara hitung-hitungan dan analisa manusia.