Konten dari Pengguna

Si tut tut..Motor Butut

Suhari Ete

Suhari Ete

Sekretaris Umum Perhimpunan Jurnalis Rakyat Tinggal di Batam - Kepulauan Riau

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Suhari Ete tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Si tut tut bersama dengan pak Security
zoom-in-whitePerbesar
Si tut tut bersama dengan pak Security

Dengan badan letih selepas pulang kerja kulangkahkan kaki memasuki rumah. Dengan haru yang memenuhi rongga dada, kunikmati setiap langkah rindu. Namun hari ini langkahku terhenti, pandanganku tertuju pada sebuah motor tua, yang hari ini sedikit membandel.

Tadi pagi dengan sekali hentakan si tut-tut, demikian anakku memanggilnya langsung menjerit. Entah dia sedang kesakitan atau bertanda telah siap untuk menembus kemacetan dan asap tebal jalanan di Batam. Tapi hari ini dia benar-benar menyerah, dan berhenti total di kepadatan lalulintas. Beberapa kali kucoba memberi bantuan dengan hentakan-hentakan keras agar jantungnya kembali normal, tapi sia-sia.. Hingga baru sadar, sudah tiga hari ia kehausan, terpaksa dorong sebentar ke pertamini terdekat.

Si tut tut memang sudah tua dan tidak bisa lagi di pacu sebagaimana mestinya. 16 tahun yang lalu motor itu sangat berarti. Sebagai buruh biasa, kami hanya bisa mencicil sebuah motor sebagai sarana transportasi sekeluarga. Bahkan pernah kami berboncengan 4 orang di atasnya . Aku juga tidak habis pikir kenapa satu keluarga bisa muat dan begitu berani ?

Hal yang paling bertahan dalam ingatanku adalah ketika tiba-tiba hujan turun, kami segera menepikan motor, sekeluarga semua diturunkan karena mantel hujan tersimpan di bawah Jok. Jas hujan dikeluarkan .. kemudian kami kembali menempati posisi dan masuk ke dalamnya . Jas hujan satu dipakai ramai-ramai. Pemandangan yang tadinya indah, mendadak gelap gulita tapi tawa canda tetap mewarnai perjalanan hingga tempat tujuan.

Namun… perjalanan hidup tidak selamanya bahagia. Di suatu sore, di jalanan lurus, seorang kakek menyeberang jalan tanpa lihat kiri kanan, dan nampaknya si Tut-tut juga sedang gesit-gesitnya hingga kakek itupun terpental tanpa ampun dan muntah darah. Sementara istri dan anakpun terpental dan aku sendiri terlindas dengan tragis.

Untungnya setelah seminggu opname di rumah sakit, kakek tersebut bisa sembuh, sementara kakiku masih membiru.

Kebahagiaan dan kebersamaan keluarga di bangun telah sering terjadi di atas motor tua ini. Terimakasih padamu tut-tut. Walau sekarang kamu sudah batuk-batuk dan sakit-sakitan, jasa-jasamu tetap terpatri di dalam hati. Dengan air mata yang hampir jatuh, kulangkahkan kaki menuju pintu dan suara istri yang lembut menyambut salamku

Betapa hangatnya cinta-Mu ya Tuhan. Ijinkan aku untuk selalu ingin memiliki cinta ini…dalam sabar dan syukurku…