Riuh di Selatan, Sunyi di Utara: Bali yang Tak Lagi Layak Jadi Surga Pariwisata

Pegawai BPS Kabupaten Sumbawa Barat
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Suhendra Widi Prayoga tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Riuh Selatan, Sunyi Utara: Bali di Persimpangan

Di bawah terik matahari Bali Selatan, pasir Pantai Kuta sudah terlalu sering dijejak ribuan kaki setiap harinya. Suara debur ombak hampir tenggelam oleh deru kendaraan, dentuman musik bar, dan teriakan pedagang asongan. Seminyak, Legian, hingga Nusa Dua kian riuh, sesak, dan lelah menerima arus wisatawan yang seolah tak pernah berhenti. Sementara itu, di Bali Utara, pantai-pantai Buleleng masih menanti. Airnya lebih jernih, alamnya lebih teduh, budaya lokalnya lebih murni, namun sunyi karena jarang dilirik. Bali kini berada di persimpangan antara over-tourism di selatan dan potensi yang terabaikan di utara, sehingga pulau yang dulu dianggap surga dunia mulai kehilangan kelayakannya sebagai destinasi utama.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah kedatangan wisatawan mancanegara langsung ke Provinsi Bali pada Juli 2025 mencapai 697.806 orang dan meningkat 9,4 persen dibanding bulan sebelumnya. Angka ini sekilas tampak menggembirakan seolah menandai kebangkitan pariwisata Bali pascapandemi. Namun kenyataannya jauh lebih kompleks. Tingkat Penghunian Kamar Hotel (TPKH) berbintang memang naik menjadi 67,75 persen atau bertambah 3,10 persen dari bulan sebelumnya, tetapi angka ini belum mencerminkan keseimbangan antara jumlah wisatawan dan kapasitas akomodasi. Hotel banyak, turis pun banyak, tetapi keduanya tidak sepenuhnya bertemu dalam harmoni. Wisatawan yang menumpuk di Bali Selatan tidak otomatis menjamin kesejahteraan pariwisata secara merata, justru kondisi ini memperlihatkan wajah Bali yang timpang, satu sisi penuh sesak dengan aktivitas pariwisata sementara sisi lain masih sepi dan terabaikan.
Harta Karun Terkonsentrasi, Utara Menunggu
Ketimpangan ini tampak jelas dalam distribusi akomodasi. Lebih dari 70 persen hotel berbintang di Bali terkonsentrasi di Kabupaten Badung, yang meliputi Kuta, Seminyak, dan Nusa Dua. Bahkan untuk hotel nonbintang, sekitar sepertiganya juga masih terkumpul di wilayah yang sama. Hampir seluruh infrastruktur pariwisata utama bertumpuk di selatan, sementara Bali Utara yang sesungguhnya menyimpan panorama laut yang jernih, hamparan sawah, hingga pegunungan yang asri masih kekurangan fasilitas. Data dari Dinas Pariwisata Buleleng mencatat pada 2024 jumlah wisatawan domestik yang berkunjung ke kabupaten itu hanya 838.590 orang dan wisatawan mancanegara sebanyak 506.657 orang, jauh tertinggal dibandingkan arus kunjungan ke Bali Selatan yang hampir selalu mendominasi. Fakta ini memperlihatkan bahwa potensi wisata bahari, budaya, dan spiritual di utara masih terhambat oleh kesenjangan pembangunan. Meski demikian, Dinas Pariwisata Buleleng tetap optimis dengan menargetkan kunjungan wisatawan di tahun 2025 mencapai 1,5 juta orang, sebuah harapan yang menuntut keseriusan pemerintah dalam pemerataan pariwisata agar utara tidak selamanya menjadi penonton di rumahnya sendiri.
Surga yang Memudar: Dari Pesona ke Sesak
Kondisi ini berdampak langsung pada kualitas pariwisata Bali. Meski jumlah kedatangan wisatawan terus meningkat, pengalaman yang mereka peroleh justru kian menurun. Pantai-pantai terlalu padat, jalanan semakin macet, harga-harga melonjak, dan pelayanan tidak lagi sehangat dulu. Sejumlah laporan bahkan menilai Bali mulai “tidak layak dikunjungi” karena persoalan sampah yang tak tertangani, alih fungsi lahan yang masif, serta hilangnya nuansa spiritual akibat komersialisasi berlebihan. Tingkat penghunian kamar hotel yang relatif rendah di tengah banyaknya kunjungan menjadi sinyal bahwa pariwisata Bali telah kehilangan sebagian daya tarik sejatinya. Wisatawan memang datang, tetapi mereka cenderung tinggal lebih singkat, beralih ke akomodasi nonformal, atau bahkan memilih destinasi lain di Asia Tenggara. Fenomena ini memperlihatkan bahwa Bali semakin rapuh dan belum mampu mengelola popularitasnya secara bijak dan berkelanjutan.
Asap, Bising, dan Sawah yang Hilang
Over-tourism di Bali Selatan bukan hanya soal padatnya wisatawan, tetapi juga memunculkan persoalan lingkungan dan sosial yang kian terasa. Kemacetan sudah menjadi keluhan harian, membuat perjalanan singkat terasa melelahkan. Data Badan Pusat Statistik mencatat jumlah kendaraan terdaftar di Bali pada 2024 mencapai lebih dari 5,2 juta unit, naik dari sekitar 5 juta pada 2023, dan mencengangkan karena 85,8 persen di antaranya adalah sepeda motor. Konsentrasi kendaraan terbesar ada di Denpasar dan Badung, yang menjadikan wilayah tersebut sebagai pusat polusi, kebisingan, sekaligus tekanan psikologis bagi masyarakat lokal yang setiap hari harus berhadapan dengan hiruk pikuk yang nyaris tak ada jeda. Di sisi lain, alih fungsi lahan pertanian menjadi hotel dan vila terus menggerus ruang hijau yang seharusnya menjadi penyangga ekologi. Banjir di Denpasar beberapa waktu lalu hanyalah peringatan kecil dari kerentanan yang semakin besar. Meski pemerintah telah mengeluarkan larangan pembangunan hotel di lahan produktif, tanpa pengawasan yang sungguh-sungguh aturan itu tak lebih dari teks di atas kertas. Sawah lenyap, beton mendominasi, dan air hujan kehilangan ruang resapannya. Bali yang dahulu dikenal harmonis dengan alam kini justru kian jauh dari keseimbangannya.
Menyapa Utara, Menyeimbangkan Pulau
Situasi ini menuntut perubahan mendasar. Bali tidak bisa terus-menerus mengandalkan selatan sebagai pusat pariwisata sementara utara dibiarkan sepi. Pemerataan destinasi harus menjadi strategi utama. Infrastruktur menuju Bali Utara perlu diperbaiki, termasuk bandara, jalan raya, pelabuhan, dan hotel ramah lingkungan. Pemerintah juga harus lebih serius mempromosikan daya tarik alternatif seperti wisata bahari di Lovina, wisata alam di Munduk, atau tradisi budaya yang masih terjaga di desa-desa. Regulasi lingkungan juga harus ditegakkan tanpa kompromi, termasuk batas kunjungan harian, pengelolaan sampah, dan transportasi publik yang ramah lingkungan. Masyarakat lokal harus ditempatkan sebagai pelaku utama, bukan sekadar penonton, agar pariwisata tetap berkelanjutan dan bermanfaat bagi semua pihak.
Wayan Koster menegaskan bahwa Bali sebagai destinasi wisata kelas dunia masih tertinggal dalam hal infrastruktur. Ia bersama pasangannya, I Nyoman Giri Prasta, berkomitmen mempercepat pembangunan terutama di wilayah Bali utara, timur, dan barat agar tidak hanya terpusat di selatan. Menurut Koster, percepatan pembangunan dan penataan sektor pariwisata secara komprehensif diperlukan untuk menumbuhkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru serta memastikan hasil pembangunan dapat dirasakan secara merata oleh seluruh masyarakat Bali.
Bali: Memilih Jalan Baru atau Kehilangan Surga
Bali bukan hanya destinasi wisata, melainkan simbol keindahan alam, spiritualitas, dan keseimbangan hidup. Namun simbol itu kini mulai retak. Bali Selatan yang riuh hampir tersedak oleh turis, sementara Bali Utara masih sunyi menunggu giliran. Jika situasi ini terus berlanjut, Bali berisiko kehilangan jati dirinya, berubah dari surga yang damai menjadi sekadar taman bermain yang melelahkan. Saatnya Bali memilih jalan baru yang menolak keserakahan di selatan sekaligus menyapa kesunyian di utara, menyeimbangkan pembangunan dengan kelestarian, membagi kue pariwisata secara adil, serta menjaga kualitas pengalaman wisata. Jika langkah berani ini diambil, Bali masih bisa mempertahankan gelarnya sebagai surga yang tenang, adil, dan layak bagi semua, baik bagi mereka yang datang berkunjung maupun mereka yang menyebut pulau ini rumah.
