Rupiah Loyo Lawan Dolar AS, Bagaimana Nasib Harga Tahu Tempe?

Content Creator & Social Issue Enthusiast. Menangkap realita lewat kata-kata.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Sukatman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mendadak saja, linimasa media sosial kita beberapa hari belakangan ini dipenuhi oleh obrolan seputar ekonomi yang bikin dahi berkerut. Gara-garanya, sebuah ulasan ekonomi yang dirilis oleh Mediakompeten.co.id melempar prediksi yang cukup bikin ketar-ketir: nilai tukar rupiah berpotensi anjlok parah sampai menyentuh Rp18.000 per dolar AS. Buat orang awam, grafik bursa saham atau naik-turunnya angka di bursa valas itu paling-paling cuma dianggap angin lalu. Membosankan dan jauh dari realitas. Tapi, cerita langsung berubah horor begitu angka belasan ribu itu mulai dikaitkan dengan harga barang di pasar. Buat para netizen yang tiap bulan pusing mengatur pos pengeluaran, kabar begini bukan lagi sekadar bumbu obrolan kopi, tapi ancaman nyata yang siap bikin isi dompet kempes seketika.
Anehnya, kalau kita dengar pernyataan dari beberapa pemangku kebijakan, nadanya sering kali santai dan kelewat optimis. Narasi yang sering dilempar ke publik biasanya berbunyi, “Tenang, kalau rupiah melemah, sektor ekspor kita justru bakal panen untung besar.” Oke, secara hitung-hitungan teori ekonomi makro, argumen itu ada benarnya. Para taipan komoditas atau eksportir besar pasti langsung senyum-senyum sendiri melihat dolar meroket. Tapi ayolah, mari kita melihat realitas di lapangan secara jujur. Memangnya berapa persen dari tetangga di sekitar rumah kita yang punya bisnis ekspor batubara, nikel, atau minyak sawit? Nyaris tidak ada. Mayoritas masyarakat kita ini adalah konsumen akhir yang posisinya berada di paling ujung bawah rantai ekonomi. Jadi begitu rupiah keok dihajar dolar, fenomena imported inflation—alias inflasi yang diselundupkan lewat barang-barang impor—bakal langsung mendobrak pintu dapur kita tanpa permisi.
Imbas Rupiah Melemah Bagi Sektor Pangan Rakyat
Coba kita ambil contoh yang paling dekat dengan keseharian kita: semangkuk mi ayam gerobakan di tikungan jalan atau gorengan tahu-tempe yang biasa dibeli buat ganjal perut di pagi hari. Secara tampilan dan rasa, makanan-makanan ini rasanya lokal banget, sangat Indonesia. Tapi tahu tidak? Perut kita ini sebenarnya sudah lama ketergantungan sama pasokan dari luar negeri. Tepung terigu yang dipakai buat bikin mi atau kulit martabak itu berasal dari gandum, komoditas yang sampai kiamat pun tidak bakal bisa tumbuh subur di tanah tropis kita. Sama juga ceritanya dengan kedelai. Pabrik tahu dan tempe langganan kita itu mayoritas masih mengandalkan kedelai impor yang dibawa pakai kapal kontainer besar melintasi samudra, dan transaksinya tentu saja pakai mata uang dolar AS.
Nah, ketika kurs dolar ngamuk, biaya untuk menebus bahan baku tadi otomatis melonjak drastis. Industri skala raksasa mungkin masih kuat menahan tipisnya margin keuntungan selama sebulan atau dua bulan ke depan. Namun, bagaimana dengan nasib pedagang kaki lima atau pelaku UMKM? Mereka tidak punya modal cadangan yang tebal untuk bertahan. Mau tidak mau, pilihannya cuma dua dan dua-duanya sama-sama bikin serba salah: menaikkan harga jual atau menyusutkan ukuran dagangan. Jangan kaget kalau nanti porsi mi ayam langganan Anda mendadak jadi sedikit, atau potongan tempe goreng harganya tetap tapi tebalnya berubah jadi setipis kartu ATM. Di sinilah letak ironisnya. Ada riak ekonomi di New York sana, tapi dampaknya malah bikin perut masyarakat di pinggiran kota kita ikut keroncongan.
Tantangan Ekonomi Digital dan Lonjakan Harga Gawai
Beban hidup ini belum berhenti di urusan perut saja. Sekarang coba kita geser pandangan ke sektor yang paling digilai oleh anak muda zaman sekarang: teknologi dan perangkat elektronik. Hari gini, yang namanya smartphone, laptop, atau tab bukan lagi barang mewah yang dipakai cuma buat gaya-gayaan atau pamer status sosial. Perangkat-perangkat ini sudah bergeser fungsi menjadi alat produksi utama buat mencari sesuap nasi. Anak muda yang kerja lepas sebagai freelancer, konten kreator, admin toko online, sampai abang-abang ojek online semuanya sangat bergantung pada ekosistem digital ini. Celakanya, hampir seluruh gawai yang beredar di pasar dalam negeri kita—kalau tidak diimpor utuh—pasti komponen di dalamnya seratus persen didatangkan dari luar negeri.
Bayangkan kalau prediksi buruk rupiah menyentuh angka Rp18.000 itu benar-benar menjadi kenyataan di pasar. Harga laptop dan ponsel pintar kelas menengah ke bawah dipastikan bakal langsung melonjak tinggi tak terkejar. Bagi seorang mahasiswa yang laptopnya mendadak mati total di tengah-tengah masa bimbingan skripsi, atau seorang pekerja lepas yang harus memperbarui komputer kerjanya agar tidak lemot, kenaikan harga ini jelas jadi tembok besar yang menghalangi produktivitas mereka. Kita di sini sedang tidak membicarakan kaum borjuis yang mengeluh karena harga iPhone seri terbaru naik beberapa juta rupiah. Ini soal nasib masyarakat kelas pekerja yang terpaksa menunda membeli modal kerja karena harganya sudah naik di luar nalar.
Selama ini, kita sering kali terbuai oleh ilusi bahwa kondisi ekonomi kita baik-baik saja, cuma karena melihat pusat perbelanjaan atau kafe-kafe masih terlihat ramai. Padahal, kalau mau jujur, daya beli riil masyarakat kita sedang mengalami pengikisan secara perlahan tapi pasti. Ketika slip gaji bulanan angkanya begitu-begitu saja alias jalan di tempat, sementara harga barang kebutuhan pokok terus merangkak naik akibat melemahnya nilai tukar, masyarakat bawah bakal dipaksa melakukan manuver bertahan hidup yang cukup ekstrem. Anggaran untuk pos kesehatan, pendidikan anak, atau sekadar hiburan murah di akhir pekan bakal dipangkas habis-habisan. Semuanya demi memastikan agar asap dapur tetap ngebul dan cicilan bulanan tidak sampai macet.
Pemerintah bersama Bank Indonesia tentu tidak boleh cuma duduk manis atau melempar pernyataan penenang yang kesannya template banget. Langkah intervensi pasar buat menyuntik stabilitas nilai tukar memang wajib diambil segera, tapi itu barulah solusi jangka pendek yang sifatnya mirip seperti menempel koyo pada luka dalam. Tantangan jangka panjangnya adalah bagaimana kita bisa konsisten membangun kemandirian pangan dan memotong ketergantungan industri lokal terhadap bahan baku luar. Selama pekerjaan rumah yang mendasar ini belum selesai, dompet masyarakat Indonesia akan selalu jadi sandera dari setiap sentimen global yang bikin mata uang dolar makin perkasa.
Pada akhirnya, kita semua harus sadar bahwa kesehatan ekonomi itu indikatornya bukan cuma soal angka-angka infografis cantik yang dipaparkan saat konferensi pers di kantor kementerian. Tolok ukur keberhasilan ekonomi yang paling jujur dan valid adalah ketika seorang ibu rumah tangga tidak perlu menghela napas panjang melihat struk belanjaan di kasir pasar tradisional, atau ketika anak-anak muda kita masih sanggup membeli alat kerja digital tanpa perlu terjebak lingkaran setan pinjaman online. Kita tentu berharap bayang-bayang kelam ambruknya rupiah ini tidak pernah terjadi, karena kalau sampai kejadian, seluruh lapisan masyarakatlah yang harus menanggung risikonya dengan teramat mahal.
