FOMO Bikin Kita Beli Barang yang Tidak Perlu, Pakai Uang yang Tidak Ada

Mahasiswi Akuntansi, Universitas Pamulang
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Sukma Fitri Rizki tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah nggak, kamu lagi scroll TikTok atau Instagram, tiba-tiba nemu konten seseorang pakai tas baru, makan di restoran yang lagi viral, atau liburan ke tempat yang estetik banget—dan tiba-tiba kamu merasa ada yang kurang dari hidupmu? Padahal lima menit sebelumnya kamu baik-baik saja.
Itu FOMO. Dan ia bukan cuma soal perasaan takut ketinggalan. Dalam lima tahun terakhir, FOMO sudah bertransformasi jadi sesuatu yang jauh lebih serius: mesin pengeluaran yang bekerja 24 jam sehari, tujuh hari seminggu, langsung dari genggaman tangan kita.
FOMO Bukan Sekadar Lebay, Ini Sudah Terdata
Penelitian yang diterbitkan Kaloeti dkk (2021) menemukan sekitar 64,6 persen remaja Indonesia mengalami FOMO akibat penggunaan media sosial. Lebih dari separuh! Dan efeknya bukan cuma cemas atau insecure—ia langsung mengarah ke dompet.
Riset Triwikrama Journal (2025) mengungkapkan banyak mahasiswa membeli barang atau mengikuti tren bukan karena kebutuhan, melainkan karena dorongan untuk terlihat tidak tertinggal. Ikut challenge viral, beli produk yang lagi ramai di TikTok, atau rela antre panjang di kafe yang aesthetic demi satu foto—bukan karena benar-benar mau, tapi karena takut nggak ada di momen itu.
Yang bikin masalah ini makin parah adalah algoritmanya memang dirancang begitu. Platform media sosial tahu persis kapan kamu mulai bosan, kapan kamu rentan, dan konten seperti apa yang bikin kamu stay lebih lama. Dan semakin lama kamu scroll, semakin banyak "keinginan" yang diciptakan untuk kamu.
Dari Layar ke Keranjang Belanja, Dalam Hitungan Detik
Dulu, kalau mau beli sesuatu, kamu harus keluar rumah, ke toko, antre, bayar. Ada jeda. Ada waktu untuk mikir dua kali.
Sekarang? Kamu lihat konten, klik, masuk keranjang, bayar pakai paylater—semua dalam waktu kurang dari satu menit. Tanpa uang tunai, tanpa rasa sakit saat bayar, tanpa sempat bertanya ke diri sendiri: "Ini beneran butuh, atau cuma mau?"
Riset Populix (2024) menemukan lebih dari 60 persen pengguna Gen Z aktif berbelanja melalui TikTok Shop, dengan 61 persen responden mengaku pernah melakukan pembelian melalui platform tersebut dalam tiga bulan terakhir. Angka ini jauh melampaui generasi-generasi sebelumnya.
Dan ujungnya? Paylater dan pinjol. Utang masyarakat Indonesia di layanan paylater saja sudah menyentuh Rp 29,59 triliun per April 2025, dengan penggunanya didominasi milenial sebesar 48,27 persen dan Gen Z sebesar 39,94 persen.
Yang Ngeri: Utang untuk Beli Barang yang Sudah Tidak Dipakai
Ini bagian yang paling menggelisahkan. Riset Inventure menunjukkan dari 34 persen Gen Z yang memanfaatkan pinjol, sebanyak 61 persen menggunakannya untuk membeli gadget, sementara 35 persen lainnya memakainya untuk belanja fashion seperti baju, sepatu, dan tas.
Jadi bukan untuk modal usaha. Bukan untuk pendidikan. Tapi untuk gadget dan baju. Yang mungkin dalam tiga bulan sudah tergantikan tren berikutnya.
Data OJK per Maret 2026 menunjukkan kelompok usia 19-34 tahun mendominasi pendanaan macet pinjol dengan porsi mencapai 48,65 persen, sementara total outstanding pinjol sudah menembus Rp 101,03 triliun. Tingkat kredit macet di atas 90 hari pun naik drastis dari 2,78 persen menjadi 4,54 persen hanya dalam setahun.
Dan ada konsekuensi yang lebih nyata lagi, yang mungkin belum banyak disadari. Dalam Indonesia Summit 2025, Presiden Direktur Summarecon mengungkapkan ada calon pembeli rumah yang tidak lolos KPR karena masih memiliki cicilan konsumtif—bahkan ada yang gagal hanya karena masih mencicil televisi dan kulkas.
Beli baju viral hari ini, nggak bisa KPR lima tahun lagi. Ini bukan cerita menakut-nakuti. Ini yang sudah terjadi.
Siapa yang Salah?
Gampang sekali kita bilang: "Ya salah sendiri, nggak bisa kontrol diri." Tapi jawaban itu terlalu sederhana.
Kita hidup dalam sistem yang memang dirancang untuk menguras dompet. Notifikasi flash sale tengah malam. Konten influencer yang mempertontonkan gaya hidup premium dengan caption "affordable banget." Paylater yang limitnya naik otomatis padahal kamu belum minta. Algoritma yang tahu kamu lagi capek dan moodnya jelek—saat itulah iklan produk yang paling menggoda muncul.
Ini bukan tentang lemah atau kuatnya iman terhadap godaan belanja. Ini tentang sistem yang secara aktif mengeksploitasi psikologi manusia untuk keuntungan korporasi.
Tapi di sisi lain, literasi keuangan yang rendah memang jadi faktor yang tidak bisa diabaikan. Data OJK menunjukkan 64,8 persen pengguna pinjaman online berasal dari rentang usia 19-34 tahun, dan kelompok ini menyumbang lebih dari 52 persen total kredit macet. Generasi yang paling melek teknologi justru yang paling rentan secara finansial.
Jadi, Harus Apa?
Bukan berarti kamu harus jadi orang yang anti-belanja, nggak punya akun media sosial, dan hidup seperti pertapa. Bukan itu intinya.
Tapi ada satu pertanyaan sederhana yang bisa jadi rem sebelum checkout: "Kalau barang ini tidak ada di feed-ku, apa aku masih mau beli?"
Kalau jawabannya tidak, itu FOMO berbicara. Bukan kamu.
Belajar membedakan keinginan yang datang dari dalam diri sendiri versus keinginan yang "ditanamkan" oleh algoritma adalah salah satu skill paling penting di era ini—dan sayangnya, ini tidak diajarkan di sekolah mana pun.
FOMO akan selalu ada selama media sosial ada. Tapi kita bisa belajar untuk tidak selalu menuruti setiap dorongannya. Dompetmu—dan BI Checking-mu—akan berterima kasih.
Penulis adalah pemerhati perilaku konsumen dan literasi keuangan generasi muda.
