Konten dari Pengguna

Quiet Quitting: Bukan Malas, Tapi Lelah yang Sudah Lama Tidak Didengar

Sukma Fitri Rizki

Sukma Fitri Rizki

Mahasiswi Akuntansi, Universitas Pamulang

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sukma Fitri Rizki tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Photo by Vitaly Gariev on Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Photo by Vitaly Gariev on Unsplash

Quiet quitting bukan berarti kamu diam-diam resign, lalu tiba-tiba tidak masuk kerja besok pagi. Bukan itu. Quiet quitting adalah ketika kamu tetap datang, tetap duduk di depan laptop, tetap absen tepat waktu—tapi hanya melakukan apa yang memang tugasmu, tidak lebih. Tidak ada lembur sukarela. Tidak ada ide yang kamu sumbangkan tanpa diminta. Tidak ada energi ekstra yang kamu keluarkan untuk perusahaan yang tidak pernah benar-benar menghargaimu.

Kelihatannya sepele. Tapi dalam lima tahun terakhir, fenomena ini diam-diam menjadi salah satu topik paling ramai diperbincangkan di dunia kerja global—dan Indonesia tidak terkecuali.

Seberapa Besar Sebenarnya Fenomena Quiet Quitting Ini?

Survei Gallup 2023 menemukan angka yang cukup mengejutkan: sebanyak 59 persen pekerja di seluruh dunia masuk kategori quiet quitters—hadir secara fisik, tapi tidak terlibat secara psikologis. Bahkan di laporan Gallup 2024, tingkat keterlibatan karyawan secara global hanya 21 persen. Artinya, dari setiap 10 orang di kantormu, kemungkinan hanya 2 yang benar-benar "all in" dengan pekerjaannya. Sisanya? Jalan di tempat.

Di Indonesia, survei Kompas (2023) mencatat sekitar 40 persen pekerja muda mengaku tidak lagi antusias dengan pekerjaannya karena merasa kurang diapresiasi. Dan riset terhadap 30 pekerja Gen Z di Karawang (2024) menemukan 82,5 persen responden cenderung menghindari rapat, enggan dihubungi di luar jam kerja, dan menolak lembur—sambil sesekali berpura-pura sibuk untuk menghindari tugas tambahan.

Itu bukan kemalasan. Itu perlawanan diam-diam.

Kenapa Ini Terjadi? Jangan Buru-Buru Salahkan Orangnya

Mudah sekali merespons fenomena ini dengan "generasi sekarang manja" atau "kurang semangat juang." Tapi kalau mau jujur, akar masalahnya justru ada di sisi lain: sistem kerja yang sudah lama tidak adil.

Riset lintas negara, termasuk konteks Indonesia, menunjukkan bahwa quiet quitting muncul sebagai respons terhadap stres kerja yang tinggi, burnout yang berkepanjangan, dan pencarian keseimbangan hidup yang tidak pernah benar-benar difasilitasi. Laporan Randstad Workmonitor 2025 menyebut 1 dari 3 pekerja Indonesia pernah berhenti dari pekerjaan karena nilai pribadinya tidak sejalan dengan budaya kantor—bukan karena gajinya kurang, tapi karena lingkungannya tidak sehat.

Dan 39 persen profesional Gen Z secara global berencana pindah kerja dalam enam bulan ke depan. Lagi-lagi bukan karena malas, tapi karena mencari tempat yang sejalan dengan nilai dan kesejahteraan mereka.

Faktanya sederhana: orang tidak tiba-tiba berhenti peduli. Mereka berhenti peduli setelah cukup lama tidak dipedulikan.

Kerja Sesuai Argo, Bukan Berarti Tidak Profesional

Ada salah kaprah yang perlu diluruskan. Quiet quitting sering dianggap sama dengan tidak profesional atau tidak berintegritas. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah: pekerja mulai memisahkan antara identitas dirinya dengan pekerjaannya.

Bagi generasi sebelumnya, loyalitas sering diukur dari seberapa banyak waktu dan energi yang "dikorbankan" untuk perusahaan—lembur dianggap dedikasi, pulang tepat waktu dianggap tidak serius. Gen Z menolak logika itu. Bagi mereka, bekerja secara profesional sesuai kontrak yang disepakati bukan bentuk kemalasan. Itu batas yang sehat.

Penelitian dari Universitas Islam Indonesia bahkan menyebut quiet quitting bisa dipahami sebagai sinyal bahwa lingkungan kerja tidak lagi sehat dan perlu diubah. Ini bukan sekadar individu yang bermasalah—ini pesan kolektif yang seharusnya didengar manajemen.

Tapi Ada Sisi yang Perlu Diperhatikan Juga

Perlu jujur juga di sini: quiet quitting bukan tanpa risiko bagi si pekerja sendiri. Beberapa psikolog organisasi menyebut strategi ini sebagai win-lose solution yang sifatnya pasif-agresif. Alih-alih menyuarakan ketidakpuasan secara terbuka atau mencari solusi, pekerja malah mengurangi kontribusi—yang pada akhirnya bisa merugikan diri sendiri dalam hal pengembangan karier.

Riset terbaru juga menunjukkan kepuasan kerja saja tidak cukup untuk mencegah quiet quitting. Yang lebih berperan adalah rasa keadilan organisasi—apakah karyawan merasa diperlakukan secara adil, dihargai kontribusinya, dan punya ruang untuk berkembang. Tanpa itu, bahkan orang yang "puas" pun bisa jatuh ke pola quiet quitting tanpa disadari.

Lalu, Siapa yang Harus Berubah?

Kalau kamu sedang dalam kondisi ini—kerja ya kerja, tapi hati sudah tidak ada—pertanyaan pertama yang perlu dijawab bukan "bagaimana caraku lebih semangat lagi?" tapi "apa yang membuat semangatku hilang?"

Apakah lingkungan kerjanya toksik? Apakah kontribusimu tidak pernah diakui? Apakah kamu diminta terus-menerus memberikan lebih tanpa ada timbal balik yang sepadan?

Kalau jawabannya iya, quiet quitting mungkin bukan masalahnya—ia hanya gejalanya.

Dan bagi perusahaan, data Gallup 2024 sudah bicara keras: kerugian produktivitas akibat rendahnya keterlibatan karyawan secara global mencapai 438 miliar dolar. Itu bukan angka yang bisa diabaikan. Solusinya bukan memeras lebih keras—justru sebaliknya: komunikasi yang lebih terbuka, pengakuan yang nyata, upah yang adil, dan lingkungan kerja yang tidak membuat orang ingin melarikan diri setiap hari Senin pagi.

Quiet quitting adalah cermin. Dan yang terpantul di sana bukan wajah karyawan yang malas—tapi wajah sistem kerja yang sudah lama perlu berbenah.