Diskusi menggunakan Post-It: agar Ide Tak Menguap Kemana

Menyukai ayam dan bakmi
Tulisan dari Sukma Martini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Kira-kira sebulan yang lalu, saya pergi ke acara komunitas film di Sukabumi. Saya mengikuti serangkaian acara salah satunya adalah kelas tematik kurasi. Saya membantu teman-teman saya di sana. Meskipun saya telat 1 jam (karena saya ketinggalan kereta), saya masih dapat membantu beberapa hal.
Kelas tersebut di bagi menjadi dua sesi. Sesi pertama adalah peserta dibagi menjadi tiga kelompok menentukan tiga karakter di film apakah mereka protagonis atau antagonis. Sebelumnya, peserta menonton film yang telah disediakan. Dalam menyampaikan alasan mereka takait karakter, peserta diminta menulisannya di label Post-It dan ditempel di tembok yang disediakan. Di sesi selanjutnya, kegiatannya masih sama tetapi peserta kali ini diminta untuk menceritakan pesan di film beserta alasannya dan lagi-lagi ide mereka disalurkan melalui Post-It.
Terakhir, peserta diminta untuk menuliskan harapan mereka setelah kelas kurasi film. Apa rencana peserta setelah kelas kurasi. Harapan ini pun ditulis di Post-It agar semua bisa membaca satu sama lain. Mengapa penyeleggara senang sekali menggunakan Post-It? Pertama, saya rasa karena Post-It tersedia dalam berbagai warna. Jadi mudah mengkategorikan gagasan ini milik kelompok apa berdasarkan warna. Kedua, post it juga memungkinkan ide peserta terarsipkan. Hal ini berbeda jika peserta hanya menulis di papan tulis. Gagasan peserta akan hilang bila papan tulis dihapus untuk keperluan lain.
