Konten dari Pengguna

Pertanian Regeneratif, Solusi Pertanian Terintegrasi bagi Petani Swadaya

Suksma Ratri

Suksma Ratri

Senior Communications Officer di Solidaridad Indonesia, sebuah organisasi masyarakat sipil yang bergerak di bidang pemberdayaan petani swadaya, adaptasi perubahan iklim dan keberlanjutan.

·waktu baca 7 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Suksma Ratri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Petani swadaya di Desa Merarai Satu sedang merawat lahan mereka yang memiliki konsep pertanian regeneratif
zoom-in-whitePerbesar
Petani swadaya di Desa Merarai Satu sedang merawat lahan mereka yang memiliki konsep pertanian regeneratif

Di Kalimantan Barat, sebuah kisah transformasi pertanian sedang terjadi di kalangan petani kelapa sawit swadaya. Anggota Aliansi Petani Kelapa Sawit Keling Kumang (APKS KK) telah memulai perjalanan pertanian regeneratif di kabupaten Sintang, Sekadau, Sanggau, dan Bengkayang.

Metode ini telah menjadi pegangan dan panduan para petani, yang mulai menggunakan cara bercocok tanam yang sekaligus bisa meningkatkan kesehatan tanah, menjaga keanekaragaman hayati, mendorong konservasi, memastikan ketersediaan air, meningkatkan penyerapan karbon dioksida, dan secara keseluruhan, membuat pertanian lebih tahan terhadap guncangan iklim.

Bujang, petani swadaya dari Desa Merarai Satu, ditemani oleh Viona, Programme Officer Solidaridad

"Dulu, lahan saya adalah perkebunan karet yang kemudian saya alihkan menjadi kebun sawit. Melalui sekolah lapangan yang dilaksanakan oleh Solidaridad, saya belajar bahwa pertanian regeneratif dengan sistem tumpang sari sangat bermanfaat bagi perkebunan kelapa sawit. Dengan menerapkan sistem ini, saya dapat mengurangi biaya dan penggunaan pupuk (kimia sintetis).

Selain itu, tanaman pendamping ini juga membantu dalam hal pertanian seperti pengendalian gulma di kebun. Saya juga sudah menanam cabai, buncis, tomat, dan bawang merah sejak Januari 2023, dan saya bisa mendapat penghasilan tambahan dari penjualannya," kata Bujang, petani di Desa Merarai Satu.

Area pertanian regeneratif yang berada di Desa Merarai Satu, kabupaten Sintang, Kalimantan Barat

Di bidang budidaya kelapa sawit yang mengutamakan keberlanjutan, wacana peralihan dari praktik monokultura ke praktik polikultura, yang memiliki lebih dari satu jenis tanaman dalam satu area tanam yang sama, telah sering didiskusikan. Sekitar 70 petani di Desa Merarai Satu, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, mempraktikkan teknik tumpang sari, yang merupakan bagian dari pendekatan pertanian regeneratif.

Petani swadaya yang memilki kebun dengan tanaman belum menghasilkan (TBM) atau sedang tahap penanaman kembali (peremajaan), bisa merasakan langsung bahwa intervensi ini sangat membantu dalam mendukung keberlangsungan penghidupan mereka selama periode pematangan kelapa sawit.

Pada tahap awal, pemeliharaan pohon kelapa sawit merupakan upaya yang sarat tantangan. Memperkenalkan beragam tanaman sela di perkebunan kelapa sawit terbukti membawa manfaat yang bisa memberikan dukungan finansial sekaligus menjaga kesehatan tanah.

Mentimun, buncis, sawi, semangka, terong, dan cabai tumbuh subur berdampingan dengan kelapa sawit, menciptakan hamparan yang harmonis. Menggembalakan sapi di padang rumput kecil yang berada di antara kebun sawit tidak hanya menambah keindahan bentang alam yang ada, tetapi juga menyumbangkan pupuk kandang yang penting untuk kebutuhan pembuatan pupuk organik.

Timbul, petani swadaya dari Desa Merarai Satu di kabupaten Sintang, didampingi Dwi, Jr. Programme Officer Solidaridad

"Sejak menerapkan pertanian regeneratif melalui budidaya cabai, tomat, dan terong yang dipadukan dengan peternakan sapi pada tahun 2022, saya berhasil menekan pengeluaran dan penggunaan pupuk kimia. Sebaliknya, saya beralih ke pupuk organik yang lebih ramah lingkungan, dan saya juga mendapatkan penghasilan tambahan dari penjualan cabai dan sayuran. Setiap panen saya bisa menghasilkan 10 kg cabai dan 30 kg terong. Apalagi hewan ternak saya juga bisa mendapatkan pakan tanpa biaya tambahan," Timbul, petani asal Desa Merarai Satu menuturkan.

Perawatan tanaman sela pada lahan pertanian regeneratif di Desa Merarai SatSabtu

Bambang Marius, Programme Coordinator Solidaridad Indonesia untuk wilayah Kalimantan Barat, menjelaskan, "Pada masa transisi, yang umumnya terjadi ketika petani memasuki tahap peremajaan, seringkali terjadi penurunan pendapatan karena kebun tidak bisa digunakan untuk sementara waktu. Periode ini bisa berlangsung hingga beberapa tahun, agar memungkinkan tanah untuk beregenerasi.

Setelah penanaman kembali dimulai, dibutuhkan setidaknya lima tahun agar tanaman sawit menjadi matang dan siap panen. Pengenalan pendekatan pertanian terpadu berdasarkan prinsip-prinsip pertanian regeneratif memberikan petani peluang untuk menghasilkan pendapatan alternatif melalui tanaman buah-buahan, tanaman sayuran, atau ternak, selama periode ini berlangsung,"

Manfaatnya - secara sosial, ekonomi, dan lingkungan - telah memicu reaksi berantai yang positif di masyarakat luas.

"Seiring berjalannya waktu, bahkan para petani yang awalnya kurang berminat pun mulai berpartisipasi aktif dalam kegiatan (pertanian regeneratif) ini. Menyaksikan manfaat nyata yang diperoleh rekan-rekan mereka yang terlibat terlebih dahulu, seperti mengakses dana atau bantuan pemerintah, mendorong perubahan pola pikir di kalangan petani yang awalnya acuh tak acuh," Nurmanto, Programme Officer di wilayah Sintang, berbagi pengalamannya mendekati komunitas petani untuk memperkenalkan pertanian regeneratif di desa mereka.

David, petani swadaya anggota koperasi Bondo Sepolo

"Kadang-kadang, jika hasilnya belum terlihat, minat kami mungkin kurang, dan banyak dari kami pun mungkin tampak acuh tak acuh. Namun, setelah menyaksikan kemajuan positif dan merasakan manfaatnya, kami cenderung menjadi lebih sadar dan mau ikut mengembangkan diri dengan minat yang tulus," aku David, seorang petani dan anggota Koperasi Bondo Sepolo di Sintang.

Hewan ternak yang dibiarkan mencari makan di lahan antara kebun sawit di Desa Merarai Satu, kabupaten Sintang

Bagi petani swadaya, sarana dan produk pertanian memberikan tantangan, terutama karena pupuk bersubsidi hanya bisa diakses oleh koperasi. Kerangka kerja pertanian regeneratif mendorong produksi pupuk organik secara mandiri.

Peternakan, khususnya sapi, memainkan peran ganda sebagai produsen bahan dasar pupuk organik dan untuk pengelolaan gulma. Namun tingginya harga sapi, menimbulkan hambatan tersendiri sehingga mendorong beberapa pihak untuk mencari alternatif produksi kompos dengan menggunakan bahan organik lokal lainnya.

Daniel, petani swadaya dari Desa Merarai Satu di kabupaten Sintang

"Sejak saya mengikuti sekolah lapangan petani yang diselenggarakan oleh Solidaridad, saya mendapatkan pemahaman yang mendalam tentang praktik perkebunan berkelanjutan. Sebelumnya, kami sangat bergantung pada pupuk kimia untuk meningkatkan produktivitas, namun kini kami menyeimbangkannya dengan metode organik untuk menjaga kualias tanah agat berkelanjutan. Selain itu, kami juga menjadi lebih bijak dalam menggunakan pestisida dan selalu mematuhi aturan penggunaan yang tepat," jelas Daniel, warga Desa Merarai Satu.

Anggota koperasi Raja Swa sedang memeriksa blok kompos fermentasi di rumah kompos Tapang Pengurin yang mereka kelola

Membangun rumah kompos merupakan salah satu cara yang diperkenalkan kepada petani swadaya sebagai solusi untuk mengurangi penggunaan pupuk kimia sintetis. Dengan memanfaatkan bahan-bahan organik yang tersedia, seperti tandan kosong kelapa sawit yang diperoleh dari pabrik terdekat, para petani diajarkan cara membuat kompos.

"Rumah kompos ini menjadi angin segar bagi kami, para petani kelapa sawit, di kawasan hulu Sintang. Keterbatasan akses jalan raya seringkali menyulitkan dan memakan biaya transportasi besar untuk mendapatkan pupuk. Kompos yang kami hasilkan bisa menjadi bahan pertimbangan dan solusi bagi petani yang melakukan budidaya kelapa sawit dan juga tanaman lainnya," kata Darius Anu, ketua Koperasi Raja Swa di Desa Bangun, Kabupaten Sintang.

Solidaridad memfasilitasi Koperasi Raja Swa untuk membangun rumah kompos majemuk yang mampu menampung hingga 28 ton kompos fermentasi. Untuk menjamin pasokan tandan kosong, Raja Swa melakukan perjanjian kerja sama dengan PT Agro Andalan, pabrik bersertifikat keberlanjutan di kabupaten Sekadau.

Kompos siap pakai produksi rumah kompos Tapang Pengurin yang dikelola oleh koperasi Raja Swa di Desa Bangun, kabupaten Sintang

"Kami menyambut baik inisiatif kerja sama pemanfaatan limbah ini, mengingat terkadang kami pun kesulitan mengelola limbah pabrik kelapa sawit yang melimpah, seperti tandan buah kosong yang menggunung di pabrik. Dengan bimbingan kami, koperasi kini bersedia untuk mengolah limbah pabrik ini menjadi kompos.

Namun, ada beberapa aspek yang perlu ditekankan dalam kerja sama ini, seperti metode pengambilan, distribusi, dan pengolahan. Karena pabrik kami sudah bersertifikat ISPO dan RSPO, kami mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam hal keselamatan dan keamanan, untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan ketika proses pengambilan limbah pabrik berlangsung," kata Rizaldi, kepala pabrik.

Lahan sawit yang menggunakan metode pertanian regeneratif di Desa Merarai Satu

Ketika para petani memulai tahap penanaman kembali, staf lapangan Solidaridad Indonesia dengan cermat memantau insiatif tersebut, mengatasi tantangan-tantangan seperti kesenjangan informasi, memfasilitasi akses atas kendala bantuan keuangan, dan potensi risiko.

Transisi ini bukannya tanpa hambatan, khususnya pada kelapa sawit, tanaman yang tidak bisa sepenuhnya dikonversi ke metode organik. Meskipun demikian, didorong oleh potensi pertanian regeneratif, para petani melaporkan peningkatan yang siginifikan dalam hal kesehatan dan produktivitas tanah di kebun mereka.

Para petani swadaya di Desa Merarai Satu yang menerapkan prinsip pertanian regeneratif

Saat ini ada lebih dari 2.000 petani swadaya binaan Solidaridad yang telah mendapatkan sertifikasi pertanian regeneratif dari regenagri, lembaga internasional yang mengukur dan menilai penerapan prinsip-prinsip pertanian regeneratif.

Jumlah tersebut dipercaya akan terus bertambah seiring dengan tersebarnya kisah sukses para petani terdahulu. Perjalanan ini bukan hanya tentang sertfiikasi, melainkan juga seruan bagi petani swadaya untuk menjadi petani karbon, sejalan dengan tujuan keberlanjutan yang lebih luas di bidang pertanian.

Billy M Hasbi, Head of Programme Operations Solidaridad Indonesia, mengatakan,

"Secara umum, untuk komoditas global, penekanan yang didorong oleh pasar sangatlah penting. Jika pasar menginginkan praktik regeneratif, kami akan mengupayakan agar semua produsen bergerak ke arah pengadopsian pertanian regeneratif. Keberhasilan petani swadaya di Kalimantan Barat mendapatkan sertifikat pertanian regeneratif dari regenagri merupakan salah satu buktinya."

Kisah transformatif dari Kalimantan Barat ini adalah tentang bagaimana pertanian regeneratif membuka jalan menuju masa depan yang tahan iklim dan berkelanjutan.