Konten dari Pengguna

Ku'bur Balanda, Kompleks Pemakaman Peninggalan Belanda di Majene

Tim Sulbar Kini

Tim Sulbar Kiniverified-green

Partner resmi kumparan 1001 Startup Media Online I email: sulbarkini@gmail.com

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Tim Sulbar Kini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Salah satu pusara bertuliskan bahasa Belanda di kompleks pemakaman tua di Lingkungan Timbo-timbo, Kelurahan Pangali-ali, Kecamatan Banggae, Majene. (Foto: Samad)
zoom-in-whitePerbesar
Salah satu pusara bertuliskan bahasa Belanda di kompleks pemakaman tua di Lingkungan Timbo-timbo, Kelurahan Pangali-ali, Kecamatan Banggae, Majene. (Foto: Samad)

"Di sini terbaring kekasih, bunda, saudari, putri kami tercinta Anna Ester Inkiriwang. Lahir Menado, 7.1.1905, wafat 14.4.1931"

Demikian kira-kira arti dari sebuah tulisan berbahasa Belanda yang terpahat pada salah satu pusara yang terbuat dari batu marmer di sebuah kompleks pemakaman tua di Lingkungan Timbo-timbo, Kelurahan Pangali-ali, Kecamatan Banggae, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat.

Selain pusara tersebut, ada puluhan pusara lainnya dengan beragam bentuk dan ukuran yang terserak di antara pohon pisang dan jagung milik warga.

"Warga sekitar menyebutnya dengan Ku'bur Balanda, yang berarti pemakaman orang Belanda. Berada di belakang pemukiman padat penduduk serta tidak adanya petunjuk lokasi menjadikan kompleks pemakaman tua ini tak banyak diketahui oleh masyarakat luas," kata Samad, salah seorang warga Majene, Rabu (13/2).

Menurutnya, selain pusara bertuliskan bahasa Belanda tersebut, beberapa pusara juga menggunakan Bahasa Indonesia. Bahan pembuatannya pun beragam, ada yang terbuat dari batu biasa hingga batu marmer dengan harga yang lebih mahal.

Pusara berbahasa Belanda di Lingkungan Timbo-timbo, Kelurahan Pangali-ali, Kecamatan Banggae, Majene. (Foto: Samad)

"Salah satu pusara ada yang bertanda "Aj Marmi Italiani, Soerabaia" yang kemungkinan terbuat dari batu marmer yang diimpor dari Italia. Cara penulisannya pun bervariasi, ada yang hanya digoreskan, tapi ada juga yang terkesan timbul dan terlihat mewah, kemungkinan perbedaan bentuk pusara, bahan, dan cara penulisannya dikarenakan perbedaan status sosial dari jenazah," imbuh Samad.

Menurutnya, adanya pusara berbahasa Indonesia menandakan bahwa makam tersebut tak hanya untuk orang Belanda saja. Tetapi pribumi yang kemungkinan merupakan pegawai Belanda yang beragama Kristen turut dimakamkan di lokasi itu.

"Menilik dari tempat lahir, kebanyakan dari Ambon, Manado, dan Toraja. Menurut cerita turun temurun warga sekitar, selain bangsa asing Belanda, beberapa orang Prancis juga bersemayam di tempat ini," jelasnya.

Hanya saja, karena tidak terawat dan dibiarkan terbengkalai begitu saja, kompleks pemakaman tua ini mulai mengalami kerusakan. Dari salah satu pusara yang masih bisa terbaca dengan baik, diketahui kuburan tertua atas nama T. Malada yang wafat pada tanggal 9 Oktober 1914.

Beberapa pusara mengalami kerusakan dan sudah tidak bisa terbaca. (Foto: Samad)

"Besar kemungkinan masih banyak makam yang berusia jauh lebih tua. Namun kondisinya mulai rusak dan tidak bisa terbaca," ucap Samad.

Menurut cerita warga setempat, dulu kadang ada orang Belanda maupun pribumi yang datang untuk mencari leluhurnya di pemakaman tua tersebut. Bahkan beberapa makam sudah pernah dibongkar kemudian dipindahkan ke tempat asal keluarganya di Sulawesi Selatan.

"Kedutaan Besar Belanda melalui OGS (Oorlogsgravenstichting), yayasan yang memelihara dan mengatur kuburan perang Belanda pernah mengkonfirmasi bahwa mereka memang mencari, mendata, dan memelihara kuburan korban perang dari pihak Belanda. Tetapi, itu dalam rentang tahun tertentu yaitu dari tahun 1941 sampai 1950, dan di luar tahun tersebut tidak termasuk dalam daftar pemeliharaan mereka," kata Samad.

(Sapriadi)