Abrasi Kikis Permukiman Nelayan di Pulau Ambo, Sulawesi Barat

Pulau Ambo, Desa Bala-balakang, Kecamatan Bala-balakang, merupakan salah satu pulau yang terletak di Selat Makassar yang masih merupakan bagian dari Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat. Pulau ini berada di tengah-tengah antara Pulau Sulawesi dan Pulau Kalimantan dan berjarak 60 mil dari Kota Mamuju.
Keberadaan pulau yang dihuni sekitar 110 Kepala Keluarga (KK) ini pun tak luput dari abrasi yang membuat permukiman warga terkikis. Kepala Desa Bala-balakang, Mahmud Idris, mengungkapkan hampir setiap tahun warga setempat memindahkan rumahnya akibat abrasi.
"Kami setiap tahun memindahkan rumah-rumah warga. Dulunya dibangun di tengah pulau, karena abrasi akhirnya berada di pinggir laut. Kalau diperkirakan, panjangnya 1.200 meter cuma kalau kami lihat, setiap tahunnya terkikis 5 sampai 6 meter setiap tahun," kata Mahmud Idris, Jumat (5/6).
Bahkan, Masjid Nurul Ilahi yang berada di sisi barat Pulau Ambo kini sudah tidak difungsikan lagi. Sebagian dinding belakang dan teras mesjid serta atap masjid rusak diterjang ombak.
Menurut Mahmud, pada 2009 lalu, masyarakat Pulau Ambo masih sempat menerima kunjungan pemerintah daerah tepat di belakang masjid yang berjarak sekitar 40 meter dari pantai.
"Sekarang 2020, jalan 11 tahun, masjid sudah hampir hilang. Artinya kurang lebih 40 meter selama jalan 11 tahun," ujarnya.
Olehnya itu, ia berharap adanya perhatian dari pemerintah, baik pusat, provinsi, dan kabupaten untuk menangani abrasi tersebut. Pasalnya, tanggul penahan ombak yang dibuat warga tak mampu membendung ketika diterjang ombak.
"Pulau ini hanya tinggal kenangan ketika ini tidak segera diatasi. Jadi ketika ini tidak diatasi, yang kasihan kan warga kita juga, masyarakat akan kemana? Jadi, itulah harapan besar kami bahwa sekiranya kalau tidak bisa tahun ini, barangkali 2021 pemerintah bisa mengucurkan dananya untuk pembuatan penanganan abrasi," ucapnya.
Butuh Alat Transportasi
Persoalan lain yang dihadapi masyarakat Pulau Ambo yakni alat transportasi. Menurut Mahmud, sebuah kapal feri mini milik Pemkab Mamuju yang diperuntukkan bagi masyarakat Desa Bala-balakang Timur kondisinya memprihatinkan dan sudah tidak layak pakai.
Sejumlah bagian bodi kapal sudah lapuk termakan air laut. Bagian depan kapal sudah tidak berbentuk lagi dan kondisinya hancur. Bagian dalam kapal, mesin terendam air jika air pasang, plafon rusak dan badan kapal patah. Posisi kapal yang terparkir di samping dermaga pulau Ambo, Desa Bala-Balakang Timur ini, Kecamatan Bala-Balakang sudah miring ke kanan.
Sekitar hampir setahun lebih kapal yang dianggarkan sebesar RP 1,9 miliar dari Pemkab Mamuju pada tahun 2017 dan 2018 (dua kali penganggaran) tersebut tak lagi beroperasi karena kondisinya yang tidak memungkinkan.
"Kita sama-sama merasakan bagaimana sulitnya kita untuk ke sini kalau tidak siap sarana transportasi. Nah tentu kalau kita sama-sama melihat (kondisi feri mini), ya harapan kami kalau ini tidak bisa digunakan, adalah pengganti dari itu. Itu harapan kami. Terlebih dari itu kami mohon maaf, kami tidak tahu bagaimana mekanismenya," tuturnya.
Dikatakan Idris, perwakilan Pemkab Mamuju, Dinas Perhubungan pernah berkunjung ke pulau tersebut untuk memantau kondisi feri mini itu.
"Mereka datang ke sini mengupayakan untuk menyelamatkan kapal ini, tapi karena cuaca juga sehingga nda bisa diselamatkan ini kapal," pungkasnya.
(Zulkifli Darwis)
