Kumparan Logo
Konten Media Partner

COVID-19 di Sulbar: Melonjak 2.148 Kasus Selama Juli 2021, RS Krisis Oksigen

SULBAR KINIverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Penampakan varian Corona Delta terungkap. Foto: Dok. Jason Roberts/VIDRL - Doherty Institute, 2021
zoom-in-whitePerbesar
Penampakan varian Corona Delta terungkap. Foto: Dok. Jason Roberts/VIDRL - Doherty Institute, 2021

Kasus positif COVID-19 di Sulawesi Barat (Sulbar) melonjak dalam sebulan terakhir. Data Gugus Tugas Penanganan COVID-19 Sulbar mencatat 2.148 kasus positif COVID-19 sepanjang bulan Juli 2021.

Kasus bulanan ini tertinggi sejak 2021. Pada Januari 2021, kasus positif COVID-19 di Sulbar sebanyak 1.712 kasus dan Februari 2021 sebanyak 1.491 kasus.

Catatan Sulbar Kini, melonjaknya kasus positif COVID-19 di Sulbar pada Januari dan Februari 2021 mengingat saat itu banyak warga yang memilih tinggal di tenda pengungsian pascagempa 6,2 magnitudo yang terjadi Jumat (15/1/2021).

Selain itu, tingginya mobilitas relawan dari luar daerah serta minimnya protokol kesehatan di lokasi pengungsian membuat penularan COVID-19 tinggi. Selanjutnya, kasus bulanan COVID-19 di Sulbar sempat menurun drastis sepanjang Maret, April, Mei, hingga Juni 2021. Kasus tertinggi dalam rentang empat bulan itu yakni sebanyak 336 kasus pada Juni 2021.

Lonjakan kasus positif COVID-19 di Sulawesi Barat terjadi pada Juli 2021. Menurut anggota Satgas Penanganan COVID-19 Sulbar, dr. Muhammad Ihwan, melonjaknya kasus COVID-19 tersebut dipicu dengan mobilitas warga serta masyarakat yang sudah mulai mengabaikan protokol kesehatan.

"Memang meningkat. Faktor pertama karena riwayat perjalanan dari luar daerah serta masyarakat sudah abai dengan protokol kesehatan sehingga terjadi kontak langsung," ungkap Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat di Dinas Kesehatan Sulawesi Barat, dr. Muhammad Ikhwan, kepada Sulbar Kini, Sabtu (10/7/2021).

Ikhwan mencontohkan, salah satu klaster baru di Sulawesi Barat yakni klaster Desa Rante Lemo dan Desa Salu Dengen, Kecamatan Bambang, Kabupaten Mamasa. Penularan COVID-19 tersebut berawal dari riwayat perjalanan, kemudian terjadi penularan lokal setelah beberapa warga menghadiri acara adat kematian Rambu Solo.

"Semuanya diawali dari riwayat perjalanan dari luar daerah, kemudian kontak dengan keluarga dan temannya," jelasnya.

Meningkatnya kasus COVID-19 di Sulawesi Barat pada Juli 2021 ini membuat Pemprov Sulawesi Barat, DPRD Sulbar, dan Pemkab Mamuju memberlakukan sistem bekerja dari rumah atau WFH sejak 19 Juli 2021 hingga 30 Juli 2021.

Kasus bulanan COVID-19 di Sulawesi Barat selama 2021. Data & grafis: Dinkes Sulbar

Peneliti Sebut Varian Delta Plus di Mamuju dan Jambi

Secara terpisah, Kepala Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman, Prof. Amin Soebandrio, menyebutkan virus corona turunan varian Delta bernama AY.1 atau yang lebih dikenal dengan nama varian Delta Plus sudah terdeteksi di Indonesia, yakni di Mamuju dan Jambi.

"Kalau yang dimaksud AY.1, ada tiga. Baru di Mamuju dan Jambi," kata Prof. Amin dikutip dari kumparanSAINS, Selasa (27/7).

Ahli epidemiologi dari Universitas Griffith, Dicky Budiman, mengatakan bahwa dirinya tak begitu kaget dengan penemuan varian Delta Plus di Indonesia. Sebab, kasus COVID-19 tengah melonjak di Indonesia, dan penemuan varian baru virus corona seperti Delta Plus hanya “masalah waktu” saja.

Dicky menduga bahwa varian tersebut sudah ada lama di Indonesia. Berkat pelacakan dan investigasi epidemiologi yang rendah, kemungkinan besar varian Delta Plus sudah menjadi varian corona yang dominan di Jambi dan Mamuju.

"Satu hal yang perlu dipahami bahwa di tengah keterbatasan genomik kita, di tengah keterbatasan studi laboratorium kita, di tengah keterbatasan investigasi epidemiologi kita, kemudian kita menemukan Delta Plus, itu tandanya sebetulnya besar kemungkinan varian predominant strain di lokasi ditemukan," kata Dicky.

"Ketika dia menjadi predominant strain, karena keterbatasan tadi, dia akan mudah dideteksi. Artinya, dia sudah lama ada di komunitas. Karena, perlu waktu sebelum dia predominant," sambungnya.

Informasi munculnya virus corona varian Delta Plus di Indonesia pertama kali disampaikan peneliti dari Universitas Gadjah Mada bernama Sahal Sabilil Muttaqin di Twitter.

Dalam sebuah kicauan pada Senin (26/7), Sahal mengatakan bahwa temuan varian Delta Plus di Indonesia sudah dilaporkan ke GISAID pada akhir pekan lalu. Dalam thread-nya, dia mengatakan bahwa varian Delta Plus telah ditemukan di Jambi pada April 2021 dan di Mamuju pada Februari 2021.

Kendati demikian, Kepala Dinas Kesehatan Sulawesi Barat, drg Asran Masdy, menyatakan pihaknya hingga saat ini belum menerima laporan terkait kasus Delta Plus di Mamuju.

"Sejauh ini belum ada yang dilaporkan ke kami, dinda," tulis Asran saat dikonfirmasi Sulbar Kini, Rabu (28/7/2021).

"Itu info yang tidak jelas dan tidak ada juga info yang resmi yang sampai ke kami mengenai hal itu. Tetapi kita tetap harus waspada dan ketatkan disiplin protokol kesehatan," sambungnya.

RSUD Regional Provinsi Sulawesi Barat yang menjadi satu-satunya rumah sakit rujukan pasien COVID-19 di daerah ini. Foto: Dok. Istimewa/SulbarKini

Krisis Oksigen di RSUD Regional Sulbar

Sementara itu, Direktur RSUD Regional Sulbar, dr. Indahwati Nursyamsi, mengakui adanya krisis oksigen di rumah sakit rujukan pasien COVID-19 tersebut. Menurut Indahwati, stok oksigen di RSUD Regional Sulbar kosong sejak Senin (26/7/2021). Sementara tabung oksigen yang dibutuhkan sebanyak 30 per hari.

"Kita dikasih hanya 5 tabung oksigen per dua hari, sementara produksi kita 10 tabung per hari, sementara pasien bertambah terus tiap hari. Rata-rata pasien masuk rumah sakit sekarang gejalanya berat, butuh oksigen yang banyak," jelasnya.

Indahwati meminta masyarakat untuk mematuhi protokol kesehatan. Selain itu, dia berharap Pemprov Sulawesi Barat mengaktifkan tim Satgas COVID-19 dan bekerja sama dengan kabupaten untuk bahu-membahu dalam menangani pandemi COVID-19 di daerah ini.

"Kalau tambah banyak pasien, kolaps rumah sakit. Mau ditampung di mana nantinya pasien," tuturnya.

"Kondisi sekarang kalau tempat tidur masih memadai, masalahnya adalah oksigen kekurangan, rata-rata yang masuk sesak (napas). Kadang ada pasien yang membutuhkan 3 sampai 6 tabung oksigen dalam satu hari, sementara persediannya sangat terbatas," pungkasnya.