Pencarian populer

Kisah Masjid Jami Nurul Muttahidah, Masjid Tertua di Mamuju

Masjid Jami Nurul Muttahidah Mamuju, awalnya hanya berupa surau. Foto: Dok. Sulbar Kini

Sekilas, tak ada yang istimewa dengan Masjid Jami Nurul Muttahidah yang terletak di bilangan Jalan Yos Sudarso, Mamuju ini. Bangunan masjid yang kini lebih modern tak menandakan bahwa masjid tersebut merupakan salah satu masjid tertua di ibu kota Provinsi Sulawesi Barat.

Namun jika merunut sejarah, masjid ini punya kisah perjalanan yang panjang dalam perkembangan Islam di Mamuju.

Abdul Muin Saleh (79 tahun), tokoh masyarakat setempat dan mantan imam masjid, menuturkan, Masjid Jami Nurul Muttahidah sudah dibangun sejak 1928 yang digagas oleh tokoh masyarakat Kayulangka, Binanga, dan Kasiwa.

Saat itu, mereka berembuk untuk membangun sebuah masjid pertama di Mamuju. Oleh KH Muhammad Thahir atau yang lebih dikenal Imam Lapeo, ulama penyebar agama Islam di wilayah Sulawesi Barat, mereka disarankan membangun masjid tersebut di Kayulangka.

"Imam Lapeo menunjuk lokasi Kayulangka yang berada tepat di pinggir Pantai Mamuju sebagai lokasi untuk membangun masjid. Awalnya hanya berupa surau berukuran 10x10 meter dengan dinding papan dan bambu serta atap dari anyaman rumbia yang kemudian mengalami renovasi dari waktu ke waktu," kata Abdul Muin, Rabu (15/5).

Bangunan lama Masjid Jami Nurul Muttahidah sekitar tahun 1960-an. Foto: Istimewa

Tahun 1950, Masjid Jami Nurul Muttahidah juga menjadi saksi bisu aksi pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) Sulawesi Selatan yang dipimpin oleh Kahar Muzakkar. Saat itu, gerilyawan DI/TII menyerbu Kayulangka dan melakukan aksi pembakaran satu kampung.

"Semua rumah warga habis terbakar dan hanya Masjid Jami Nurul Muttahidah ini yang tidak terbakar," ujarnya.

Bagian interior lantai 2 Masjid Jami Nurul Muttahidah. Foto: Dok. Sulbar Kini

Kini, masjid yang berada tepat di kawasan Anjungan Pantai Manakarra Mamuju ini lebih modern dengan dua lantai. Lantai pertama digunakan untuk salat berjamaah sehari-hari, sedangkan lantai dua khusus digunakan untuk salat Jumat.

"Masjid sudah beberapa kali mengalami renovasi. Tidak ada bagian dari bangunan awal yang dipertahankan karena memang awalnya hanya berupa surau dengan dinding papan dan atap rumbia. Kalau lokasinya, dari awal tidak pernah berpindah karena ini merupakan permintaan dari Imam Lapeo," ujar Abdul Muin.

[Sapriadi]

Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Jumat,24/05/2019
Imsak04:26
Subuh04:36
Magrib17:47
Isya19:00
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.23