Kumparan Logo
Konten Media Partner

Kisah Pemuda Mamasa di Jepang: Berkuliah hingga Kenalkan Budaya

SULBAR KINIverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Nataniel Putra Maranatha merasa bangga bisa memperkenalkan pakaian adat Mamasa di Jepang. Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Nataniel Putra Maranatha merasa bangga bisa memperkenalkan pakaian adat Mamasa di Jepang. Foto: Dok. Istimewa

Nataniel Putra Maranatha (18 tahun), pelajar asal Desa Bombonglambe, Kecamatan Mamasa, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, yang saat ini menempuh pendidikan di Jepang, merasa bangga bisa memperkenalkan budaya Mamasa dengan cara memakai pakaian adat daerahnya dalam kegiatan-kegiatan di kampusnya.

Nataniel saat ini sedang mengikuti program pre-college selama 2 tahun di MT Fuji Japanese Language School di Fuji, Jepang, untuk memperlancar kecakapannya dalam berbahasa Jepang.

"Saya sangat bangga mengenakan pakaian adat Mamasa di antara pelajar-pelajar Jepang. Jadi, di samping belajar saya juga memperkenalkan budaya Mamasa," katanya, Minggu (7/7).

Sedianya, alumni SMP Frater Mamasa ini akan mengambil kuliah jurusan teknik mesin dan bakal tinggal di Jepang sekitar 6 tahun. Nataniel adalah seorang pemuda yang mandiri. Buktinya, dirinya berkuliah ke Jepang dengan biayanya sendiri.

Terlebih, selain berkuliah dari pukul 13.00 sampai 17.00 waktu Jepang, dirinya juga mengambil kesempatan kerja part time selama 6 jam setiap hari, selepas pulang dari kampus.

Nataniel saat ini mengikuti program pre-college selama 2 tahun di MT Fuji Japanese Language School. Foto: Dok. Istimewa

"Saya biaya sendiri, berusaha mandiri. Setelah sampai di Jepang, saya memilih bekerja part time sepulang dari sekolah sehingga tidak terlalu membebani orang tua," ujarnya.

Kenapa Nataniel senekat itu? Ia merasa harus menuntut ilmu ke Jepang, karena sadar pada masa yang akan datang, persaingan di berbagai bidang akan semakin ketat. Menurutnya, anak-anak Mamasa, termasuk dirinya, juga harus mempersiapkan diri dengan sebaik mungkin agar mampu bersaing secara global.

"Saya hanya bermodal Bahasa Inggris dan Bahasa Jepang serta semangat, dan ternyata saya bisa menuntut ilmu dsini tanpa membebani orang tua di kampung," ujarnya. (leo/sapriadi)