Kumparan Logo
Konten Media Partner

Kisah Tarimin, Kayuh Sepeda Berkilo-kilo Meter demi Jual Sapu Lidi Buatan Istri

SULBAR KINIverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kakek Tarimin (80), memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dengan berjualan sapu lidi buatan istrinya. Foto: Awal Dion/SulbarKini
zoom-in-whitePerbesar
Kakek Tarimin (80), memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dengan berjualan sapu lidi buatan istrinya. Foto: Awal Dion/SulbarKini

Namanya Tarimin, warga Desa Sidoraharjo, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan (Sulsel). Usianya kini memasuki 80 tahun. Kendati demikian, di usia renta tersebut kakek Tarimin masih semangat mencari nafkah dengan berjualan sapu lidi.

Sehari-hari, Tarimin mengayuh sepedanya berpuluh-puluh kilometer demi menjual sapu lidi buah tangan keuletan istrinya. Satu ikat sapu lidi dijualnya Rp 10 ribu.

Jika ada pembeli yang menawar, dia menjualnya seharga Rp 5 ribu. Dari hasil penjualan sapu lidi tersebut, Tarimin gunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari bersama istrinya.

"Uangnya untuk beli beras dan ikan untuk dimakan sama istri di rumah," kata Tarimin saat berbincang dengan reporter SulbarKini di Luwu Utara, Rabu (2/2/2022).

Tarimin bersama reporter SulbarKini, Awal Dion Saputra.

Dia mengaku sudah tahunan memilih berjualan sapu lidi sejak tenaganya tak mampu lagi untuk bertani. Meski memiliki empat orang anak yang sudah berkeluarga, Tarimin dan istrinya enggan ikut dengan anaknya. Keduanya memilih hidup seadanya.

"Saya tidak mau ikut anak saya, nanti merepotkan. Laku tidak laku saya tetap jualan," ucap dia.

Kesetiaan dan kasih sayang kepada istrinya pun tidak luntur meski di usia senja. Saat ditawari makanan, Tarimin meminta dibungkuskan karena mengingat istrinya di rumah.

Tarimin juga sedikit bercerita seputar masa kecilnya pada masa pendudukan Jepang. Kala itu, Tarimin mengaku duduk di bangku kelas 3 Sekolah Rakyat (setingkat SD saat ini).

Bagi dia, masa pendudukan Jepang di Indonesia merupakan masa-masa sulit. Kehidupan serba susah hingga keselamatan jiwa yang sering terancam akibat masa perang.

"Dulu kalau zaman saya sekolah, anak kelas 3 (SD) besar-besar. Kalau sekarang kecil-kecil," kenangnya.