Kumparan Logo
Konten Media Partner

Masjid Kuno Salabose, Jejak Awal Islam di Majene

SULBAR KINIverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Masjid Kuno Syech Abdul Mannan di Lingkungan Salabose, Kecamatan Banggae, Kabupaten Majene, salah satu masjid purbakala di Indonesia. Foto: Dok. Sulbar Kini
zoom-in-whitePerbesar
Masjid Kuno Syech Abdul Mannan di Lingkungan Salabose, Kecamatan Banggae, Kabupaten Majene, salah satu masjid purbakala di Indonesia. Foto: Dok. Sulbar Kini

Masjid Kuno Syech Abdul Mannan Salabose masih berdiri kokoh di tengah-tengah permukiman warga di Lingkungan Salabose, Kelurahan Pangali-ali, Kecamatan Banggae, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat. Masjid yang kini berusia 400 tahun itu menjadi salah satu saksi penyebaran Islam di Kerajaan Banggae pada awal abad ke-16.

"Islam diperkirakan sudah masuk di Majene pada awal abad ke-16 yang disebarkan oleh Syech Abdul Mannan, seorang ulama Persia yang sebelumnya menyebarkan agam Islam di Pulau Jawa," kata imam Masjid Syech Abdul Mannan Salabose, Muhammad Gaus, kepada Sulbar Kini, Kamis (25/6).

"Selanjutnya, menurut Lontara Banggae, Islam kemudian menjadi agama resmi kerajaan di masa raja ketiga Banggae, I Moro Daeng ta Masigi, pada tahun 1608," sambungnya.

Menurut Gaus, kedatangan Syech Abdul Mannan ke Banggae pada awal abad ke-16 ada dua versi. Ada yang menyebut Syech Abdul Mannan datang sendiri berlayar ke Banggae yang saat itu merupakan salah satu pelabuhan yang ramai oleh aktivitas pedagang dari berbagai penjuru Nusantara.

Masjid Syech Abdul Mannan Salabose sudah ratusan kali mengalami renovasi namun tetap mempertahankan beberapa bagian yang menjadi model awal masjid kuno tersebut. Foto: Dok. Sulbar Kini

Namun, ada versi lain yang menyebut Syech Abdul Mannan datang ke Banggae bersama I Moro Daengta Masigi dari Pulau Jawa.

"Versi lain menyebutkan I Moro sebelum menjadi raja Banggae sempat berlayar ke Pulau Jawa untuk memperdalam ajaran Islam. Sekembalinya dari Jawa, I Moro kemudian mengajak serta Syech Abdul Mannan bersama rombongan lainnya untuk datang ke Banggae dan bersama-sama menyebarkan agama Islam," ungkap Gaus.

"Selain itu, I Moro meyakini keberadaan Syech Abdul Mannan akan bisa meluluhkan hati ayahnya, Daeng ta I Milanto, yang saat itu merupakan raja Banggae kedua untuk memeluk agama Islam," imbuhnya.

Sesampainya di Salabose, yang saat itu menjadi pusat Kerajaan Banggae, Gaus menjelaskan kehadiran Syech Abdul Mannan tidak serta-merta diterima begitu saja oleh keluarga kerajaan yang saat itu masih menganut kepercayaan animisme.

Raja Banggae ke-2, Daeng ta I Milanto, lalu memberikan tantangan ke Syech Abdul Mannan untuk mencabut keris yang merupakan pusaka kerajaan dari sarungnya. Keris tersebut hanya bisa dicabut oleh keluarga kerajaan.

"Syech Abdul Mannan menerima tantangan tersebut. Atas keyakinan dan kelebihan yang dimilikinya, ia bisa mencabut keris tersebut dari sarungnya yang membuat keluarga kerajaan bersedia memeluk Islam. I Moro Daeng ta Masigi yang kemudian menjadi Raja Banggae ketiga kemudian mengumumkan Islam sebagai agama kerajaan," ujar Gaus.

Muhammad Gaus, Imam Masjid Syech Abdul Mannan Salabose. Foto: Dok. Sulbar Kini

Syech Abdul Mannan kemudian membangun masjid di Salabose dari bahan batu gunung yang dipahat dan disusun sedemikian rupa, lalu direkatkan dengan campuran gula merah dan putih telur. Meski sudah ratusan kali dilakukan renovasi, Gaus menyebut beberapa bagian masjid itu masih mempertahankan bentuk aslinya.

"Di antaranya pilar di dalam masjid yang berupa empat tiang itu merupakan model awal masjid, bentuk atap, serta mihrab yang agak menonjol di bagian barat masjid itu masih asli," tutur Gaus yang mengaku masih mempunyai garis keturunan dari Syech Abdul Mannan.

Salah seorang peziarah mengunjungi makam Syech Abdul Mannan. Foto: Dok. Sulbar Kini

Selain masjid kuno, jejak lain Syech Abdul Mannan di Salabose adalah makamnya yang terletak sekitar 200 meter dari masjid yang juga sudah beberapa kali direnovasi. Di tempat tersebut, Syech Abdul Mannan dimakamkan bersama keturunannya.

Alquran berusia 400 tahun peninggalan Syech Abdul Mannan. Foto: Dok. Dinas Pariwisata Majene

Peninggalan lain adalah Alquran berusia 400 tahun yang ditulis tangan oleh Syech Abdul Mannan dengan menggunakan getah pohon yang saat ini disimpan oleh Muhammad Gaus selaku imam desa.

"Alquran peninggalan beliau ada saya simpan yang menjadi amanah sebagai puang kadi (imam masjid), sedangkan keris dan bendera Macang yang menjadi panji Kerajaan Banggae disimpan sama pappuangan (sosok yang dituakan) di Salabose. Ketiga benda peninggalan beliau baru akan dikeluarkan pada peringatan Maulid Nabi Muhammad," ujar Gaus.

(Sapriadi)