News
·
26 November 2019 13:26

Melihat Perjalanan Gerakan Mamuju Mengajar Hingga ke Desa Terpencil

Konten ini diproduksi oleh SULBAR KINI
Melihat Perjalanan Gerakan Mamuju Mengajar Hingga ke Desa Terpencil (515328)
Gerakan Mamuju Mengajar melakukan kegiatan Sharing is Caring di Desa Bela dan Kopeang, Kecamatan Tapalang, Kabupaten Mamuju. Foto: Dok. Zulkifli
Berbagai cara dilakukan komunitas-komunitas sosial guna meningkatkan kualitas sumber daya manusia . Salah satunya adalah dengan memberikan pendidikan tambahan langsung di wilayah yang sulit terjangkau.
ADVERTISEMENT
Seperti yang dilakukan komunitas Gerakan Mamuju Mengajar melalui program Sharing is Caring (SIC) yang memang sudah menjadi agenda tahunannya.
"Mengabdi Berbakti Abadi" menjadi motto dari Komunitas Mamuju Mengajar dalam kegiatan SIC ini.
Selama 3 hari, yakni 22 November hingga 24 November 2019, komunitas Mamuju mengajar melakukan kegiatan Sharing Is Caring di Desa Bela dan Kopeang, Kecamatan Tapalang, Kabupaten Mamuju.
Dua desa ini merupakan desa yang sulit diakses dengan kendaraan pada umumnya. Untuk itu, Mamuju Mengajar juga berkolaborasi dengan komunitas Indonesian Off-Road Federation (IOF) Pengurus Cabang (Pengcab) Mamuju, Komunitas MJF Polman dan Matrex komunitas motor trail.
"Perjalanan menuju dua desa yang jaraknya hanya sekitar 30 kilometer dari jalan Trans Sulawesi itu ditempuh seharian. Para relawan dan navigator terpaksa naik turun mobil menarik winch untuk dikaitkan di pohon besar atau ke mobil yang lebih dulu tembus melewati beberapa jalur yang terbilang ekstrem," kata Zulkifli, salah seorang anggota relawan Mamuju Mengajar, Selasa (26/11).
ADVERTISEMENT
"Beberapa mobil yang membawa relawan itu bahkan sempat mengalami kerusakan sehingga mengalami keterlambatan sampai di lokasi tujuan," tambahnya.
Melihat Perjalanan Gerakan Mamuju Mengajar Hingga ke Desa Terpencil (515329)
Pemeriksaan kesehatan gratis bagi warga. Foto: Dok. Zulkifli
Selama tiga hari, kata dia, tim Mamuju Mengajar melakukan sejumlah kegiatan seperti mengajar di sekolah, pemeriksaan kesehatan gratis, tebar buku Nusantara, nonton bareng film inspirasi, hingga kegiatan bakti sosial yang dilakukan IOF Peduli.
"Seluruh masyarakat desa dan para siswa begitu antusias menyambut kedatangan relawan. Selama kegiatan berlangsung, mereka memadati lapangan SD Inpres Bela di Kopeang yang menjadi pusat kegiatan," jelas Zul.
Irfan, pemuda Desa Kopeang, mengaku senang dengan adanya kegiatan yang digelar Gerakan Mamuju Mengajar di desanya. Menurutnya, SIC ini sangat membantu dalam memberikan motivasi kepada para siswa untuk tetap semangat belajar guna menggapai cita-cita yang diimpikan.
ADVERTISEMENT
"Pemeriksaan kesehatan gratis menjadi kesempatan besar bagi para orang tua di kampung kami untuk berobat. Selama ini mereka susah mendapatkan perawatan medis karena kondisi jalan yang tidak memadai dan tenaga medis yang sangat kurang di sini. Orang-orang tua kami yang sudah tidak mampu lagi berobat ke Tapalang bisa berobat gratis di sini," kata Irfan.
Dari data yang dihimpun tim Gerakan Mamuju Mengajar, sebanyak 161 warga Desa Kopeang melakukan pemeriksaan kesehatan dengan rincian 141 pemeriksaan umum, sembilan orang ibu hamil, 11 orang KB (Pasang Implan dua orang, suntikan enam orang, dan pil tiga orang).
"Sangat terbantu dengan kegiatan ini sebab tak perlu lagi ke Tapalang untuk pasang implan. Kalau ke Tapalang biaya lagi, ojek ke sana saja Rp 100 ribu," kata Andriani, salah seorang pasien KB.
Melihat Perjalanan Gerakan Mamuju Mengajar Hingga ke Desa Terpencil (515330)
Akses jalan ke Desa Bela dan Kopeang termasuk ekstrem dan hanya bisa dilalui mobil off-road dan motor trail. Foto: Dok. Zulkifli
Dokpol dr. Rocky Fernando Suarno mengatakan Biddokkes Polda Sulbar mengirim satu dokter, satu perawat dan dua Polwan dalam kegiatan tersebut. Dua Polwan ini ditugaskan mengajar dan mengedukasi para siswa tentang bahaya narkoba.
ADVERTISEMENT
Menurutnya, permasalahan kesehatan yang banyak dialami di desa yang berbatasan dengan Kabupaten Mamasa ini kebanyakan menderita hipertensi dan nyeri punggung.
"Rata-rata masyarakat bertani, banyak angkat beban berat jadi kebanyakan sakit pinggang. Saya diberitahu masyarakat tadi kalau bisa sering ke sini karena kurangnya orang kesehatan yang masuk ke sini," tandasnya.