Mengunjungi 3 Masjid di Sulbar yang Pembangunannya Diprakarsai Imam Lapeo
ยทwaktu baca 5 menit

KH Muhammad Thahir atau yang lebih dikenal dengan Imam Lapeo merupakan sosok ulama yang termasyhur di tanah Mandar. Imam Lapeo lahir di Pambusuang pada tahun 1839 dan giat menyebarkan syiar Islam di masa penjajahan Belanda dan pendudukan Jepang hingga wafat pada tahun 1952.
Selain menjadi imam pertama di masjid yang didirikannya di Desa Lapeo, Kecamatan Campalagian, Polewali Mandar, jejak dakwah Imam Lapeo juga tersebar di beberapa daerah di Sulawesi Barat.
Semasa hidupnya, Imam Lapeo diyakini memprakarsai pembangunan sedikitnya 17 masjid yang tersebar di pesisir Sulawesi Barat saat ini.
Berikut 3 masjid di Sulbar yang pembangunannya diprakarsai Imam Lapeo semasa hidupnya.
1. Masjid Nurut Taubah Imam Lapeo
Masjid Nurut Taubah berada di Desa Lapeo, Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat. Lokasinya yang berada di ruas jalur Trans Sulawesi Barat membuat masjid ini tak pernah sepi dari pengunjung dan peziarah dari berbagai daerah untuk singgah menunaikan salat maupun mengunjungi makam Imam Lapeo yang berada di kompleks masjid.
Dalilul Falihin, salah seorang cucu Imam Lapeo mengisahkan, sebelum ke Lapeo dan mendirikan Masjid Nurut Taubah, KH Muhammad Thahir mengunjungi berbagai tempat untuk menimba ilmu agama, mulai dari Parepare, Madura, Jawa, Sumatera, Istanbul (Turki), hingga Mekkah.
Meskipun sudah beberapa kali mengalami renovasi, lanjut Dalilul, ada beberapa bagian masjid yang masih dipertahankan yang merupakan peninggalan Imam Lapeo. Di antaranya mihrab, menara masjid, hingga pintu gerbang masjid.
"Mihrab masih mempertahankan bentuk awalnya, begitu pula menara masjid yang modelnya terinspirasi dengan menara masjid di Istanbul. Dinamakan Masjid Nurut Taubah yang berarti cahaya taubat, karena semasa hidupnya Imam Lapeo banyak menyadarkan orang-orang dari perbuatan maksiat, seperti sabung ayam dan minum-minum (miras)," jelas Dalilul.
Zaenal, pengurus masjid Imam Lapeo yang masih merupakan menantu dari cucu Imam Lapeo, menambahkan, awalnya Imam Lapeo membangun masjid di Laliko pada tahun 1902. Untuk melanjutkan penyebaran agama Islam dan mengajak penduduk bertaubat, Imam Lapeo kemudian berpindah ke Lapeo pada tahun 1911 dan menyebarkan Islam secara luas.
2. Masjid Jami Nurul Muttahidah Mamuju
Masjid Jami Nurul Muttahidah terletak di bilangan Jalan Yos Sudarso, Mamuju. Bangunan masjid yang kini lebih modern tak menandakan bahwa masjid tersebut merupakan salah satu masjid tertua di ibu kota Provinsi Sulawesi Barat.
Namun jika merunut sejarah, masjid ini punya kisah perjalanan yang panjang dalam perkembangan Islam di Mamuju.
Abdul Muin Saleh, tokoh masyarakat setempat dan mantan imam masjid, menuturkan, Masjid Jami Nurul Muttahidah sudah dibangun sejak 1928 yang digagas oleh tokoh masyarakat Kayulangka, Binanga, dan Kasiwa.
Saat itu, mereka berembuk untuk membangun sebuah masjid pertama di Mamuju. Oleh KH Muhammad Thahir atau yang lebih dikenal Imam Lapeo, ulama penyebar agama Islam di wilayah Sulawesi Barat, mereka disarankan membangun masjid tersebut di Kayulangka.
"Imam Lapeo menunjuk lokasi Kayulangka yang berada tepat di pinggir Pantai Mamuju sebagai lokasi untuk membangun masjid. Awalnya hanya berupa surau berukuran 10x10 meter dengan dinding papan dan bambu serta atap dari anyaman rumbia yang kemudian mengalami renovasi dari waktu ke waktu," kata Abdul Muin, Rabu (15/5).
Tahun 1950, Masjid Jami Nurul Muttahidah juga menjadi saksi bisu aksi pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) Sulawesi Selatan yang dipimpin oleh Kahar Muzakkar. Saat itu, gerilyawan DI/TII menyerbu Kayulangka dan melakukan aksi pembakaran satu kampung.
"Semua rumah warga habis terbakar dan hanya Masjid Jami Nurul Muttahidah ini yang tidak terbakar," ujarnya.
"Masjid sudah beberapa kali mengalami renovasi. Tidak ada bagian dari bangunan awal yang dipertahankan karena memang awalnya hanya berupa surau dengan dinding papan dan atap rumbia. Kalau lokasinya, dari awal tidak pernah berpindah karena ini merupakan permintaan dari Imam Lapeo," tandas Abdul Muin.
3. Masjid Tumbu di Mamuju Tengah
Selain Masjid Nurut Taubah di Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar, tempat ia dimakamkan, Imam Lapeo juga turut memprakarsai pembangunan Masjid Tua Baiturrahman yang ada di Desa Tumbu, Kecamatan Topoyo, Kabupaten Mamuju Tengah.
Masjid tersebut diperkirakan berdiri sekitar tahun 1946 saat Imam Lapeo menyebarkan agama Islam di wilayah Mamuju. Yang menarik, berdasarkan cerita warga setempat, masjid berukuran 6x4 meter ini awalnya dibangun tanpa menggunakan semen.
"Menurut kisahnya, masjid ini dibangun tidak menggunakan semen. Hanya menggunakan bahan putih telur, kapur, pasir, dan sabuk kelapa sebagai bahan dasar pembangunan masjid," ungkap Rasyid, warga Desa Tumbu sekaligus pendiri Taman Baca Tammalanre, beberapa waktu lalu.
Masjid tersebut sudah mengalami beberapa kali renovasi. Renovasi pertama dilakukan pada tahun 2007 yang meliputi perbaikan kubah dan atap. Renovasi kedua dilakukan pada tahun 2017 berupa pembangunan pagar.
"Tahun 2019, kembali dilakukan perbaikan untuk memperindah masjid yang merupakan peninggalan sejarah ini," jelasnya.
Keunikan masjid yang oleh warga setempat lebih dikenal dengan nama Masjid Tua Tumbu ini juga diungkapkan oleh Zahriah dalam bukunya 'Jejak Wali Nusantara: Kisah Kewalian Imam Lapeo di Masyarakat Mandar'.
Dikisahkan, meskipun masjid itu dibangun tepat di tepi pantai, namun air laut tidak pernah memasuki bagian dalam masjid. Gelombang pasang hanya bergerak naik di sekitar masjid.
Hanya saja, kata Rasyid, masjid bersejarah itu tak lagi digunakan sebagai tempat beribadah. Warga desa setempat membangun masjid yang berukuran lebih besar tepat di samping Masjid Tua Tumbu.
"Sekarang hanya digunakan sebagai taman belajar Al-Quran dan rencananya masjid ini menjadi destinasi wisata religi dan museum naskah," tandasnya.
