Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 ยฉ PT Dynamo Media Network
Version 1.96.0
Konten Media Partner
Mosakung: Cara Warga Mamuju Membuat Sagu dari Pohon Rumbia
13 Oktober 2019 14:37 WIB
Diperbarui 6 Agustus 2020 13:17 WIB
ADVERTISEMENT
Sebelum tersentuh kehidupan modern, leluhur warga Mamuju di masa lalu sudah mahir mengolah tanaman di sekitarnya menjadi bahan makanan. Salah satunya proses pembuatan sagu dari isi batang pohon rumbia yang dikenal dengan sebutan mosakung.
ADVERTISEMENT
Ada pula yang menyebutnya dengan morombia, yang merupakan proses keseluruhan dalam pembuatan sagu. Proses pembuatan sagu dengan cara mosakung ini sudah dilakukan sejak ratusan tahun lalu dan masih dipertahankan sebagian warga Mamuju hingga saat ini.
Arman Husain, pengamat sejarah Mamuju, mengatakan mosakung merupakan proses awal pembuatan sagu yang diolah dari batang pohon rumbia yang nantinya menjadi letto' atau sari tepung sagu yang menjadi bahan baku dalam membuat berbagai makanan khas Mamuju dan Mandar.
"Pohon rumbia apabila sudah mencapai umur, maka sudah bisa diolah menjadi sagu. Mulai dari proses penebangan, isi pohon rumbia dibajak yang kemudian diperas dengan cara diinjak-injak sampai hancur," kata Arman, Minggu (13/10).
Kegiatan mosakung ini, kata dia, biasanya dilakukan di dekat sumber mata air atau sungai karena proses pemerasan sari sagu yang dikenal dengan sebutan molanda' itu memerlukan banyak air.
ADVERTISEMENT
"Prosesnya unik. Batang pohon rumbia dibabat hingga hancur, lalu isi batang pohon yang sudah hancur ini kemudian diperas hingga menjadi sagu," ujar Arman.
"Setelah semua proses selesai kemudian sari yang diperas tadi disimpan di wadah yang telah didesain khusus yang dibuat dari daun pohon sagu itu sendiri dan untuk membuatnya butuh orang yang ahli dalam menganyam agar sari sagu yang masih cair tidak tumpah," tambahnya.
Aktivitas mosakung ini masih dilakukan beberapa warga Mamuju, khususnya mereka yang bermukim di wilayah pedalaman, termasuk di wilayah Kecamatan Bonehau, Kalumpang, dan Tapalang. Sagu hasil produksi petani sagu ini kemudian mereka jual ke kota.
"Hasil akhir dari sari sagu yang mengendap inilah yang disebut letto' yang menjadi bahan baku olahan berbagai macam makanan khas Mamuju dan Mandar, salah satunya jepa atau kalumpang rombia," jelas Arman.
ADVERTISEMENT
(Sapriadi)