Usai Diguncang Gempa 6,2 Magnitudo, Masjid Nurul Huda di Majene Akan Dirobohkan

MAJENE - Gempa berkekuatan 6,2 magnitudo yang mengguncang Mamuju dan Majene pada Jumat (15/1) dini hari memporak-porandakan sejumlah bangunan yang ada di daerah ini, termasuk rumah ibadah.
Salah satunya, Masjid Nurul Huda Banua di Kecamatan Malunda, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat. Masjid yang berada di jalur Mamuju-Majene ini akan dirobohkan mengingat kondisinya yang retak-retak dan sudah tidak layak untuk ditempati beribadah.
"Gempa berkekuatan 6,2 SR yang memporak-porandakan wilayah Kecamatan Malunda membuat kerusakan besar terhadap masjid ini. Kondisinya kini tak layak untuk ditempati beribadah karena membahayakan keselamatan para jemaah," ungkap Ketua Pembangunan Masjid Nurul Huda, Yudi Sudirman, Rabu (27/1).
Menurut Yudi, kesepakatan untuk merobohkan dan membangun ulang masjid tersebut dari para jemaah yang ada di Lingkungan Banua, Lottang, Puccaowa, Sekka, dan Galung.
Dia menjelaskan, masjid ini awalnya hanya sebuah musala yang dibangun pada akhir tahun 1970-an. Selanjutnya, tahun 1980-an diberi nama musala Nurul Huda oleh Haji Djazuli yang merupakan salah seorang pendiri DDI Tsanawiyah di Kecamatan Malunda.
"Pada saat itu, musala hanya ditempati untuk beribadah lima waktu, sementara untuk salat Jumat, masyarakat Banua melaksanakannya di Masjid Darul Muttahida yang merupakan masjid raya di ibu kota Kecamatan Malunda," jelas Yudi.
Masjid Nurul Huda baru diresmikan pada 23 September 1994 dan sejak saat itu masyarakat Lingkungan Banua sudah mulai melaksanakan ibadah salat Jumat di masjid ini.
"Masjid Nurul Huda Banua ini pernah mewakili Kabupaten Majene dalam lomba rumah ibadah tingkat Provinsi Sulawesi Selatan (sebelum pemekaran Sulawesi Barat) pada tahun 1995," terang Yudi.
Namun karena kondisinya yang retak-retak dan sudah dianggap tidak layak untuk ditempati beribadah, Masjid Nurul Huda Banua itu akan dirobohkan dan dibangun ulang.
