Deteksi Cagar Budaya Arkeologi Menggunakan Ground Penetrating Radar (GPR)

seorang pencinta arsitektur kolonial, sejarah dan arsitektur baik klasik maupun modern. seorang heritage enthusiastic. saat ini bekerja sebagai ASN di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Riset dan Teknologi.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari sulisandayaningrum tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

GPR merupakan suatu alat yang digunakan untuk proses deteksi benda–benda yang terkubur di bawah tanah dengan tingkat kedalaman tertentu, dengan menggunakan gelombang radio. Dalam sistem GPR, peralatan yang digunakan terdiri dari unit kontrol, antena pengirim dan antena penerima, penyimpanan data yang sesuai dan peralatan display. Aplikasi GPR dapat digunakan untuk survey benda-benda yang terpendam di tempat yang dangkal, tempat yang dalam, dan pemeriksaan beton. Data yang dikumpulkan dari GPR telah digunakan sebagai bukti dalam arkeologi, intelijen militer, dan investigasi kriminal. Teknik ini telah digunakan selama beberapa dekade untuk menemukan utilitas bawah tanah seperti pipa, kabel dan saluran gas alam. Ini juga telah digunakan dalam arkeologi, hingga beberapa kasus seperti penelitian intelijen militer dan investigasi kriminal.
GPR sebagai metode baru untuk cagar budaya
Akhir-akhir ini kita sering mendengar berita tentang adanya penemuan candi yang terkubur ratusan tahun yang lalu di berbagai wilayah di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di antaranya adalah penemuan candi di Situs Brongsongan, Kecamatan Borobudur, Jawa Tengah. Ketika penduduk sedang akan membuat lubang galian sampah, warga justru menemukan struktur candi yang terbuat dari batu bata.
Demikian juga dengan Struktur Temuan Baru (STB) di Kompleks Percandian Dieng, Kabupaten Banjarnegara. Ketika pemilik lahan akan menggali lubang septic-tank, warga justru menemukan struktur candi yang terbuat dari batu andesit.
Setelah ditemukan laporan penemuan, akan dilakukan penggalian arkeologi atau yang lazim disebut ekskavasi. Hal ini dimaksudkan untuk menyingkap bagian dalam candi yang ditemukan.
Namun ekskavasi ini memerlukan personal dan biaya yang tidak sedikit, dan belum tentu hasilnya sesuai dengan yang diharapkan.
Di antara banyaknya metode geofisika yang berkembang, dua metode yang paling menarik dan efektif untuk studi arkeologi adalah geomagnetic dan Ground Penetrating Radar (GPR). Kedua metode ini mampu melokalisasi dan mengidentifikasi struktur arkeologi pada kedalaman tertentu dengan tingkat ketajaman data atau resolusi yang baik.
Keuntungan penggunaan GPR adalah relatif mudah dilakukan dan tidak merusak, antena tidak harus bersentuhan secara langsung dengan permukaan tanah, dengan cara demikian dapat mempermudah dan mempercepat pengukuran (Sulistyaningsih dkk, 2020).
Sistem kerja GPR
GPR menggunakan gelombang radio, biasanya dalam range 10 MHz sampai 1GHz . Seperti pada sistem radar pada umumnya, sistem GPR terdiri atas pengirim (transmiter), 2 yaitu antena yang terhubung ke sumber pulsa, dan bagian penerima (receiver), yaitu antena yang terhubung ke unit pengolahan sinyal dan citra. Adapun dalam menentukan tipe antena yang digunakan, sinyal yang ditransmisikan dan metode pengolahan sinyal tergantung pada beberapa hal, yaitu: jenis objek yang akan dideteksi, kedalaman objek, dan karakteristik elektrik medium tanah.
Alat ini memiliki kemampuan untuk melihat benda di bawah permukaan tanah hingga kedalaman efektif 10 m. Dengan alat ini diharapkan penemuan stuktur candi cagar budaya yang terpendam dapat lebih mudah diketahui sebelum dilakukan penggalian, sehingga lebih tepat sasaran.
Namun demikian alat ini memiliki keterbatasan, yaitu lokasi capaiannya yang spesifik. Seringkali, kedalaman penetrasi dibatasi oleh adanya mineralogi tanah liat atau pori-pori cairan dengan konduktivitas tinggi yang dapat menghambat pencapaian resolusi dan kedalaman penetrasi yang tinggi. Selain itu kondisi material tanah yang berbeda-beda pada tiap lokasi menyebabkan resolusi dan kedalaman penetrasi menjadi berubah-ubah pula sehingga untuk mendapatkan resolusi dan kedalaman penetrasi yang konstan mau tidak mau harus mengubah frekuensi serta durasi pulsa.
Hasil dari penggunaan GPR ini adalah gambar 2 D atau 3 D yang menunjukkan adanya anomali di bawah permukaan tanah.
Beberapa penelitian arkeologi telah menggunakan GPR, dan hasilnya lebih efektif dan akurat dibandingkan dengan metode geofisika lainnya, seperti geolistrik dan geomagnet.
GPR juga dapat digabungkan dengan drone, sehingga dapat digunakan untuk mendeteksi kebocoran pipa gas dengan aman, tanpa harus mendekati permukaan tanah. Penggunaan drone GPR dinilai lebih memiliki keunggulan dibanding cara konvensional. Untuk melakukan survey, cara konvensional GPR ialah dengan dipasang pada alat tertentu untuk kemudian didorong oleh manusia atau ditarik dengan kendaraan. Cara tersebut akan membutuhkan waktu yang lebih lama dan tenaga manusia yang lebih banyak.
Akhirnya, proses penggalian dalam penelitian arkeologi dapat terbantu dengan GPR. Terlebih lagi, GPR memiliki metode yang cepat, terjangkau dan tidak bersifat merusak yang dapat mengoptimalkan kegiatan eksplorasi arkeologi.
