Konten dari Pengguna

Mengenal Behavioral Economics dalam Kacamata Ekonomi Syariah

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sultan Muholafatul Akbar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sultan Muholafatul Akbar/ Mahasiswa Ekonomi Syariah Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA)
zoom-in-whitePerbesar
Sultan Muholafatul Akbar/ Mahasiswa Ekonomi Syariah Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA)

Sebelum kita mengenal lebih jauh dengan behavioral economics, pada dasarnya istilah Behavioral Economics berasal dari dua kata:

Behavioral artinya perilaku,

Economics artinya ilmu ekonomi.

Secara sederhana, behavioral economics berarti ilmu ekonomi yang mempelajari perilaku manusia dalam mengambil keputusan ekonomi.

Istilah ini mulai dikenal pada tahun 1950–1970-an, ketika banyak ekonom mulai menyadari bahwa teori ekonomi klasik yang menganggap manusia selalu rasional, tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan.

Adapun Tokoh-tokoh penting yang melahirkan dan mengembangkan bidang ini antara lain:

Herbert Simon (1955) memperkenalkan konsep bounded rationality atau rasionalitas terbatas, bahwa manusia tidak selalu bisa berpikir logis karena keterbatasan informasi dan waktu.

Daniel Kahneman dan Amos Tversky (1970–1980an) lewat penelitian psikologi mereka, menunjukkan bahwa manusia sering membuat keputusan ekonomi secara emosional dan bias, bukan logis semata.

Richard H. Thaler (1980–2000an) ekonom yang menggabungkan teori psikologi ke dalam ekonomi dan menjelaskan bagaimana perilaku “aneh” manusia bisa dipahami secara ilmiah. Ia kemudian mendapat Nobel Ekonomi tahun 2017 atas kontribusinya dalam bidang behavioral economics.

Jadi, bisa dikatakan behavioral economics lahir dari persilangan antara ilmu ekonomi dan psikologi, yaitu dari keinginan untuk memahami manusia apa adanya, bukan hanya sebagai makhluk pencari keuntungan, tetapi juga sebagai makhluk sosial dan emosional.

Dengan demikian, bagi sebagian orang mungkin masih asing dengan istilah behavioral economics, Lalu Apa sebenarnya Behavioral Economics itu? 

Secara mudahnya, Behavioral Economics adalah ilmu yang mempelajari bagaimana pikiran, emosi, dan kebiasaan manusia memengaruhi keputusan ekonomi yang mereka buat.

Jikalau ekonomi klasik menganggap manusia itu:

“Selalu rasional, selalu mencari keuntungan terbesar.”

Maka behavioral economics berkata:

“Tidak sesederhana itu manusia kadang lupa, salah hitung, emosional, ikut-ikutan, bahkan meniru orang lain dalam mengambil keputusan ekonomi.

Agar mudah dipahami mari kita ambil contoh sederhananya yang kerap kali sering ada dilapangan dan di kehidupan kita sehari-hari tanpa kita sadari

Diskon di toko:

Kadang orang membeli barang bukan karena butuh, tapi karena ada tulisan “Diskon 50%” dan tulisan “Buy 1 Get 1”. Secara logika ekonomi, itu irasional, tapi perilaku ini sering terjadi karena dorongan emosional (fear of missing out atau rasa takut kehilangan kesempatan).

Nah, semua perilaku seperti ini tidak bisa dijelaskan dengan ekonomi klasik, tapi bisa dijelaskan oleh behavioral economics.

Dengan begitu dari segi aspek antara teori ekonomi klasik dan teori behavioral economics tentu mempunyai beberapa perbedaan diantara nya:

Dari segi aspek tentang pandangan  manusia, ekonomi klasik berpandangan bahwa manusia selalu berpikir rasional dan logis dari segi hitung hitungan dan pengambilan keputusan sedangkan behavioral economics, manusia cenderung memiliki sisi emosional dalam pengambilan keputusan ekonomi sosial dan mempunyai nilai serta tergantung pada kebiasaannya, sehingga dengan begitu bisa mempengaruhi pengambilan keputusan ekonomi 

Selanjutnya, Dari aspek tujuan ekonomi, ekonomi klasik lebih cenderung mementingkan dengan bagaimana bisa memperoleh keuntungan yang maksimal ketika pengambilan keputusan ekonomi tersebut diambil, sedangkan behavioral economics, dalam pengambilan keputusan ekonomi, lebih mengedepankan antara keseimbangan dan keuntungan serta kepuasan emosional.

Selanjutnya, dari segi aspek dan faktor yang mempengaruhi, teori ekonomi klasik lebih mengedepankan soal data dan logika ketika suatu pengambilan keputusan ekonomi akan di ambil, sedangkan behavioral economics, lebih mengedepankan emosionalnya, persepsi, kebiasaan, dan nilai sosial ketua hendak mengambil suatu keputusan ekonomi yang akan di ambil, sehingga dengan begitu seringkali manusia tidak bisa rasional dalam mengambil suatu keputusan ekonomi.

Sementara tokoh terkenal dan terkemuka dari ke 2 teori ini, yakni, teori ekonomi klasik dan teori behavioral economics ialah 

Adam Smith, milton Friedman yang terkenal dengan teori ekonomi klasik nya, sementara itu tokoh terkenal dan terkemuka terkait dengan teori behavioral economics ialah, Herbert Simon, Daniel kahneman, Richard thaler.

Dengan melihat dari beberapa perbedaan di atas antar teori ekonomi klasik dan behavioral economics, tentu behavioral economics mengingatkan kita bahwa ekonomi bukan sekadar soal angka dan untung-rugi, tapi juga soal manusia dan perilakunya ,dan di sinilah nanti ia bisa dikaitkan dengan ekonomi syariah, yang juga menekankan aspek nilai, etika, dan spiritualitas.

Selama bertahun-tahun, teori ekonomi konvensional memandang bahwa manusia sebagai homo economicus, makhluk rasional yang selalu membuat keputusan terbaik demi memaksimalkan keuntungan pribadi. Namun, dalam kenyataannya, manusia tidak sesederhana itu. Emosi, nilai, kepercayaan, bahkan lingkungan sosial, memainkan peran besar dalam setiap keputusan ekonomi yang diambil. Dari sinilah lahir Behavioral Economics, cabang ilmu ekonomi yang berusaha memahami perilaku manusia secara lebih realistis dan manusiawi.

Sebagai seorang mahasiswa ekonomi syariah, tentu saya memahami behavioral economics bukan sekadar soal teori ekonomi. Ini adalah upaya membaca realitas manusia secara utuh: bagaimana nilai, moral, dan spiritualitas membentuk cara kita berpikir, bersikap, dan bertindak di tengah sistem ekonomi yang kerap kehilangan arah etik.

Tentu dengan Behavioral Economics kita harus belajar dan dituntut harus paham Antara Rasionalitas dan Emosionalitas Manusia, agar supaya setiap kali pengambilan keputusan ekonomi yang kita ambil tidak menjadi salah langkah, karena setiap kali keputusan (ekonomi) yang kita ambil itu bisa menentukan dari pada sebuah hasil akhirnya di masa yang akan datang.

Behavioral Economics muncul sebagai kritik terhadap ekonomi neoklasik yang menuhankan rasionalitas. Tokoh-tokoh seperti Daniel Kahneman dan Richard Thaler menunjukkan bahwa manusia sering membuat keputusan yang irasional, dipengaruhi oleh bias, kebiasaan, dan emosi.

Inilah yang membuat behavioral economics menarik, ia menempatkan manusia sebagai subjek ekonomi yang kompleks, bukan sekadar mesin perhitungan laba.

Lalu jika kita melihat dari kacamata dan Perspektif Ekonomi Syariah, Etika dan Spiritualitas dalam Keputusan Ekonomi tentu itu menjadi dasar utama ekonomi syariah dalam setiap kali pengambilan keputusan ekonomi, dan Jika behavioral economics menyoroti sisi psikologis dan sosial manusia dalam ekonomi, maka jika dalam perspektif ekonomi syariah menambahkan satu dimensi penting, spiritualitas dan etika. Dalam Islam, perilaku ekonomi tidak bisa dilepaskan dari nilai moral dan keimanan. Setiap Keputusan, mulai dari mencari nafkah, berinvestasi, hingga berbagi harta adalah bagian dari ibadah.

Ekonomi syariah mengakui bahwa manusia bukan sekadar makhluk ekonomi, tetapi juga makhluk moral dan spiritual. Dengan demikian, “perilaku ekonomi” tidak hanya ditentukan oleh keuntungan, melainkan juga oleh keberkahan, keadilan, dan kemaslahatan.

Di titik inilah, behavioral economics dan ekonomi syariah bertemu, keduanya sama-sama menolak pandangan kering dan mekanistik tentang manusia. Bedanya, ekonomi syariah menuntun perilaku itu ke arah nilai-nilai ilahiah dan sosial, bukan hanya ke arah irrational choice, tetapi ethical choice.