Bimbingan Perkawinan KUA dan Realitas Menjalani Pernikahan

Peneliti isu bimbingan perkawinan dan kesiapan menikah. Memadukan perspektif hukum Islam dan psikologi dalam kajian keluarga Muslim kontemporer. S1 Bimbingan Konseling Islam UAI dan S2 Studi Islam UMJ
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari sultan ariq tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bimbingan perkawinan di KUA sering dianggap sekadar formalitas sebelum akad. Padahal, di balik satu hari bimbingan, tersimpan bekal penting untuk kehidupan yang akan dijalani seumur hidup. Banyak orang merasa siap menikah karena sudah saling mencintai dan merasa cocok. Namun, tidak sedikit yang baru menyadari beratnya pernikahan setelah akad diucapkan.
Ketika rutinitas dimulai, persoalan ekonomi, perbedaan cara berpikir, dan komunikasi yang tidak sehat perlahan muncul. Di titik inilah pertanyaan penting perlu diajukan: apakah siap menikah benar-benar berarti siap hidup bersama?
Pernikahan dalam Islam: Bukan Sekadar Sah, Tapi Bertanggung Jawab
Dalam Islam, pernikahan disebut sebagai mitsāqan ghalīẓan, perjanjian yang kuat dan penuh tanggung jawab. Istilah ini menegaskan bahwa pernikahan bukan sekadar status sah secara agama dan negara, tetapi komitmen untuk saling menjaga, bertumbuh, dan bertahan dalam berbagai keadaan.
Kesiapan menikah tidak cukup diukur dari usia, pekerjaan, atau kelengkapan dokumen. Ia menuntut kesiapan mental, kedewasaan emosional, serta kesadaran untuk memikul tanggung jawab sebagai pasangan hidup. Tanpa kesiapan ini, pernikahan mudah goyah meskipun diawali dengan niat baik.
Kesiapan Menikah yang Sering Terlewatkan
Banyak calon pengantin sibuk menyiapkan pesta, busana, dan dokumentasi, tetapi lupa menyiapkan diri. Akibatnya, ketika konflik rumah tangga datang, pasangan sering kali bingung harus bersikap seperti apa. Masalah kecil membesar karena tidak dikelola dengan komunikasi yang sehat.
Fenomena ini tercermin dari tingginya angka perceraian, terutama di wilayah perkotaan. Sebagian besar bukan karena tidak saling mencintai, melainkan karena belum siap menghadapi realitas pernikahan yang menuntut kompromi, kesabaran, dan kerja sama.
Kesiapan menikah sejatinya adalah kemampuan memahami peran, mengelola emosi, berkomunikasi secara dewasa, dan bertanggung jawab atas pilihan hidup yang diambil.
Menikah Itu Proses, Bukan Garis Akhir
Kesiapan menikah bukan sesuatu yang selesai sebelum akad. Ia adalah proses yang terus dibangun sepanjang pernikahan. Bimbingan perkawinan KUA berperan sebagai langkah awal agar pasangan memulai pernikahan dengan kesadaran, bukan sekadar keberanian.
Dengan kesiapan yang lebih matang, pernikahan tidak hanya berpotensi menghadirkan ketenangan, tetapi juga menjadi ruang tumbuh bersama.
Karena pernikahan jarang runtuh karena kurang cinta, tetapi sering rapuh karena kurang kesiapan untuk bertahan dan bertumbuh bersama.
