Amerika Serikat-China Memanas, Mana Pihak Terbaik bagi Indonesia?

Mahasiswa Hubungan Internasional, Universitas Islam Indonesia
Konten dari Pengguna
3 November 2021 14:09 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Sulthan Haidar Dziban tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pic source: https://pixabay.com

Rivalitas China-AS 3 Tahun Belakang (2018-2021)

ADVERTISEMENT
China-AS memang selama tiga tahun belakangan tidak memiliki sejarah yang baik, kedua negara yang sama-sama memiliki power yang besar memang sulit untuk disatukan terlebih paham dan bagaimana mereka melihat dunia berbeda. Tepatnya pada 22 Januari 2018 awal AS-China bersitegang dimulai ketika pihak Amerika memutuskan untuk menaikkan bea impor panel surya dan mesin cuci, Hal tersebut mengawali perang dagang (trade war) kedua negara ini. Bahkan setelah 3 bulan kenaikan bea impor tersebut, Amerika kembali menaikkan tarif bea impor namun untuk komoditas yang berbeda, kali ini komoditas baja yang menjadi sasaran AS.
ADVERTISEMENT
Melihat tindakan seperti ini pihak China tidak tinggal diam, China membalas dengan menaikkan kembali tarif produk daging babi dan skrap aluminium. Kedua negara terus menerus saling menaikkan harga impor di beberapa komoditas, yang membuat memanasnya hubungan kedua negara ini.
Pada tahun 2019 hingga tahun 2020 hubungan kedua negara ini masih memanas, walau yang saat itu Amerika Serikat sudah berganti kepresidenan dari Donald trump menjadi Joe Biden, diprediksi kedua negara masih mengalami perang dagang yang berkelanjutan. Hingga kabar terbaru dan terpanas beredar ketika AS memutuskan untuk membentuk kerja sama tiga negara--bersama Australia dan juga Inggris--pada bulan September lalu, dan kerja sama tiga negara ini dikenal dengan nama AUKUS.

AUKUS

AUKUS sendiri merupakan sebuah pakta keamanan yang merupakan realisasi dari kerja sama tiga negara (AS, Inggris, Australia). Bentuk kerja sama keamanan tiga negara ini membuat heboh negara lainnya termasuk China, China melihat bahwa kerja sama ini akan mempengaruhi bagaimana politik negaranya. Dilansir dari beberapa sumber AUKUS sendiri dibuat dengan maksud untuk menyaingi kekuatan China yang sudah meluas bahkan sampai ke kawasan Indo-pasifik, pihak Amerika tidak ingin pengulangan sejarah terjadi, kejadian Pearl Harbour silam ketika Jepang memporak-porandakan pelabuhan tersebut menjadi pelajaran yang berarti bagi negara ini.
ADVERTISEMENT
AUKUS tidak hanya berdampak terhadap China saja, Prancis pun turut merasakan dampaknya, Australia yang mulanya bekerja sama dengan Prancis dalam kesepakatan kapal selam bertenaga nuklir harus membatalkan kesepakatan tersebut dan lebih memilih bekerja sama dengan Amerika Serikat dan Inggris, melihat kondisi ini Prancis merasa dikhianati dan bersikap dingin terhadap ketiga negara tersebut.
Kerja sama ini menjadikan hubungan Amerika dan China kembali bersitegang, negara-negara yang berada di kawasan Asia tenggara saat ini sedang berada di antara dua kekuatan besar ini. Indonesia, Malaysia, Singapura, dan negara ASEAN lainnya berperan penting terhadap konflik ini, mereka dianggap dapat menghentikan konflik ini atau bahkan mereka juga yang akan merasakan dampak langsung dari konflik ini.

Posisi Indonesia dan Tindakan Indonesia

Menurut geopolitiknya, Indonesia dan negara ASEAN lainnya berada di antara kedua kekuatan terbesar ini, yang di mana dapat dilihat sebagai hal positif ataupun sebaliknya. Indonesia dapat menjadi penengah dari kasus ini, dan sisi positifnya adalah Indonesia dan negara ASEAN lainnya akan diapresiasi dunia sebagai peace maker. Namun, lain cerita jika yang terjadi adalah hal negatif di mana hal terburuk dari kasus ini adalah pecahnya konflik di antara dua kekuatan ini. Yang pertama merasakan dampaknya adalah Indonesia dan negara ASEAN lainnya, mengingat lokasi yang berada di antara kedua negara adidaya. Lantas langkah apa saja yang sudah negara Indonesia lakukan?
ADVERTISEMENT
Jubir Kemenlu, Teuku Faizasyah, meminta kepada pemerintah Australia untuk lebih mengedepankan dialog, Indonesia juga sangat prihatin atas keberlanjutan perlombaan senjata dan proyeksi militer di kawasan tersebut. Dari pernyataan jubir Kemenlu ini dapat disimpulkan bahwa Indonesia benar-benar menolak adanya kapal selam bertenaga nuklir yang menjadi inti persoalan kasus AUKUS ini, Indonesia juga ingin agar kawasan Asia tenggara tetap dalam keadaan yang damai.
Sayangnya negara-negara ASEAN belum menyatukan suara mereka, terdapat perbedaan pandangan di antara anggota ASEAN, yang menjadikan kompleksnya masalah AUKUS ini, namun walau demikian Indonesia dan Malaysia sepakat melihat bahwa hal ini dapat menyebabkan potensi terjadinya perlombaan senjata nuklir di kawasan.

Jalan Terbaik bagi Indonesia

Penulis melihat bahwa banyak sekali jalan keluar yang bisa dilakukan oleh Indonesia, Indonesia bisa saja berpihak kepada salah satu power demi menjaga kepentingan dalam negeri negaranya, Indonesia yang kerap kali bekerja sama militer dengan Australia dan Amerika Serikat bisa saja melihat AUKUS ini sebagai kerja sama yang baik, dan Indonesia sebagaimana mungkin harus ikut andil di dalamnya demi menjaga kelangsungan kepentingan dalam negerinya.
ADVERTISEMENT
Indonesia juga bisa saja memihak kepada China dan menganggap AUKUS ini sebagai kerja sama yang terlarang karena kerja sama ini mengedepankan nuklir, dan bisa membahayakan kelangsungan hidup masyarakat luas. Terlebih hubungan Indonesia-China beberapa tahun belakangan cukup baik terutama dibidang ekonomi.
Namun jika Indonesia memilih untuk memihak kepada salah satu power maka Indonesia harus siap dikecam oleh negara lawan dan sekutunya, Indonesia juga besar kemungkinan akan dikecam oleh beberapa negara ASEAN lainnya karena lebih mementingkan negara nya saja sampai melupakan keamanan kawasan.
Dan alternatif lainnya Indonesia dapat memilih untuk meningkatkan keamanan kawasan, namun jika Indonesia memilih jalan ini maka Indonesia dan negara ASEAN lainnya harus siap menyatukan suara mereka, dan tidak mendukung kerja sama kapal selam nuklir AUKUS.
ADVERTISEMENT
Indonesia yang menggunakan politik luar negeri bebas aktif sudah sepatutnya tidak memihak kepada salah satu kekuatan, namun penulis terlalu naif jika mengatakan Indonesia tidak pernah berpihak kepada satu blok/sisi, dalam implementasinya Indonesia kerap kali berpihak kepada satu sisi demi merealisasikan kebutuhan dalam negerinya, penulis paham bahwa Politik luar negeri bertujuan untuk membawa kepentingan dalam negeri keluar. Penulis hanya berharap Indonesia dapat segera mencari jalan keluar, dan Indonesia lebih memperjelas apa tindakan yang mereka pilih.