Resensi Film Free Fall (2021), Ketika Tragedi 9/11 Menjadi Peluang Bisnis

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Sultan Sasangka Jati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

September selalu membawa kita kembali pada ingatan kelam tragedi 11 September 2001 atau yang kita kenal sebagai 9/11. Dua puluh lima tahun berlalu, dan industri perfilman masih tak pernah kelupaan membedah hari bersejarah tersebut. Namun, alih-alih menyajikan film dokumenter kolosal, sutradara Emmanuel Tenenbaum memilih sudut pandang yang berbeda. Lewat resensi film Free Fall, kita diajak mengintip sebuah ruang kantor di London di mana sebuah tragedi besar justru dilihat sebagai ladang emas bagi para pencari cuan. Review film pendek Free Fall (2021) berdurasi 19 menit ini sukses menggabungkan drama, suspense, serta kritik tajam terhadap keserakahan kapitalisme.
Cerita bermula dari Tom, seorang trader muda di bank London yang kariernya sedang di ujung tanduk akibat kinerja buruk. Keajaiban—atau yang ironisnya dianggap anugerah oleh Tom—datang saat berita pesawat menabrak World Trade Center mulai mengudara. Di saat dunia dilanda kepanikan, insting bisnis Tom langsung menyala. Ia menyimpulkan ini serangan teror dan melihat peluang emas untuk mengambil posisi perdagangan melawan arus pasar. Di tengah krisis global, film pendek Free Fall ini memperlihatkan bagaimana Tom berambisi meraup keuntungan fantastis, sebelum akhirnya karma menampar mereka yang kehilangan empati.
Hal paling menarik dari film Free Fall (2021) adalah bagaimana karya ini mengekspos sifat dasar manusia yang sering disangkal: kecenderungan memikirkan diri sendiri di atas penderitaan orang lain. Bagi para trader di ruangan itu, nyawa ribuan korban 9/11 direduksi sekadar menjadi angka hijau di layar monitor. Ketika orang lain kehilangan keluarga, mereka justru bersorak gempita karena portofolio sahamnya naik. Resensi film pendek Free Fall ini membuktikan bahwa keserakahan tidak selalu hadir dalam wujud kejahatan megah, melainkan ketika musibah orang lain dianggap sebagai batu loncatan karier.
Perjalanan emosi Tom digambarkan dengan apik. Kita sempat bersimpati karena ia berada di bawah tekanan toksik perusahaan. Namun, titik balik terjadi ketika Tom menyadari salah satu korban di menara tersebut adalah temannya sendiri, Freddy. Seketika itu pula, angka statistik berubah menjadi nyawa manusia, memaksa Tom berhadapan dengan kenyataan pahit bahwa ambisinya dibayar dengan darah orang yang ia kenal.
Sebagai karya berdurasi singkat, Free Fall (2021) punya formula kuat. Tanpa efek visual mewah, ketegangan murni lahir dari dialog tajam, dering telepon, perubahan pasar, dan keputusan singkat Tom. Selain itu, film ini cerdas menyelipkan petunjuk kecil (foreshadowing) soal Freddy yang berbuah pukulan emosional di ujung cerita. Kendati durasinya singkat dan membuat perkembangan karakter terasa cepat, pilihan sutradara tidak memperluas latar belakang 9/11 justru mempertegas fokus cerita sebagai studi psikologi trader di tengah krisis.
Secara keseluruhan, resensi film Free Fall ini menyimpulkan bahwa mahakarya pendek tersebut sukses memaksa penonton merenung. Pertanyaan terbesar saat credits bergulir bukanlah apa yang dilakukan Tom, melainkan sebuah refleksi: jika berada di posisi yang sama, apakah kita masih peduli pada kemanusiaan, atau ikut tergiur mencari keuntungan di atas air mata orang lain?
