Kisah Dibalik Buku Roberto Gustinov

Mom 3 orang Anak Founder Komunitas Sahabat Blogger Blogger Lifestyle, Kuliner, Liputan Reportase Buzzer
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Sumiyati Sapriasih tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Roberto Gustinov terlahir di tahun 1995, dia adalah anak ke dua dari keluarga pasangan Gouw Sari Mulya Dewi dan Senghoat di kota pangkal perjuangan daerah lumbang padi – Karawang. Tau ga sih … moms, ketika Roberto masih di dalam kandungan, dokter memperkirakan bahwa dia akan terlahir sebagai perempuan, tentunya ibu Roberto sangat antusias dengan menantikan kehadiran putri kecilnya, karena anak pertama dari keluarga Senghoat adalah seorang laki-laki yang bernama Virdy Varlucy Watdi.
Sebagai ibu yang mengetahui bahwa anak ke dua akan lahir seorang perempuan, dia mempersiapkan berbagai keperluan hingga nama cantik untuk sang buah hatinya. Namun allah berkehendak lain, bukan wajah cantik yang muncul melainkan sosok aneh dengan hidung pesek dan kepala yang besar berkelamin laki-laki. Melihat penampilan seorang bayi laki-laki yang aneh, ibunya sempat kecewa. Namun harus berbesar hati bahwa “Semua anak adalah titipan allah yang harus dijaga”
Tulang rusuk jadi tulang punggung
Kenapa demikian ? karena ibu adalah sebagai tulang rusuk yang mana seharusnya ditanggung oleh tulang punggung seorang suami, namun tidak demikian dengan mamanya Robertus. Mama adalah sosok wanita yang tegas, pekerja keras, idealis dan perfeksionis. Begitu juga dengan Senghoat atau dipanggil dengan keseharian bp. Watdi, dia adalah seorang pebisnis showroom mobil yang sukses. Namun di tahun 2021 kanker paru-paru telah menggerogoti otak sehingga menghembuskan nafas terakhirnya.
Dari sinilah Roberto Gustinov melanjutkan pendidikannya di SMA Kemurnian 2, dimana di sokolah ini diajarkan Kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK). Kegiatan LDK identik dengan aktivitas yang membangun jiwa kepemimpinan seseorang melalui outbon atau permainan-permainan yang membangun jiwa leadership. Dengan jiwa kepemimpinan yang diajarkan di sekolah, akhirnya Roberto Gustinov mendirikan BNET yang di dukung dan di support oleh om Nilwan.
Di tengan perjalanan BNET yang masih belum genap satu tahun, mulai muncul kendala yaitu partner bisnis om Nilwan terpaksa harus berpisah dengan BNET karena suatu masalah. Sejak itulah saya menjadi seorang solo fighter yang harus berjuang lebih keras lagi. Yang namanya perjuangan tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan, seperti yang saya alami bahwa perangkat internet BNET mengalmi kerusakan karena tersambar petir. Alhasil, semua costomer complain dan banyak sekali omelan, bahkan cacian hingga kata-kata kasar yang keluar dari mulut customer, namun saya masih diberi kesabaran untuk tidak pernah patah arang.
Atas bantuan pemilik harco manga dua yang bernama Edisen Ng, akhirnya saya dipercayai untuk membawa sebuah perangkat yang nilainya puluhan juta rupiah untuk kebutuhan BNET. Selanjutnya saya tidak mungkin berdiri sendiri untuk BNET ini, akhirnya saya merecruit tiga orang karyawan yaitu dua orang sebagai teknisi dan satu orang sebagai admin. Dengan keberadaan tim membuat BNET semakin membaik.
Langkah selanjutnya, karena BNET sudah ada tim, jadi saya bisa mengembangkan diri dengan mengikuti sertifikasi MTCNA (mikroTik certified Network Associate) dan mendapatkan hasil yang sangat memuaskan. Di tahun 2013 saya mendapatkan 3 sertifikat yaitu :
1. MTCRE (MikroTik Certified Routing Enginer)
2. MTCINE (MikroTik Certified Internetworking Engineer)
3. CCNA (Cisco Certified Network Associate)
Dengan mengantongi 3 sertifikat tersebut ahkirnya saya terdaftar sebagai konsultasi resmi MikroTik yang berlaku secara internasional.
Setelah lulus dari SMA Kemunian 2 Jakarta, saya melanjutkan kuliah di BINUS, berkat bantuan dosen bp. Jaka Hartanto, Roberto Gustinov dengan mudah mengurus izin ISP di kominfo dengan syarat BNET harus diresmikan ke dalam sebuah PT, dan akhirnya BNET mendapatkan izin ISP dengan nama PT Wahana Internet Nusantara.
Ekosistem Digital
Ketersediaan infrastruktur merupakan sebuah kebutuhan yang mutlak, dimana BNET berkomitmen dan fokus untuk memperluas jangkauan internet agar mencapai no blind spot area di seluruh Karawang dengan harapan yang dapat mendukung kegiatan masyarakat dalam memanfaatkan teknologi dan digitalisasi. Sehingga BNET bisa memberikan akses pendidikan yang layak dan mampu menumbuhkan ekonomi yang berdampak pada kehidupan yang lebih baikuntuk masyarat ke pelosok desa di Karawang, itulah perjalanan warna kehidupan dari seorang Roberto Gustinov
Salam Blogger
Sumiyati Sapriasih
Wa no. 085779065707
Email : sumiyatisapriasih@yahoo.com
