Kisah Neneng, Gajah Berusia 55 Tahun yang Mati di Medan Zoo

MEDAN | Neneng namanya. Ia merupakan salah satu gajah sumatera (Elephas Maximus Sumatrensis) yang ada di Kebun Binatang Medan Zoo, di Jalan Simalingkar B. Usianya sudah 55 tahun.
Neneng mati pada Sabtu (25/1) sekira pukul 10.20 WIB. Gajah tersebut sudah tidak mau makan sejak 3 - 4 hari yang lalu.
Bahkan 2 hari yang lalu gajah Neneng sama sekali tidak mau makan dan harus diinfus. Selama ini gajah Neneng menjadi salah satu daya tarik pengunjung taman margasatwa tersebut.
"Mulutnya terus menutup. Sebelumnya sempat milih-milih. Dua hari ini sama sekali tak mau. akhirnya diinfus. Obat anti biotik itu kan dimasukkan melalui infus," kata Direktur Perusahaan Daerah (PD) Pembangunan, Putrama Al Khairy.
Ia menegaskan, sumber makanan untuk gajah tersebut tidak mengalami kekurangan pakan. Bahkan lebih dari cukup.
Pasalnya, selain mendapatkan jatah makan sesuai standar dari dokter hewan di Kebun Binatang Medan, gajah Neneng juga tidak dikurung dan dibiarkan makan di areal Kebun Binatang.
"Gajah ini tidak dikurung, dia main-main di 30 hektare areal kita ini. Di situ dia bisa dapat tambahan makanan," ujarnya.
Gajah Neneng, katanya, didatangkan dari Aceh. Sementara Siti dari Taman Hutan Raya (Tahura) sejak 15 tahun yang lalu. Selain itu, ada warga yang sudah menganggap gajah Neneng dan Siti sebagai anaknya, sehingga secara rutin memberikan hadiah makanan berupa buah dan juga jamu, yang tetap dalam pengawasan pihak Kebun Binatang.
Dirinya membantah bahwa gajah di Kebun Binatang Medan ini memang menjadi tunggangan pengunjung khususnya pada saat hari libur. Di luar hari libur, kedua gajah lebih banyak bermain di areal kebun.
"Untuk tunggangan itu kan pas hari libur gini aja. Selebihnya kan banyak main-main di 30 hektare tempat kita ini," ungkapnya.
Dia menambahkan, teman-temannya di Kebun Binatang Medan yang menangani gajah Neneng sejak semalam sebelumnya sudah berupaya keras hingga tidak tidur dan membuat tenda meskipun gajinya tidak seberapa.
"Teman-teman sudah berusaha keras. Tidak tidur itu dari semalam, buat tenda. Gajinya tidak seberapa. Hanya 2 jutaan. Artinya kita tidak ini, tapi hantamannya luar biasa. Sebenarnya ini milik kita bersama, bagaimana ini bisa maju dan bagus lah kalau semua care," katanya.
Dokter hewan di Kebun Binatang Medan, drh. Sucitrawan mengatakan, gajah Neneng mati diindikasikan karena faktor usia.
"Pertama faktor usia lah yang kita tahu, kita kan baru bongkar (nekropsi) ini," ucapnya.
Sebelumnya tim dokter sudah melakukan perawatan terhadap Neneng. "Gejala awalnya, Neneng gak mau makan, agak lemah, kita rawat kita infus terus kasih vitamin dan antibiotik," jelasnya.
Akan 'Minta' Sepasang Gajah ke BBKSDA Sumut
Dengan matinya gajah Neneng, saat ini hanya tinggal satu koleksi gajah betina di Kebun Binatang Medan bernama Siti (51).
Kedua gajah tersebut sejak dulu tidak pernah ada perkawinan dengan gajah lain sehingga tidak ada perkembangbiakan.
"Bagaimana berkembang biak gajah-gajah ini, betina semua. Neneng dan Siti itu betina dan tidak pernah (dikawinkan dengan gajah jantan lain)," akunya.
"Kita akan buat permohonan gajah. Sepasang lah, dua ekor. secepatnya kita buat surat ke Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA). Sepengetahuan kami banyak gajah. Mahout kita sudah berpengalaman untuk menjinakkan," tambahnya.
Saat tim dokter hewan di Kebun Binatang Medan melakukan nekropsi atau bedah bangkai gajah Neneng, dua orang yang diketahui merupakan perwakilan dari BBKSDA Sumut tiba di lokasi turut menyaksikan proses tersebut. Namun demikian, belum sempat dilakukan wawancara. | SUMUTNEWS
