Kumparan Logo
Konten Media Partner

Relawan Hari Peduli Sampah Nasional di Medan Justru Membakar Sampah

SUMUT NEWSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Seorang relawan menyapu dan membakar sampah yang dibersihkannya di dekat Danau Laguna di Kelurahan Besar, Kecamatan Medan Labuhan, Kamis (21/2/2019). Foto: SumutNews.com
zoom-in-whitePerbesar
Seorang relawan menyapu dan membakar sampah yang dibersihkannya di dekat Danau Laguna di Kelurahan Besar, Kecamatan Medan Labuhan, Kamis (21/2/2019). Foto: SumutNews.com

MEDAN, SumutNews.com | Ratusan orang berbagai pakaian seragam tampak sibuk menyapu, mengorek sampah di parit, dan memotong rumput di Jalan Tangguk Raya, Blok XII, tepatnya di depan kolam buatan, Kelurahan Besar, Kecamatan Medan Labuhan, Medan, Sumatera Utara, Kamis (21/2).

Sebagian sampah diangkut ke truk sampah, sebagian lagi ada yang dibakar. Asap tebal mengepul dan beberapa orang yang ikut dalam gotong royong dalam Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional di Danau Martubung terus menambah tumpukan sampah yang sedang terbakar.

Salah seorang relawan dari Rumah Zakat, Ikhsan, bersama rekan-rekannya memang diundang untuk meramaikan kegiatan. Mahasiswa di sebuah perguruan tinggi ini mengatakan, membakar sampah tentunya akan menimbulkan asap yang sama artinya dengan membuat polusi udara.

"Tapi ya gimana lah, kita hanya disuruh membersihkan dan membakarnya. Saya tahu ini menimbulkan polusi tapi tak banyak. Sebagian lagi dibawa ke truk sampah," ujarnya.

‌Hal senada dikatakan Suwito, relawan yang ikut dalam kegiatan tersebut. Ia mengaku membakarnya adalah salah satu cara yang efektif untuk menangani sampah. Dia berdalih daripada sampah berserakan dan menimbulkan penyakit atau masuk ke danau.

Apalagi, kata dia, sudah bertahun-tahun danau dipenuhi enceng gondok yang berpotensi menjadi sumber penyakit, misalnya nyamuk demam berdarah dan lain sebagainya. "Daripada berserak, kan lebih bagus dibakar saja," katanya.

Namun Asril, relawan lainnya, mengaku membakar sampah tidak menyelesaikan masalah. Dirinya memilih untuk memilah sampah yang bisa dimanfaatkan lagi dan yang tidak. Menurutnya, sampah jika dibiarkan di darat akan menjadi sampah tak berguna, tapi dibakar pun akan membuat polusi udara.

"Sama saja mengotori, yang satu di darat atau air, yang satu di udara, itu bukan solusi. Tapi intinya petugas sampah harus rajin mengambil setiap hari. Kalau tidak ya tak mungkin masyarakat membiarkan rumahnya bau sampah," ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sumatera Utara, Dana Prima Tarigan, mengatakan harus ada pembagian peran dalam penanganan sampah. Pemerintah berperan sebagai pemimpin yang bisa memastikan bahwa masyarakat dapat memilah sampah yang bisa didaur ulang dan yang tidak.

"Sehingga ada pengurangan jumlah sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Misalnya dengan bank sampah. Tapi bank sampah ini harus dilabdasi kesadaran akan kesehatan, tidak uang semata," katanya.

Wakil Wali Kota Medan, Akhyar Nasution, mengatakan pihaknya akan mendistribusikan 300 gerobak sampah kepada masyarakat pada awal Maret. Dia berharap gerobak-gerobah sampah tersebut bisa digunakan untuk menangani sampah yang ada.

"Mari kita ciptakan Medan ini menjadi kota yang bersih dan sehat. Ini dimulai dari diri kita masing-masing," pungkasnya.