Sungai Meluap, 4 Kecamatan di Tebing Tinggi Terendam Banjir

MEDAN | Sebanyak 2.350 kepala keluarga terdampak banjir akibat meluapnya sungai Bahilang dan sungai Padang di Tebing Tinggi, Sumatera Utara.
Sebagian warga harus mengungsi sementara di tempat yang aman. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tebing Tinggi juga masih mendata jumlah masyarakat yang terdampak.
Kepala BPBD Tebing Tinggi, Wahid Sitorus mengatakan, banjir akibat meluapnya dua sungai pada Senin (16/12) dinihari membuat 4 kecamatan, yaitu kecamatan Tebing Tinggi Kota, Padang Hulu, Bajenis, Rambutan terdampak.
"Untuk jumlah korban yang terdampak banjir ada 2.350 kepala keluarga atau 11.361 jiwa," katanya, Senin (16/12).
Ia menjelaskan, angka itu merupakan laporan dari kelurahan yang terdampak banjir hingga pukul 14.00 WIB. Data tersebut masih bersifat sementara.
"Seperti Padang Hilir juga baru-baru ini terdampak. Anggota kita masih mendata dan mendistribusikan logistik makanan siap saji," ujarnya.
Pihaknya sudah turun ke lapangan bersama dengan Sekda Kota Tebing TInggi, Polres Tebing Tinggi, relawan dari Tagana, dan Dinsos Tebing Tinggi.
"Kita juga mendirikan posko dan dapur umum di setiap kelurahan," jelasnya.
Hingga saat ini logistik berupa beras, telur, air mineral masih mencukupi.
"Kita masih monitor, anggota masih di lapangan," cetusnya.
Lurah Bandar Sono, Abdussalam mengatakan, ada 6 lingkungan di wilayahnya yang terdampak banjir, dengan jumlah 570 kepala keluarga atau 1.710 jiwa.
"Langkah pemerintah siapa yang terdampak kita ungsikan. Yang memilih tetap berada di rumah, ya masyarakat lain yang mengantarkan makanannya pasa jam makan," katanya.
Saat ini, katanya, di lokasi posko yang berada di Jalan Pulau Samosir, Kecamatan Padang Hulu sudah tersedia air bersih dari PDAM, bantuan kesehatan dari Dinas Kesehatan dan lainnya.
"Kita sekarang lagi memasak untuk warga yang terdampak. Di lokasi juga ada dari puskesmas yang siaga," ungkapnya.
Seorang warga bernama Nanang (59) mengatakan, banjir akibat luapan Sungai Bahilang sudah terjadi setiap tahun. Namun, banjir kali ini lebih besar dari pada setahun sebelumnya.
"Banjir paling besar terjadi pada 2001. Waktu itu sampai dada tingginya," pungkasnya. | SUMUTNEWS
