Konten dari Pengguna

Masa Depan Pajak di Tangan Gen Z: Kisah Mahasiswa Jadi 'Duta' di Era Digital

sundari

sundari

PNS Kementerian Keuangan

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari sundari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi membayar pajak. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi membayar pajak. Foto: Shutter Stock

Ketika kita berbicara tentang pajak, gambaran yang sering kali muncul adalah formulir yang rumit, antrean yang panjang, kewajiban yang terasa memberatkan, atau urusan yang rumit. Namun, di tengah tantangan kepatuhan dan lanskap ekonomi yang berubah cepat, Direktorat Jenderal Pajak justru melihat sebuah peluang emas pada generasi yang paling fasih dengan dunia digital yaitu Generasi Z atau yang lebih dikenal dengan istilah “Gen Z”.

Alih-alih hanya menagih dan memaksa, mereka memilih untuk merangkul dan mengajak berkolaborasi. Inilah kisah inspiratif bagaimana masa depan kepatuhan pajak sedang dibangun, bukan dari kantor yang kaku, melainkan dari ruang-ruang kelas dan lorong-lorong kampus.

"Pasukan" Renjani: Saat Mahasiswa Jadi Pahlawan Pajak

Di berbagai kampus ternama di Indonesia, DJP memfasilitasi terbentuknya Tax Center di mana hal ini merupakan tanda dari sebuah gerakan positif yang sedang bertumbuh. Ratusan mahasiswa dengan semangat tinggi mendedikasikan waktu mereka untuk menjadi Relawan Pajak untuk Negeri atau yang akrab disapa Renjani.

Contohnya dapat dilihat pada tahun ini: Kanwil DJP Sumut I mengukuhkan 231 mahasiswa, Kanwil DJP Jakarta Selatan II mengukuhkan 116 mahasiswa, Kanwil DJP Jawa Barat III mengukuhkan 551 mahasiswa, , Kanwil DJP Jawa Tengah I mengukuhkan 240 mahasiswa, yang menjadi garda terdepan edukasi pajak.

Tugas mereka tidak main-main. Mereka turun langsung ke masyarakat untuk membantu warga yang kebingungan mengisi SPT tahunan hingga menjadi "penerjemah" bagi sistem administrasi pajak yang baru “Coretax”, yang terkadang masih terasa asing bagi sebagian orang.

Hebatnya lagi, program ini bukan sekadar kegiatan sukarela biasa. Renjani menjadi proyek percontohan yang terintegrasi dengan program nasional Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Mahasiswa bisa magang secara langsung di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) dan partisipasi mereka diakui sebagai kredit akademik.

Sumber: Instagram @pajaksumut2

Ini adalah sebuah simbiosis mutualisme yang cerdas. Mahasiswa mendapatkan pengalaman kerja nyata yang berharga sementara masyarakat mendapatkan bantuan dari rekan sebaya yang lebih mudah dipahami. Sebuah investasi jangka panjang untuk menumbuhkan generasi yang tidak hanya memahami, tetapi juga sadar dan peduli pada pajak.

Saat ini, DJP telah membuka pendaftaran relawan pajak bagi mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di seluruh Indonesia untuk bergabung dalam program Relawan Pajak untuk Negeri (Renjani) tahun 2026. Pendaftaran dibuka sampai dengan 5 Oktober 2025.

Menanam Benih Sadar dan Peduli Sejak Dini Lewat 'Tax Goes To School'

Jika di level universitas ada Renjani, semangat yang sama ditularkan di tingkat sekolah menengah melalui program Tax Goes To School (TGTS) dan Pajak Bertutur. Seperti kegiatan Pajak Bertutur yang telah dilaksanakan serentak di seluruh Indonesia pada 27 Agustus 2025, para ahli pajak hadir secara langsung ke sekolah untuk berdialog dengan para siswa.

Tujuannya sangat fundamental yaitu mengubah narasi tentang pajak. Para siswa diajak untuk melihat pajak bukan lagi sebagai potongan gaji yang menyebalkan, melainkan sebagai urat nadi pendanaan negara (APBN). Selain itu, uang pajak digunakan untuk membangun jalan raya yang mereka lewati dan mendanai sekolah tempat mereka belajar. Sebanyak 20% penerimaan negara, yang sebagian besar dari penerimaan pajak, dialokasikan pada sektor pendidikan dan membiayai layanan publik yang dinikmati keluarga mereka.

Dengan pendekatan yang santai dan interaktif, konsep "kontribusi sebagai warga negara" ditanamkan sejak dini dan bertujuan untuk membangun fondasi kesadaran yang kuat sebelum mereka benar-benar memasuki dunia kerja dan dunia usaha.

Ilustrasi Gen Z. Foto: Chay_Tee/Shutterstock

Investasi untuk Masa Depan Ekonomi Digital

Mengapa Gen Z yang menjadi sasaran dan fokus utama? Jawabannya sederhana: masa depan ada di tangan mereka. Generasi ini memasuki dunia kerja dengan model karier yang sangat berbeda. Mereka adalah para freelancer, content creator, online seller, dan crypto trader di mana profesi tersebut penghasilannya tidak terlacak melalui sistem pemotongan gaji konvensional.

Membangun kesadaran dan kepatuhan sukarela (tax morale) sejak dini menjadi kunci untuk memastikan mereka tetap berkontribusi pada pembangunan di masa depan. Inisiatif yang dilakukan DJP ini adalah sebuah langkah visioner. Ini bukan sekadar program sosialisasi biasa yang ditujukan pada calon-calon wajib pajak, melainkan sebuah investasi pada karakter bangsa.

Dengan melibatkan anak muda sebagai agen perubahan, kita bisa berharap akan lahirnya sebuah generasi baru yang memandang pajak bukan sebagai beban, melainkan sebagai kebanggaan dan bagian dari identitas mereka sebagai Warga Negara Indonesia (WNI) yang bertanggung jawab.