Tradisi Memberi Buah Tangan

Saya adalah seorang guru di SMA Terpadu Al Qudwah. Sebuah sekolah yang beralamat di Jl. Maulana Hasanuddin, Kp. Cempa, Ds. Cilangkap, Kec. Kalanganyar, Kab. Lebak, Banten
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari supadilah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Secara mendadak, saudara kami datang mengunjungi. Rombongan saudara dari Cibinong dan Jogjakarta. Ada dua mobil. Kunjungan itu mendadak, tidak memberi tahu dulu.
Beberapa saudara kerja di bidang kesehatan. Maka, mereka tidak bisa berlama-lama. Bagian yang hampir tidak ada liburnya. Bahkan saat tanggal merah sekalipun.
Rombongan hanya semalam di sini. Mengunjungi keluarga di Banten yang ada tiga rumpun.
Tidak lupa mereka membawa buah tangan. Banyak juga. Ada petai, tapai ketan, bolu, dan kerupuk mentah.
Membawakan buah tangan merupakan budaya yang baik. Kebaikan yang perlu dilestarikan. Perlu dicatat, asal ada uang buat beli buah tangan ya. Jangan memaksakan diri. Kalau keberatan karena tidak ada uang ya jangan memaksakan diri.
Kalau membawakan buah tangan boleh saja. Malah dianjurkan. Namun, kalau meminta buah tangan, ini yang perlu dipertimbangkan. Sebaiknya malah jangan meminta buah tangan.
Khawatir merepotkan yang datang. Sudah jauh-jauh datang, keluar biaya, malah dibebankan dengan buah tangan. Nah, ini yang kurang tepat.
Mungkin pembaca juga pernah mendengar diskursus meminta buah tangan ini. Saya sepakat. Kalau bisa jangan minta buah tangan . Mentalnya jangan peminta-minta. Meskipun hal kecil begini, pasti punya dampak. Khawatir jadi kebiasaan pula.
Lain halnya kalau atas inisiatif membawakan buah tangan . Kalau bisa yang diusahakan. buah tangan tidak harus mahal tidak harus banyak. Yang penting membawakan. Itu sudah cukup.
Buah tangan bisa dikatakan hadiah. Memberikan hadiah itu banyak manfaatnya. Bisa menyambung tali silaturahmi. Juga membuat hubungan semakin erat. Ajaran agama pun menganjurkan agar memberi hadiah. Sekali lagi, hadiah tidak harus mahal atau mewah.
