Kumparan Logo
Arjan de Zeeuw
Arjan de Zeeuw.

Arjan de Zeeuw: Eks Pesepak Bola yang 'Lompat' Karier Jadi Detektif

Supersoccer

Supersoccerverified-green

Situs web sepak bola terlengkap menampilkan berita sepak bola internasional, preview highlights pertandingan ligaEropa, klub dan pemain, statistik pertandingan.

comment
82
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Arjan de Zeeuw. Foto: AFP
zoom-in-whitePerbesar
Arjan de Zeeuw. Foto: AFP

Ada seorang lulusan Fakultas Pertanian yang memilih berkarier sebagai pegawai bank. Ada pula seorang pegawai bank yang resign lalu jadi jurnalis. Ada juga jurnalis yang kemudian ‘banting setir’ jadi pengacara.

Aneh. Jalan menuju kesuksesan kadang tak bisa ditebak. Rezeki memang tidak ke mana, tapi kita juga enggak tahu rezeki bisa datang lewat pintu mana.

Itulah yang juga yang terjadi dalam perjalanan karier Arjan de Zeeuw. Pria asal Belanda ini awalnya enggak pernah menyangka bisa punya karier sepak bola yang cukup panjang. Tercatat, dia berkarier sebagai pesepak bola profesional selama 13 musim.

Padahal dulu, dia berniat cuma mau sebentar saja main sepak bola, lalu menapaki karier sebagai dokter. Ya, De Zeeuw ini punya ijazah kedokteran, lho.

Dan sebenarnya, De Zeeuw pun mengaku ‘telat’ saat memutuskan jadi pesepak bola. Dia tidak masuk akademi atau sekolah khusus sepak bola sedari dini.

Kenapa? Enggak tahu juga. Well, mungkin De Zeeuw takut dikira jadi korban eksploitasi anak, entahlah.

Arjan de Zeeuw memulai kariernya sebagai pesepak bola semi-profesional sambil menjalani kuliah kedokteran. Ayahnya sendiri enggak setuju kalau sampai De Zeeuw mengorbankan kuliahnya demi jadi pesepak bola. Biasalah, ya, passion terhalang restu orang tua.

Ilustrasi dokter Foto: Pixabay

Meski begitu, De Zeeuw rupanya tampil gemilang saat membela klub sepak bola profesional pertamanya, SC Telstar, yang dibelanya selama tahun 1992-1995. Sekadar catatan, pemain yang berposisi sebagai bek tengah ini lulus kuliah kedokteran pada usia 22 tahun. Jadi ada kemungkinan, saat membela Telstar itu, De Zeeuw sudah lulus kuliah.

Bakat sepak bolanya lalu tercium oleh FC Utrecht, yang pada masa itu bermain di Eredivisie, kompetisi level tertinggi sepak bola Belanda. Sementara itu, Telstar hanya sibuk berkutat di Eerste Divisie, satu level di bawah Eredivisie.

Jelas, De Zeeuw tertarik untuk pindah, karena merasa karier sepak bolanya bakal menanjak. Namun, pihak Telstar menghalangi itu.

"Saya berselisih dengan Telstar, mereka mencegah saya pindah ke Utrecht dengan (cara mematok) biaya transfer yang tidak realistis,” kenang de Zeeuw kepada The Guardian.

Ya, di titik inilah sebenarnya De Zeeuw mau udahan saja main sepak bola. Bermodal ijazah kedokteran, dia sempat berniat untuk menjadi dokter betulan.

"Saya sangat kecewa, saya menyerahkan pengunduran diri saya, bilang ke mereka (Telstar) bahwa saya mau jadi dokter saja, tetapi mereka membujuk saya untuk tetap tinggal selama satu tahun," lanjutnya.

Enak banget, ya, jadi De Zeeuw. Punya pilihan karier yang ajib di luar sepak bola. Lha kita? Sok-sok-an resign, tapi bingung besok mau gawe di mana, bayar kosan pakai apaan.

“Kemudian suatu malam seorang agen menghampiri saya di ruang pemain. Dia bilang klub English First Division melihat saya bermain dan ingin menawarkan kontrak. Tiba-tiba, begitu saja. Saya (lalu) membeli rumah dengan pacar saya pekan itu. Ini sama sekali bukan rencana saya, tetapi saya harus mengambil risiko,” kisahnya.

Nama klub itu adalah Barnsley. Terdengar asing? Ya, De Zeeuw juga berpikir hal yang sama.

Singkat cerita, De Zeeuw jadi bergabung dengan Barnsley pada musim 1995/96, bahkan terpilih menjadi pemain terbaik klub itu pada akhir musimnya. Tercatat, dia adalah pesepak bola non-British pertama yang menjadi pemain terbaik Barnsley.

Kariernya terus menanjak, hingga mencicipi kerasnya Premier League bersama Wigan Athletic dan Portsmouth. Pencapaian tertingginya adalah mengantarkan Wigan ke final Piala Liga 2006, di mana mereka dikalahkan Manchester United 4-0.

Tony Blair, Perdana Menteri Inggris 1997-2007, bahkan pernah menyatakan kekagumannya pada De Zeeuw. Terakhir, De Zeeuw bermain untuk Coventry City di Divisi Championship selama musim 2007/08.

Sayang, sepanjang kariernya itu, De Zeeuw tak pernah berkesempatan main untuk Timnas Belanda. Well, banyak yang lebih baik darinya, sih.

Kini, dia sudah pensiun sebagai pemain sepak bola. Tebak, apa karier dia setelahnya? Arjan de Zeeuw beralih profesi menjadi detektif.

Ilustrasi detektif. Foto: Pixabay

Absurd banget, enggak, sih? Kuliah kedokteran, tapi malah jadi pesepak bola, lalu saat pensiun 'banting setir' jadi detektif. Ini bagaimana ceritanya coba?

"Saya berpikir tentang karier di bidang kedokteran, tetapi ketika saya tahu bahwa butuh waktu 8 tahun sebelum saya bisa praktik, saya mengalihkan perhatian saya di tempat lain,” ujarnya kepada BBC.

Arjan De Zeuuw bilang, dia harus bekerja selama 36 jam sepakan selama menjadi detektif. Tokoh yang menginspirasinya menjadi detektif adalah tokoh fiksi bernama Inspektur Van der Valk.

"Saya terlibat dalam kasus sekarang dan saya harus sepenuhnya memenuhi syarat pada akhir musim panas (2013). Saya ingin mengkhususkan diri dalam forensik,” lanjutnya.

Dan jangan berpikir bahwa De Zeeuw menangangi kasus yang ecek-ecek, seperti kasus barang yang hilang, kucing yang hilang, apalagi cinta yang hilang. Bersama kepolisian di Belanda, dia mengurusi kasus besar macam perdagangan manusia hingga narkoba. Juga kasus-kasus perampokan, pembunuhan, hingga kejahatan seksual.

Itulah hidup Arjan de Zeeuw. Awalnya, dia belajar menginvestigasi penyakit dan penyebab gangguan kesehatan, lalu menginvestigasi pergerakan penyerang lawan, dan kini menginvestigasi kasus kejahatan.

----

Mau nonton bola langsung di Inggris? Ayo, ikutan Home of Premier League. Semua biaya ditanggung kumparan dan Supersoccer, gratis! Ayo, buruan daftar di sini. Tersedia juga hadiah bulanan berupa Polytron Smart TV, langganan Mola TV, dan jersey original.

collection embed figure