kumparan
Bola & Sports3 November 2019 12:00

Christian Pulisic Pernah Dianggap Aneh Gara-gara Suka Sepak Bola

Konten kiriman user
Christian Pulisic
Christian Pulisic, pemain Chelsea. Foto: Reuters/Eddie Keogh
Sepak bola lebih dari sekadar olahraga. Bukan sebatas aktivitas yang bisa membuatmu berkeringat saat memainkannya. Lebih dari itu, permainan 11 vs 11 ini bisa dijadikan 'alat' untuk memulai sebuah hubungan.
ADVERTISEMENT
Sepak bola adalah jalan untuk mempererat silaturahmi. Tak jarang, berkat sepak bola, banyak orang yang bisa menemukan teman baru, sahabat anyar, bahkan kekasih sepanjang hayat.
Namun tampaknya, hal yang berbanding terbalik sempat menimpa Christian Pulisic. Memang, sih, hampir seluruh manusia di belahan dunia mencintai permainan ini, tetapi selalu saja ada anomali. Anomali itu adalah Amerika Serikat.
Piala Dunia memang pernah diselenggarakan di 'Negeri Paman Sam'. Beberapa bintang yang sempat tenar di Eropa pun sempat mencicipi atmosfer kompetisi Major League Soccer, seperti David Beckham, Andrea Pirlo, hingga Zlatan Ibrahimovic.
Meski begitu, sepak bola tetap tidak setenar basket maupun baseball. Setidaknya itulah yang pernah dirasakan Christian Pulisic.
Pemain anyar Chelsea itu pernah dianggap 'asing' oleh lingkungan sekitarnya hanya karena ia dan keluarganya senang main sepak bola. Sekadar gambaran, di Amerika Serikat, Pulisic tinggal di Hershey, yang masuk wilayah Negara Bagian Pennsylvania.
ADVERTISEMENT
Ya, kalian mesti teringat dengan merek cokelat kalau mendengar nama kota itu. Nyatanya, rumah Pulisic memang dekat dengan pabrik cokelat.
"Saya tinggal di sebelah taman hiburan dekat pabrik cokelat. Aku akan ke sana setiap hari di musim panas," ujarnya kepada Four Four Two.
Namun, ya, itu tadi. Di kota kelahiran Pulisic itu, nasib pencinta sepak bola tak 'semanis' cokelat.
"(Hershey) itu bukan kota sepak bola, aku jadi orang buangan hanya karena aku bermain sepak bola dan kedua orang tuaku suka sepak bola," ungkap pemain kelahiran 18 September 1998 itu.
Ada banyak alasan yang bisa membikin kamu jadi terbuang dari komunitas, contohnya kemiskinan, status gangguan kejiwaan, hingga riwayat kriminal. Di Amerika Serikat, sekadar suka sepak bola sudah bisa membuatmu 'asing' di mata tetangga. Luar biasa.
ADVERTISEMENT
"Teman-teman saya bermain American Football atau baseball atau basket. Ketika mereka selesai, saya pulang dan bermain sepak bola dengan ibu dan ayah saya, di garasi," kenangnya.
Main sepak bola di garasi. Bayangin. Enggak hati-hati bisa kepeleset oli.
"Tidak ada yang bermain sepak bola di lingkungan saya. Teman-teman saya menganggap itu aneh, tetapi saya tidak peduli. Saya memainkan olahraga lain juga. Saya adalah pemain basket yang baik,” lanjutnya.
Ya, begitulah Amerika Serikat. Beda sendiri. Bahkan di saat negara lain menyebut sepak bola dengan "football", hanya mereka yang menggunakan kata "soccer". Ngomong-ngomong soal "soccer", kalian tahu tidak kata-kata itu berasal dari mana?
Asal tahu saja, kata itu ditemukan oleh orang Inggris bernama Charles-Wreford Brown. Walau begitu, tetap saja yang punya andil 'memviralkan' adalah surat kabar Amerika Serikat, The New York Times, pada tahun 1905.
ADVERTISEMENT
Meski begitu, Pulisic tidak menyerah. Ini berkat dukungan ayahnya, Mark Pulisic, juga. Mark memotivasi anaknya yang kerap ia panggil "Figo" --merujuk pada legenda sepak bola Portugal, Luis Figo-- itu dengan menuliskan kata "CONFIDENCE" di garasi tempat mereka biasa main sepak bola.
Sekadar informasi, kedua orang tua Pulisic, baik sang ayah maupun sang ibu (Kelley), dulunya adalah pesepak bola. Mark bahkan pernah terikat kontrak profesional dengan Harrisburg Heat, klub sepak bola indoor; sedangkan Kelley biasa main sepak bola di kampusnya.
Kini, Pulisic yang sedari remaja terbiasa bertanding melawan anak-anak yang berusia lebih tua darinya itu menjadi salah satu pemain muda yang diprediksikan bisa menjadi bintang besar di masa depan.
Pemain yang bisa beroperasi sebagai winger dan gelandang serang ini sudah menunjukkan kebolehannya sejak di Borussia Dortmund. Memulai debutnya pada Januari 2016 di usia 17 tahunan, hingga akhir musim 2018/2019, total ia turun laga sebanyak 127 kali di lintas kompetisi, mencetak 19 gol dan 26 asis.
ADVERTISEMENT
Pada musim 2019/2020, Chelsea menebus Pulisic dengan mahar 64 juta euro. Awal-awal ia merasa kesulitan. Namun kemarin, di laga kontra Burnley, Pulisic menjadi pahlawan kemenangan 'The Blues' dengan mencetak hattrick.
Christian Pulisic
Pulisic merayakan gol bersama rekan setimnya di Chelsea. Foto: Reuters/Lee Smith
Semalam pun, Pulisic kembali mencetak gol. Ia menjadi pencetak gol kedua saat Chelsea menaklukkan Watford 1-2 di Vicarage Road.
Dan tampaknya, bakal masih banyak lagi kejutan yang disiapkan Pulisic di Premier League, juga di kompetisi lainnya. Namun tetap saja, ia harus berjuang keras agar tak kalah saing dengan pemain muda skuad asuhan Frank Lampard lainnya.
Pelajaran yang bisa diambil dari cerita Pulisic ini adalah enggak usah takutlah untuk menekuni apa yang kita suka, meskipun itu membuat kita terlihat 'aneh' di mata orang lain. Tekuni aja, rezeki mah enggak bakal ke mana.
ADVERTISEMENT
Kamu suka stand up comedy, sedangkan keluargamu yang lain sukanya menyanyi. Ya, biar aja. Kalau kamu tekun, kamu bisa jadi komika andal.
Kamu tertarik dengan dunia IT, sedangkan tetanggamu rata-rata berprofesi jadi petani. Ya, biar aja. Kalau kamu tekun, kamu mungkin bisa bikin start up, syukur-syukur jadi unicorn.
Kamu cinta dengan puisi, sedangkan orang-orang di kampungmu berlomba-lomba mau jadi pegawai negeri. Ya, biar aja. Kalau kamu tekun, kamu bakal bisa kasih bukti: Bisa, kok, hidup sejahtera dari hobi, enggak harus selalu jadi pegawai negeri.
----
Mau nonton bola langsung di Inggris? Ayo, ikutan Home of Premier League. Semua biaya ditanggung kumparan dan Supersoccer, gratis! Baca syarat dan ketentuannya di sini. Tersedia juga hadiah bulanan berupa Polytron Smart TV, langganan Mola TV, dan jersey original.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan