Konten dari Pengguna

Hikayat si Runner-up: Bayer Leverkusen atau Neverkusen?

Supersoccer

Supersoccerverified-green

Situs web sepak bola terlengkap menampilkan berita sepak bola internasional, preview highlights pertandingan ligaEropa, klub dan pemain, statistik pertandingan.

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Supersoccer tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Logo Bayer Leverkusen. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Logo Bayer Leverkusen. Foto: Shutter Stock

Pada stori ini, kami ingin bercerita tentang Bayer Leverkusen. Namun pertama-tama, kami mau meminta kalian membaca kalimat di bawah ini:

"When ill luck begins, it doesn't come in sprinkles, but in showers."

Kalimat di atas dipopulerkan oleh novelis, penulis, dan pengajar berkebangsaan Amerika Serikat, Samuel Langhorne Clemens. Atau dunia lebih mengenalnya dengan nama penanya: Mark Twain.

Kalimat di atas tertuang dalam salah satu novel karyanya yang berjudul Pudd'nhead Wilson. Novel yang pertama kali terbit pada 28 November 1894 ini mengambil latar kisah perbudakan orang kulit hitam oleh orang kulit putih di Amerika Serikat.

embed from external kumparan

Jadi ceritanya, ada dua bayi, satu terlahir di keluarga budak, sedangkan satu lagi adalah anak majikan. Alkisah, mereka ditukar, lalu tumbuh dewasa menjalani peran sosialnya masing-masing.

Dah, setop. Kami enggak mau lebih dalam mengulik novel tersebut. Itu tadi cuma gambaran singkatnya, biar kalian sedikit tahu, sehingga bisa memaknai arti sebuah kesialan. Kini, kita fokus saja ke kalimat di awal.

X post embed

"Ill luck" bisa kita artikan sebagai kemalangan atau kesialan atau nasib buruk. Dan, itu tidak datang dalam bentuk "sprinkles" atau butiran, melainkan menghujam layaknya "shower" atau pancuran.

Maknanya, kesialan itu enggak datang dengan sedikit-sedikit laiknya gerimis kecil, tetapi bisa jadi datang bertubi-tubi seperti shower. Kalau di sepak bola, kesialan semacam itu sudah seperti nama tengah yang melekat pada Bayer Leverkusen.

Sebenarnya, klub berjuluk Die Werkself ini bukan klub yang buruk-buruk amat. Sejak pertama kali promosi ke Bundesliga pada musim 1979/80, mereka belum pernah terdegradasi lagi.

Mereka kerap ada di papan tengah, bahkan papan atas Bundesliga setiap musimnya. Malahan, beberapa kali mampu meramaikan perebutan juara. Namun nahas, mereka tak pernah sekalipun menjuarainya.

BayArena, markas Bayer Leverkusen. Foto: Shutter Stock

Sudah lima kali, mereka menjadi runner-up Bundesliga. Bayangkan, lima kali. Lima kali berjuang, lima kali pula tak berjodoh.

Seseorang yang pernah lima kali ditolak ketika menyatakan perasaan pada orang yang sama mesti paham rasanya. Ambyar.

Karakter rektor universitas bernama Viru Sahastrabudhhe dalam film 3 Idiots menyuruh mahasiswanya agar mereka berlomba-lomba menjadi juara pertama. Sebab, katanya, siapa mau mengenang juara kedua dan seterusnya?

Virus --begitu julukannya dalam film tersebut-- memakai perumpamaan Neil Armstrong, sosok yang diyakini sebagai manusia pertama di Bulan. Setelahnya, orang mungkin jarang tahu siapa orang kedua yang menginjakkan kaki di satelit Bumi itu.

Neil Armstrong, manusia pertama di Bulan. Foto: NASA via wikimedia commons

Namun, dalam hidup selalu ada anomali. Begitu juga di sepak bola dan kembali lagi soal Leverkusen. Klub yang didirikan pada 1904 itu lebih 'melegenda' karena 'prestasi' menjadi runner-up, alih-alih sejarah mereka menjuarai suatu kompetisi.

Kenangan di musim 2001/02, misalnya. Alih-alih merengkuh predikat treble winner, Leverkusen malah mengukir sejarah treble horror.

Maksudnya, mereka menjadi runner-up di tiga kompetisi berbeda pada musim itu: Bundesliga, DFB Pokal, dan Liga Champions. Alhasil, ada yang memelesetkan nama klub yang kala itu diperkuat Michael Ballack tersebut menjadi "Neverkusen".

X post embed

Meski begitu, sebenarnya mereka pernah menjuarai kompetisi bergengsi tahu. Jadi, ya, kabinet trofi mereka enggak sepi-sepi bangetlah.

Itu adalah trofi Piala UEFA (kini Liga Europa namanya) dan DFB Pokal. Mereka punya masing-masing satu. Trofi yang disebut pertama digamit pada musim 1987/88 dan trofi yang ditulis terakhir direngkuh pada 1992/93.

Kala itu, mereka diperkuat kiper bernama Ruediger Vollborn. Kalau para pembaca sekalian ada yang fan Leverkusen, kalian harus tahu sosok itu, setidaknya namanya. One club man.

embed from external kumparan

Oke, oke, biar lebih 'semarak', kami tambah satu catatan lagi, deh. Sebelum itu, Leverkusen pernah menjuarai Bundesliga 2 Wilayah Utara pada 1978/79. Prestasi itulah yang mengantarkan mereka ke Bundesliga hingga hari ini.

Apa ini pengetahuan baru buatmu? Selamat. Kalau begitu, mari kita berdoa: Semoga, ada masa bagi Bayer Leverkusen untuk bisa kembali meraih trofi bergengsi. Amin.

Editor: Katondio Bayumitra Wedya

---

Ayo, ikutan Home of Premier League dan menangi uang tunai Rp50.000.000. Buruan daftar di sini.

collection embed figure