Jika Kamu Pemain Egois, Bahkan Pelatih Sekelas Pep Guardiola Tak Bisa Menolongmu

Situs web sepak bola terlengkap menampilkan berita sepak bola internasional, preview highlights pertandingan ligaEropa, klub dan pemain, statistik pertandingan.
Tulisan dari Supersoccer tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kata siapa pelatih genius itu adalah sosok yang selalu bisa mengubah pemain 'kacangan' menjadi pemain 'jempolan'? Tidak pula seorang Pep Guardiola.
Oke, memang ada kalanya seorang pelatih itu berperan mengorbitkan pemain yang tadinya bukan siapa-siapa untuk menjadi pemain bintang. Namun, semua itu tetap mesti kembali ke si pemain, bisa diajarin atau tidak.
Kata Albert Einstein, "Jika Anda tidak dapat menjelaskannya dengan sederhana, berarti Anda tidak benar-benar memahaminya". Nah, Guardiola adalah pelatih yang bisa menjelaskan hal rumit menjadi lebih terdengar sederhana.
Hal itu diakui oleh bekas anak buahnya di Bayern Muenchen, Jan Kirchhoff. Merasa asing mendengar namanya? Ya, jelas. Lha wong, gelandang asal Jerman itu nyaris tak terpakai di era sang pelatih berdarah Catalunya membesut raksasa Bavaria.
Kirchhoff sudah mengaku bahwa Guardiola itu hebat. Namun, kenapa dia terbuang?
Kenapa dia tidak bisa mengaplikasikan penjelasan sederhana dari Guardiola di lapangan? Oh, iya. Dua sosok ini terikat kontrak dengan Die Bayern pada periode yang nyaris bersamaan (2013-2016).
"Ketika aku menandatangani [pra-]kontrak dengan Bayern pada setengah tahun terakhir sebelumnya (Januari 2013) itu tidak begitu mudah, baik di klub maupun di tim. Aku membuat banyak kesalahan saat itu," kisahnya kepada Goal International.
"Aku sangat egois dan bukan anggota tim yang sangat baik. Sebab di kepalaku, semua adalah tentang diriku dan yang lainnya urusan belakangan," lanjutnya.
Nah, 'kan. Ternyata, masalahnya ada pada ego. Mentang-mentang main di Bayern, nih, jadi mesti memberikan yang terbaik. Aku, aku, dan aku. Kirchhoff mungkin lupa kalau sepak bola adalah permainan 11 vs 11.
"Aku terlalu ambisius, tidak sabaran, dan juga terobsesi dengan tujuanku mencapai hal-hal tertentu. Aku tidak mengerti betapa senangnya datang dari Mainz ke Muenchen saat berusia 22 tahun dan memainkan 12 laga dalam enam bulan pertama," ujarnya.
Langsung dirangkum saja. Per Transfermarkt, Kirchhoff memainkan 12 laga lintas kompetisi membela Bayern selama musim 2013/14. Lebih sering mengisi pos gelandang bertahan, tetapi sempat juga main jadi bek tengah.
Semua laga itu dilakoninya dari Agustus-Desember 2013. Sebab setelah itu, dia dipinjamkan ke Schalke 04 dengan durasi kontrak peminjaman 1,5 tahun yang berakhir pada Juni 2015.
"Pep berpikir aku harus menepi karena aku akan mendapatkan jatan main menjelang akhir musim dan belajar sesuatu di setiap sesi latihan. Namun, aku ingin bermain di setiap akhir pekan dan menunjukkan betapa baiknya aku," kata Kirchhoff.
Mungkin alasan itulah yang membikin Guardiola memutuskan untuk meminjamkan pemain kelahiran Frankfurt itu ke kubu Die Konigsblauen. Karena si Kirchhoff ini maunya main.
Padahal, di lini pertahanan Bayern berkumpul pemain-pemain macam Dante, Javi Martinez, Jerome Boateng, hingga Daniel Van Buyten yang bisa beroperasi sebagai bek tengah.
Dan jangan lupa, di era Guardiola, Philipp Lahm juga bisa bermain sebagai gelandang bertahan, begitu pula Martinez. Jadi, ya, tentu Kirchhoff mestinya sadar bahwa terlalu banyak pemain senior yang di Bayern waktu itu.
"Pada saat itu, aku merasa sedang berada di fase terbaikku sebagai seorang pesepak bola. Di Schalke, aku berbenturan di sesi latihan kedua dan cedera untuk waktu yang lama," kenangnya.
"Sial betul rasanya, [kalau aku enggak cedera] mungkin ceritaku di Schalke bakal berbeda. Namun, jika benar-benar bisa membalikkan satu hal, maka aku seharusnya tinggal lebih lama di Muenchen dan menunjukkan lebih banyak kerendahan hati," sesalnya.
Makanya, tahu diri. Jadi anak baru jangan sok-sok-an. Ini bisa jadi pelajaran buat kita semua di bidang apa pun, lho, bukan cuma buat pesepak bola.
Omong-omong, menurut catatan Transfermarkt, cedera yang dimaksud Kirchhoff itu adalah cedera robek ligamen syndesmotic. Dia menderitanya selama 112 hari (6 Januari-28 April 2014).
Setelah itu, Kirchhoff menjadi begitu akrab dengan cedera. Selama musim 2014/15, dia menderita tiga fase cedera berbeda: cedera lutut (menepi 31 hari), iritasi tendon (menepi 42 hari), dan cedera achilles tendon (menepi 238 hari).
Kirchhoff akhirnya terbuang dari Bayern dan Schalke pun ogah mempermanenkannya. Dia sempat mengelana ke Inggris, membela Sunderland (2016-2017) dan Bolton Wanderers (2018), lalu kembali ke Jerman membela FC Magdeburg (2019).
Namun, ke mana pun Kirchhoff, masalah cedera selalu mengikuti. Perjalanan karier yang terasa menyedihkan. Kini, Kirchhoff main di mana?
Well, dia sekarang membela KFC Uerdingen 05. Bukan, itu bukan klub amatir bentukan franchise restoran cepat saji, melainkan klub yang berkompetisi di liga level tiga Jerman, laiknya Magdeburg.
Hanya karena keegoisan, karier sepak bola Kirchhoff langsung terjun bebas begitu cepat. Roda kehidupan berputar begitu cepat baginya. Apakah masih ada waktu untuk membenahi yang telah rusak?
Editor: Katondio Bayumitra Wedya
---
Mau nonton bola langsung di Inggris? Ayo, ikutan Home of Premier League. Semua biaya ditanggung kumparan dan Supersoccer, gratis! Ayo buruan daftar di sini.
Bagi yang mau nonton langsung siaran Liga Inggris, bisa ke Mola TV; dan bagi yang ingin merasakan kemeriahan Nobar Supersoccer, bisa cek list schedule-nya di SSCornerID. Tersedia juga hadiah bulanan berupa Polytron Smart TV, langganan Mola TV, dan jersey original.
