Liga Champions: Ketika Kabut Mengepung Kandang Juventus

Situs web sepak bola terlengkap menampilkan berita sepak bola internasional, preview highlights pertandingan ligaEropa, klub dan pemain, statistik pertandingan.
Tulisan dari Supersoccer tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Salah satu laga paling menguras emosi di Liga Champions musim 2001/02 adalah laga Juventus kontra Bayer Leverkusen. Namun, emosi ini tak berkaitan dengan sejarah rivalitas sengit antara keduanya.
Pemicunya adalah kabut. Kabut yang bikin emosi orang-orang jadi tersulut. Gara-gara kabut, banyak pihak jadi bersungut-sungut.
Bagaimana, enggak? Laga itu semula dijadwalkan terlaksana pada 21 November 2001. Namun, gara-gara kabut musim dingin mengepung Stadio delle Alpi --kandang Juventus masa itu--, laga tersebut harus ditunda selama satu minggu.
Jadi, kabut itu adalah kabut musim dingin. Bukan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Ini Italia, penduduknya enggak suka main bakar-bakaran buat buka lahan.
Namun, yang namanya kabut, apa pun jenisnya, tetap menyebabkan jarak pandang di lapangan jadi pendek dan sangat terbatas. So, sangat tidak mungkin menggelar pertandingan dalam kondisi demikian.
Jika mau dipaksakan main, bisa berbahaya. Kalau ada pemain yang sampai salah nendang ‘bola’ gimana? 'Kan bisa berabe jadinya.
Pergerakan antarpemain juga terhambat. Bisa-bisa terjadi saling tabrak sana, tubruk sini. Ini sepak bola, bung, bukan rugbi.
Sialnya, seminggu kemudian, tepatnya 28 November 2001, kabut itu datang lagi. Balik menyelimuti rumah ‘Si Nyonya Tua’.
Akhirnya, laga terpaksa ditunda lagi. Tapi untungnya, tidak ada orang yang memperkeruh suasana dengan tiba-tiba nyeletuk, “Kabut ini tidak separah yang diberitakan media”.
Dengan kondisi seperti itu, jelaslah bahwa perangkat pertandingan, ofisial kedua tim, hingga UEFA pusing mencari solusi hari untuk jadwal baru.
Juventus penginnya main tanggal 30 Januari 2002, tetapi Leverkusen menolak karena Bundesliga libur musim dingin selama 18 Desember 2001-27 Januari 2002. Kebugaran pemain Leverkusen bisa saja belum siap menghadapi laga besar usai liburan itu.
Leverkusen mengusulkan tanggal 19 Desember 2001, tetapi Juventus enggak setuju karena bentrok dengan jadwal laga di kompetisi domestik. Akhirnya, disepakati bahwa laga akan dimainkan pada 29 November 2001, meskipun ini juga dianggap bukan keputusan ideal.
Hasil akhir laga itu adalah Juventus menang 4-0. Kenapa bisa setelak itu? Ya, mungkin karena kebugaran dan mental pemain Leverkusen terganggu akibat kabut dan ketidakpastian jadwal.
Kalau dibilang payah, harusnya enggak, lha wong Leverkusen mampu melaju sampai final Liga Champions pada musim itu. Sayang, Zinedine Zidane memupus harapan mereka mengangkat trofi juara.
Ya, walaupun ada pihak-pihak yang tidak puas, tetapi masih mendinglah ada solusinya, bukan sekadar wacana-wacana tak pasti. Sebab, ini Liga Champions, bukan turnamen persahabatan yang jadwalnya bisa diotak-atik sendiri seenak udel.
Panitia pertandingan dan UEFA tetap berusaha mencari solusi, alih-alih cuma bisa bilang, “Yang perlu kita lakukan bukannya mengeluh tapi berusaha menjalaninya dengan ikhlas dan berdoa”. Duh.
Pada Oktober lalu, Leverkusen kembali bertandang ke Turin. Alhamdulillah, tidak ada kabut musim dingin mengganggu. Laga berjalan lancar, Juventus menang 3-0.
Pada Kamis (12/12/2019) dini hari WIB, giliran Leverkusen yang menjamu Juventus. Bagaimana hasil laga yang bakal berlangsung di BayArena itu? Kita lihat saja. Yang pasti, Leverkusen wajib menang untuk menjaga peluang lolos.
Editor: Katondio Bayumitra Wedya dan Yoga Cholandha
---
Mau nonton bola langsung di Inggris? Ayo, ikutan Home of Premier League. Semua biaya ditanggung kumparan dan Supersoccer, gratis! Ayo buruan daftar di sini. Tersedia juga hadiah bulanan berupa Polytron Smart TV, langganan Mola TV, dan jersey original.
