Liverpool Era Kiwari Lebih Baik dari Era Ian Rush, tetapi Trofinya Masih Kurang

Situs web sepak bola terlengkap menampilkan berita sepak bola internasional, preview highlights pertandingan ligaEropa, klub dan pemain, statistik pertandingan.

Skuat Liverpool era kiwari boleh jadi lebih baik jika dibandingkan dengan skuat era 1980-an hingga 1990-an yang digalang oleh Ian Rush dan kolega. Namun kalau bicara raihan trofi, sayangnya, Mohamed Salah dan kolega masih kalah.
Sebelum lanjut, kita samakan persepsi dahulu. Makna "era kiwari" pada stori ini adalah Liverpool era Juergen Klopp. Ya, kita bicara soal tim The Reds yang menjuarai Liga Champions 2018/19, Piala Super UEFA 2019, dan Piala Dunia Antarklub 2019.
Akan tetapi, maaf, jumlah trofi itu masih kalah dengan jumlah trofi yang direngkuh oleh Rush cs. kala menguasai Inggris dan Eropa pada 1980-an dan 1990-an. Pria Wales itu berkontribusi atas raihan, ehem, 18 trofi juara untuk Liverpool.
Rinciannya: 5 trofi Liga Inggris, 3 trofi Piala FA, 5 trofi Piala Liga Inggris, 3 trofi FA Charity Shield, dan 2 Liga Champions (dahulu namanya European Cup). Itu belum termasuk sebongkah trofi Liga Inggris yang dijuarai Liverpool pada 1987/88 saat Rush sedang mampir ke Italia.
Meski begitu, Ian Rush mengakui, kok, kehebatan skuat Klopp. Bahkan, pria 58 tahun itu bilang bahwa tim era kiwari ini punya faktor yang menjadikan mereka lebih baik jika dibandingkan dengan tim di eranya.
"Untuk menjadi setara, mereka perlu kesuksesan (trofi). Namun kalau bicara rekor, mereka sebenarnya lebih baik. Namun, Anda memang membutuhkan trofi sebagai pendukungnya," kata Rush kepada Mirror.
"Lihat musim lalu, mereka meraup 96 poin, tetapi tak memenangi liga (Premier League), sehingga mereka meningkatkan permainan mereka lagi," lanjutnya.
Well, cuma Liverpool era Klopp yang bisa tak terkalahkan dalam 44 laga Premier League secara beruntun. Mereka hampir menyamai raihan Arsenal (49), lho.
Menurut pria yang juga eks penyerang Leeds United itu, si pelatih asal Jerman merupakan tokoh kunci di dalam dan di luar ruang ganti kubu 'Merseyside merah'.
"Kalau tak menjuarai liga, Juergen Klopp harus bilang [ke pasukannya], 'Kita harus berbuat lebih baik.' Mereka telah melakukannya. Mereka benar-benar luar biasa," kata Rush.
Tinggal dua kemenangan lagi, Virgil van Dijk dan rekan-rekannya bisa mengangkat tinggi-tinggi trofi Premier League 2019/20. Namun sayang, corona mewabah dan kompetisi ditangguhkan.
Rush pribadi sebelumnya sempat berujar bahwa enggak ada ceritanya Liverpool bisa menjadi juara kalau Premier League musim ini enggak dilanjutkan. Namun di sisi lain, Rush percaya, kalaupun tak juara musim ini, Liverpool akan bangkit di musim selanjutnya.
Oh iya, just to be fair, Klopp sendiri belum genap lima tahun melatih skuat kebanggaan publik Anfield. Jadi, jelas masih butuh waktu untuk mengejar segala pencapaian di atas.
Kalaupun nantinya eks pelatih Borussia Dortmund itu keburu mundur, ya, mungkin enggak apa-apa juga, sih. Soalnya, pada era Ian Rush, setidaknya butuh empat pelatih untuk merengkuh semua trofi tadi: Bob Paisley, Joe Fagan, Kenny Dalglish, Graeme Souness.
Kejayaan itu dibangun sejak akhir 1970-an hingga awal 1990-an. Pertanyaan lainnya, bisakah manajemen Liverpool menjaga dinasti mereka tetap besar hingga lebih dari satu dekade? Termasuk ketika nanti Klopp sudah tak melatih mereka. Well, jangan sampai salah pilih pelatih dan direktur olahraga.
Namun dalam jangka pendek, Liverpool era Klopp mungkin bisa fokus ke kompetisi yang belum sempat dimenangi: Premier League, Piala FA, dan Community Shield. Biar lengkap saja. Syukur-syukur, sih, bisa treble, ya.
Editor: Katondio Bayumitra Wedya
----
Ayo, ikutan Home of Premier League dan menangi 1 unit SmartTV dan 2 Jersi Original klub Liga Inggris. Buruan daftar di sini.

