Kumparan Logo
Mario Balotelli
Mario Balotelli saat berseragam liverpool.

Mario Balotelli di Liverpool: Memalukan saat Berlatih, Melempem saat Bertanding

Supersoccer

Supersoccerverified-green

Situs web sepak bola terlengkap menampilkan berita sepak bola internasional, preview highlights pertandingan ligaEropa, klub dan pemain, statistik pertandingan.

comment
14
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Mario Balotelli saat berseragam liverpool. Foto: PAUL ELLIS / AFP
zoom-in-whitePerbesar
Mario Balotelli saat berseragam liverpool. Foto: PAUL ELLIS / AFP

Giorgio Chiellini bilang, Mario Balotelli--yang pernah tergabung bersamanya dalam skuat Timnas Italia di Piala Konfederasi 2013--adalah manusia yang layak ditampar. Kali ini, kami ingin memaparkan kisah lain tentang Balotelli dari sudut pandang eks rekan setimnya di Liverpool.

Cerita ini terjadi pada musim 2014/15, atau musim setelah The Reds gagal menjuarai Premier League karena ditikung Manchester City sejak pekan ke-36. Mereka masih mencoba move on dari insiden terpelesetnya Steven Gerrard dan 'Crystanbul'.

Brendan Rodgers berusaha memulai musim baru dengan semangat baru dan tentunya bersama beberapa pemain baru. Salah satunya Rickie Lambert yang diboyong bersama Adam Lallana dari Southampton pada 1 Juli 2014.

Bagi penyerang yang kala itu berusia 32 tahun tersebut, bisa membela Liverpool adalah sebuah kehormatan. Utamanya, karena Lambert telah menjadi fan 'si Merah' sejak kecil dan sempat menimba ilmu sepak bola di akademi mereka.

embed from external kumparan

Jalan takdir kariernya dipenuhi kelok-kelok sebelum akhirnya dapat menjadi bagian dari keluarga besar klub kebanggaan publik Anfield tersebut. Cita-cita pria kelahiran Kirkby, Merseyside, itu kesampaian juga.

Lambert bisa merasakan pengalaman satu tim dengan pemain-pemain hebat macam Steven Gerrard, Raheem Sterling, Daniel Sturridge, hingga Luis Sua.. Oh, tunggu sebentar.

Rickie Lambert saat berseragam Liverpool. Foto: PORNCHAI KITTIWONGSAKUL / AFP

Sepuluh hari setelah Lambert resmi menjadi milik Liverpool, Luis Suarez--penyerang terhebat dan paling berpengaruh bagi Liverpool pada masa itu--hengkang ke Barcelona. Para pemain syok, tak terkecuali Lambert.

Pemain yang mewarisi nomor punggung 9 dari Iago Aspas itu tahu betapa besar pengaruh si penyerang Uruguay. Si penyerang yang ditebus dengan harga 4 juta poundsterling itu sadar bahwa dia tak mampu menyamai level penyerang yang ditebus Blaugrana dengan mahar 65 juta poundsterling tersebut.

Luis Suarez, mantan bomber andalan Liverpool. Foto: AFP/ANDREW YATES

Meski begitu, dia tetap bertekad memberi yang terbaik. Lambert juga menunggu, apakah sekiranya ada penyerang lain yang bakal diboyong oleh Brendan Rodgers atau tidak sebelum bursa transfer musim panas ditutup.

Dan ternyata, ada. Akan tetapi, penyerang yang datang bukan sosok yang ia harapkan. Namanya Mario Balotelli. Harga belinya waktu itu 16 juta poundsterling. Pemain Italia aitu resmi direkrut pada 25 Agustus 2014.

Mario Balotelli saat berseragam liverpool. Foto: PAUL ELLIS / AFP

Ya, itu adalah kisah dari Lambert yang tertuang dalam kolom Neil Maggs di Bristol Post. Entah, apa yang ada di benak Rodgers dan manajemen Liverpool saat memutuskan untuk merekrut Balotelli.

Hanya karena dia eks pemain Manchester City dan pernah menjuarai Premier League lantas Liverpool berharap 'tuahnya' begitu? Ah, tentu konyol jika benar begitu.

Boleh jadi, salah satu alasan sebenarnya adalah karena penyerang yang kini membela Brescia itu tampil moncer di lini depan AC Milan 1,5 musim sebelumnya. Masih terdengar agak masuk akal.

Mario Balotelli dengan selebrasi 'Why Always Me?' saat membela Manchester City. Foto: Reuters/Darren Staples

Namun biar bagaimana pun, Balotelli adalah Balotelli. Lambert kesal dengan tingkahnya, meski tak sampai kepikiran ingin menamparnya. Ditambah lagi, dia heran, kok, bisa-bisanya Rodgers lebih memilih Balotelli ketimbang dirinya.

"Sikapnya di sesi latihan sungguh memalukan. Di luar latihan, dia adalah pribadi yang asyik. Namun kalau lagi latihan, enggak bagus," kisah Lambert.

"Aku punya pengalaman satu tim dengan pemain yang sikapnya kayak begitu sebelumnya, tetapi mereka biasanya bagus kalau lagi main. Nah, Balotelli kagak," lanjutnya.

"Heran, kenapa bisa Rodgers lebih memilihnya ketimbang aku. Itu memengaruhiku secara langsung dan berdampak negatif pada tim," geramnya.

Rickie Lambert moncer di Southampton, gagal di Liverpool. Foto: Steve Bardens/Getty Images

Pada akhirnya, jumlah caps Lambert di Liverpool lebih banyak dibanding Balotelli. Pria Inggris itu 36 kali turun laga di lintas ajang dan mencetak tiga gol, sedangkan si pria Italia main 28 kali dan mencetak empat gol.

Sama-sama enggak berimpak besar untuk tim. Melempem. Keduanya lantas tidak menjadi bagian skuat Liverpool musim selanjutnya. Lambert dijual ke West Bromwich Albion, Balotelli dipinjamkan ke Rossoneri.

Lambert juga mengakui bahwa dia memang tak cukup bagus. Namun, kalau sampai sempat kalah bersaing dengan Mario Balotelli, sih, ya sakit hati juga.

Editor: Katondio Bayumitra Wedya dan Yoga Cholandha

---

Ayo, ikutan Home of Premier League dan menangi 1 unit SmartTV dan 2 Jersi Original klub Liga Inggris. Buruan daftar di sini.

collection embed figure