kumparan
Bola & Sports23 Mei 2020 11:08

Optimisme Lukas Podolski Melihat Mesut Oezil dan Mikel Arteta di Arsenal

Konten kiriman user
PTR - Lukas Podolski
Lukas Podolski saat berseragam Arsenal. Foto: CHRISTOF STACHE / AFP
Mesut Oezil sempat meredup ketika Arsenal dilatih oleh Unai Emery. Namun sejak Mikel Arteta mengambil alih jabatan tersebut, si gelandang kelahiran Gelsenkirchen berpendar kembali. Tak pelak, optimisme hadir di benak Lukas Podolski.
ADVERTISEMENT
Pemain yang terikat kontrak dengan The Gunners selama 2012-2015 itu yakin bahwa Oezil dan Arteta memang klop. Lha wong sebelumnya, mereka pernah satu lapangan bareng--bersama Podolski juga.
"Mereka pernah bermain bersama dan sudah lama saling kenal. Aku melihat permainan Oezil jauh lebih baik [ketika dilatih Arteta] ketimbang sewaktu masih di bawah asuhan pelatih lama (Emery)," kata pemain Antalyaspor itu kepada Sky Sports.
"Terkadang, Anda memang bisa punya masalah dengan pelatih. Dia dapat memiliki pandangan yang berbeda tentang sepak bola. Arteta kembali ke Arsenal dan Anda melihat timnya jauh lebih terorganisir, lebih ngotot, dan disiplin," lanjutnya.
Eks pemakai nomor 9 di skuat 'Meriam London' itu berharap keduanya dapat bekerja sama dengan baik untuk beberapa tahun ke depan. Podolski optimistis kerja sama Oezil dan Arteta dapat mengembalikan kebesaran Arsenal yang kini sedang berkubang di ranah medioker.
ADVERTISEMENT
Well, secara enggak langsung, berarti Podolski berharap masa bakti Oezil--yang kontraknya habis pada Juni 2021--di Arsenal dapat diperpanjang lagi. Begitu, 'kan?
Arteta dan Oezil (16:9)
Mesut Oezil 'hidup kembali' di bawah arahan Mikel Arteta. Foto: REUTERS/Eddie Keogh
"No debat. Dia (Oezil) adalah pemain yang sangat hebat," ujar Podolski soal eks kompatriotnya di Timnas Jerman itu.
Arsenal memboyong Oezil dari Real Madrid pada musim panas 2013 dengan mahar sekitar 42,5 juta poundsterling. Selama tujuh musim mengabdi untuk skuat kebanggaan publik Stadion Emirates, si spesialis pendulang assist telah merasakan gelar juara Piala FA tiga kali dan Community Shield sekali.
Selama masa itu, ada kalanya Oezil dipuja, ada saatnya pula dicaci. Di satu sisi, performanya disebut inkonsisten, tetapi di sisi lain ada yang tetap kekeh seperti Podolski bahwa dia salah satu pemain terbaik dunia.
Mesut Oezil (C)
Mesut Oezil berdoa sebelum bertanding. Foto: Reuters/Hannah McKay
Boleh jadi, penampilan Oezil tak semoncer waktu dia bersama Real Madrid atau Timnas Jerman adalah karena faktor cedera. Asal tahu saja, pemain dengan bayaran gaji termahal di Arsenal itu lebih sering cedera saat membela Arsenal dibanding ketika memperkuat klub lain.
ADVERTISEMENT
Selain itu, mungkin juga terjadi bias. Maksudnya, jika publik melihat jumlah assist-nya menurun, mungkin karena ada faktor rekan setim.
Kalau di Real Madrid, Oezil mengoper ke Cristiano Ronaldo, Karim Benzema, dan Gonzalo Higuain. Nah, sewaktu di Arsenal, si pemegang medali juara Piala Dunia 2014 mesti melayani Olivier Giroud, Podolski, bahkan pernah juga Yaya Sanogo.
Mesut Oezil
Mesut Oezil. Foto: Reuters/Eddie Keogh
Ketika Pierre-Emerick Aubameyang dan Alexandre Lacazette datang, sayangnya, kala itu Arsenal masih sempat dilatih oleh Arsene Wenger yang sudah kehabisan kreativitas taktikal dan juga Unai Emery yang.... Ya, begitu, deh.
Kini, Oezil bangkit lagi bersama Arteta, tetapi usianya tahun ini sudah bakal 32 tahun. Jadi, apakah Oezil mending dipertahankan Arsenal sampai kontraknya kedaluwarsa, atau harus diperpanjang, atau lebih baik segera dijual, nih?
ADVERTISEMENT
---
Ayo, ikutan Home of Premier League dan menangi 1 unit SmartTV dan 2 Jersi Original klub Liga Inggris. Buruan daftar di sini.
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan