Tomas Rosicky

Pahit-Manis Karier Tomas Rosicky, 'si Mozart Kecil' Eks Penggawa Arsenal

Supersoccer
Situs web sepak bola terlengkap menampilkan berita sepak bola internasional, preview highlights pertandingan ligaEropa, klub dan pemain, statistik pertandingan.
5 April 2020 15:05 WIB
comment
64
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tomas Rosicky Foto: IAN KINGTON / AFP
zoom-in-whitePerbesar
Tomas Rosicky Foto: IAN KINGTON / AFP
ADVERTISEMENT
Tomas Rosicky mungkin bukan tipe orang yang banyak bicara dengan mulut. Eks pemain Arsenal itu lebih banyak 'bicara' dengan kakinya.
ADVERTISEMENT
Bagi Rosicky, lapangan sepak bola sudah selaiknya gedung orkestra. Dia adalah dirigen yang mengatur ritme serangan timnya. Dialah 'sang Mozart kecil'.
Lewat operan yang akurat, dribel yang memukau, dan tendangan yang menghujam gawang lawan, Rosicky menjelma sebagai 'musisi' di lapangan sepak bola. Ya, begitu caranya.
Bukan dengan cara memainkan piano dalam video perkenalan bersama klub baru. Percuma, jika pesepak bola paham nada di balik piano, tetapi 'buta nada' di lapangan. Jika begitu, sebaiknya ganti profesi saja.
Rosicky memang dikenal sudah memiliki bakat sepak bola sejak kecil. Di akademi Sparta Praha --klub favorit Rosicky--, bakat sepak bolanya diasah agar semakin tajam.
Kemudian, saat Bersama Dortmund, kariernya kian melejit. Trofi Bundesliga 2001/02 digamitnya. Namun, itu tak membuatnya puas.
ADVERTISEMENT
Rosicky lantas mengambil langkah berani: Bergabung dengan Arsenal pada musim 2006/07. Pijakan terbesar dalam kariernya.
The Gunners tidaklah asing bagi Rosicky. Dia mengenal klub asal London Utara itu dari buku Fever Pitch karya Nick Hornby. Sejak saat itu, dia menjadikan Arsenal sebagai klub impiannya.
Rosicky bermimpi memainkan 'orkestranya' bersama 'musisi-musisi' andal di kubu 'Meriam London'. Ketika kesempatan itu datang, dia tak menyia-nyiakannya. Pembuktian kualitasnya itu berupa 6 gol dan 4 assist dari 37 laga di semua kompetisi pada musim perdananya.
Memasuki musim 2007/08, Rosicky terus membuktikan kualitas mumpuninya. Bersama pesepak bola muda berbakat macam Robin van Persie, Emmanuel Adebayor, Cesc Fabregas, hingga Alexander Hleb, dia menatap trofi juara.
Namun sayang, badai cedera menerpa kapal yang dinakhodai Arsene Wenger tersebut. Pada musim itu, satu per satu pemain andalan Arsenal bertumbangan, termasuk dirinya. Sialnya, dia salah satu yang menderita cedera paling parah.
ADVERTISEMENT
Dalam laga menghadapi Newcastle United di Piala FA pada 26 Januari 2008, Rosicky harus ditarik keluar lebih cepat pada menit 9. Setelah itu, butuh waktu sangat lama untuk kembali melihat batang hidungnya di lapangan.
Tomas Rosicky Foto: IAN KINGTON / AFP
434 hari dalam hidupnya dihabiskan di ruang perawatan. 69 laga dilewatinya. Rosicky jelas menderita, tak bisa mengolah bola layaknya seorang musisi menggubah musik.
Ketika kembali, Rosicky tidak pernah sama lagi. Dia tak lagi selincah awal-awal bergabung dengan Arsenal, terkadang dirinya pun didera cedera lagi, meski sesekali mampu menampilkan aksi yang memuaskan mata dan hati.
Namun setidaknya, Rosicky sempat meraih prestasi bersama Arsenal. Buah dari kesabarannya menolak berpasrah diri itu adalah 2 trofi Piala FA dan 1 trofi Community Shield.
ADVERTISEMENT
Akhir kisahnya di 'panggung' Emirates Stadium tak berakhir manis. ‘Hantu’ cedera itu datang lagi. Pada musim 2015/16, Rosicky cuma main sekali.
Awalnya, menurut Transfermarkt, dia cedera selama 220 hari dari April 2015 hingga Januari 2016. Sempat kembali membela Arsenal di laga Piala FA melawan Burnley pada 30 Januari 2016, dia lalu cedera lagi dan harus menepi selama 63 hari.
Merasa cukup dengan Inggris dan kontraknya tak diperpanjang lagi, Rosicky pilih pulang ke negaranya. 'Mengasingkan diri' dari ingar-bingar dan gegap gempita ‘panggung’ liga top Eropa. CLBK dengan Sparta Praha.
Pada 10 September 2016, Rosicky kembali merumput bersama Sparta Praha. Dia bahagia, tetapi setelah itu harus sedih lagi. Sebab, tepat pada hari itu, dia kembali dinyatakan cedera (lagi).
ADVERTISEMENT
'Hantu' itu belum mau pergi layaknya demit yang jatuh cinta pada bangsa manusia. Namun tenang, ini bukan Badarawuhi.
Rosicky akhirnya menggantung sepatu sepak bolanya bak dirigen orkestra yang meletakkan batonnya, lalu meninggalkan panggung dengan sepi. Tidak ada musik, tidak ada nada. Yang ada hanya nada perih menyayat hati di hatinya dan para penggemarnya.
---
Ayo, ikutan Home of Premier League dan menangi uang tunai Rp50.000.000. Buruan daftar di sini.
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten