Tim Wiese: Penjaga Gawang yang 'Banting Setir' Jadi Pegulat

Situs web sepak bola terlengkap menampilkan berita sepak bola internasional, preview highlights pertandingan ligaEropa, klub dan pemain, statistik pertandingan.
Tulisan dari Supersoccer tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pesepak bola pensiun, lalu jadi pelatih? Biasa. Jadi direktur teknis klub? Biasa. Jadi pundit atau komentator? Duh, biasa banget.
Tapi, bagaimana ceritanya kalau ada pesepak bola yang pensiun, lalu beralih profesi menjadi pegulat WWE? Nah, ini baru greget!
Nyatanya, memang ada eks pesepak bola yang mengambil langkah demikian. Namanya Tim Wiese, eks kiper Timnas Jerman.
Kiper yang meraih gelar DFL-Ligapokal 2006 dan DFB Pokal 2008/09 bersama Werder Bremen ini sempat menjadi pegulat WWE untuk mengisi masa pensiunnya sebagai pesepak bola. Benar-benar anti-mainstream.
Masalahnya, kok, bisa-bisanya Wiese punya pemikirian untuk jadi pegulat? Itu 'kan pekerjaan yang risiko cederanya tinggi.
Kenapa enggak memilih pekerjaan yang ‘damai-damai’ aja gitu? Misalnya, jadi pengusaha rumah makan, atau jualan pisang nugget, atau mungkin jualan minuman 'boba'?
Rupanya, itu karena Wiese mengaku sudah jadi penggemar WWE sejak bocah. Bahkan, saat masih aktif jadi pesepak bola pun, Wiese masih terus mengikuti perkembangan salah satu franchise gulat paling terkenal di dunia itu.
Meski begitu, sebenarnya Wiese awalnya enggak pernah terpikirkan untuk jadi pegulat betulan. Hingga akhirnya, pada September 2014, Wiese mendapat tawaran dari WWE untuk bergabung ke divisi NXT mereka.
“Saya mendapat tawaran resmi dari WWE. Ini tentang bekerja untuk mereka sebagai pegulat," kata Wiese kepada tabloid Jerman, dilansir DNA India.
Meski begitu, Wiese menyangkal bahwa menjadi pegulat adalah bentuk pelariannya dari sepak bola. Baginya, itu cuma cara alternatif agar bisa gemuk dan banyak menghabiskan waktu dengan bersantai di sofa. Ada-ada saja.
Pada November 2014, Wiese akhirnya benar-benar tampil di ring gulat WWE. Dia muncul sebagai guest timekeeper di WWE live event di Frankfurt, Jerman.
Pada saat itu, jelas tubuh Wiese sudah jauh berbeda dengan semasa dia menjadi kiper. Tubuhnya lebih kekar dengan penampakan ototnya yang besar.
Ya, bagi kamu yang sering memanfaatkan jasa pinjaman online, tentunya enggak bakal berharap ada sosok sebesar Wiese yang tiba-tiba muncul di hadapanmu saat buka pintu kosan di pagi hari, bukan?
Sekalipun kamu juga penggemar gulat WWE, tetapi pasti kamu enggak pernah pengin tahu gimana rasanya di-Powerbomb, ‘kan?
Balik lagi ke Wiese. Penampilan sebagai timekeeper itu nyatanya tak lantas membuat dirinya puas. Dia ingin bertarung. Untuk itu, sejak Juni 2016, Wiese sudah mulai berlatih di WWE’s Performance Center.
“Saya telah berlatih keras untuk ini (WWE), dan saya bersemangat untuk kesempatan ini. Apa pun yang diperlukan, tujuan saya adalah berada di ring WWE November ini (2016). Saya ingin bertarung!” kata Wiese dilansir PWTORCH.
Dan akhirnya itu terwujud pada November 2016. Wiese, dengan nama panggung “The Machine”, debut untuk pertama kalinya sebagai pegulat WWE.
Dalam laga debutnya yang berlangsung di Muenchen itu, Wiese bekerja sama dengan Cesaro dan Sheamus untuk mengalahkan Shining Stars dan Bo Dallas.
"Sepak bola sudah selesai bagi saya. Saya akan berusia 35 tahun (pada Desember 2016). Saya pikir itu usia terbaik untuk gulat. Saya tidak akan naik ke atas ring dengan ketakutan apa pun. Yang lainlah (lawan --red) yang harus takut," kata Wiese jelang laga debutnya, dilansir DW.com.
Di laga debutnya itu, Wiese menang. Wiese mengamankan kemenangan dengan pinfall setelah melakukan signature moves-nya, yakni “A Body Splash”.
Tahu enggak, “A Body Splash” itu bagaimana gerakannya? Jadi, Wiese melangkahi lawannya yang terlentang sambil menginjak perutnya, memantulkan tubuh ke tali pengaman ring, lompat lalu meniban lawannya itu. Mantap, toh?
Sekadar catatan, berat Wiese saat itu adalah sekitar 130 kilogram, atau 40 kilogram lebih berat dibanding saat terakhir kali masih jadi kiper (tahun 2014).
Bagaimana rasanya ditiban orang segede gitu? Enggak tahu, tapi kayaknya, sih, lebih sakit daripada ketiban rindu yang tiada berujung.
Meski begitu, pada Maret 2017, dia memilih kembali ke sepak bola, bergabung ke klub amatir, SSV Dilingen. Bagi Wiese, sepak bola sama saja, mau Bundesliga Jerman maupun kompetisi amatir (minor league).
"Saya bermain di Bundesliga, bermain untuk (Timnas) Jerman, saya tidak perlu takut dengan minor league. (Menjadi) kiper itu seperti main sepeda. Kamu tidak pernah bisa lupa (caranya). Kurasa otot-otot di kakiku membuatku bisa melompat lebih tinggi daripada dulu," kata Wiese dilansir ESPN.
So, mungkin langkah Wiese ini layak ditiru oleh banyak pesepak bola di dunia yang kerap enggak bisa nahan diri buat gelut di lapangan. Daripada lebih sering menendang orang di lapangan, alih-alih bola, ada baiknya kamu pindah ke ring gulat.
Di sana bebas. Mau memukul hingga banting orang juga boleh. Selamat mencoba!
Editor: Katondio Bayumitra Wedya
----
Mau nonton bola langsung di Inggris? Ayo, ikutan Home of Premier League. Semua biaya ditanggung kumparan dan Supersoccer, gratis! Ayo buruan daftar di sini. Tersedia juga hadiah bulanan berupa Polytron Smart TV, langganan Mola TV, dan jersey original.
