Kumparan Logo
Arsenal vs Wolverhampton
Para pemain Wolverhampton merayakan gol ke gawang Arsenal.

Wolverhampton Wanderers: Balik ke Turnamen Eropa Usai 39 Musim Menanti

Supersoccer

Supersoccerverified-green

Situs web sepak bola terlengkap menampilkan berita sepak bola internasional, preview highlights pertandingan ligaEropa, klub dan pemain, statistik pertandingan.

comment
88
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Para pemain Wolverhampton merayakan gol. Foto: Eddie Keogh/Reuters
zoom-in-whitePerbesar
Para pemain Wolverhampton merayakan gol. Foto: Eddie Keogh/Reuters

Pada Liga Europa musim 2019/20, Inggris diwakili oleh tiga klub: Arsenal, Manchester United, dan Wolverhampton Wanderers.

Di antara tiga klub itu, kayaknya pendukung klub yang namanya disebut terakhir adalah yang paling bahagia. Bayangkan, 39 musim lamanya, para pendukung Wolves menanti untuk bisa melihat klub kesayangan mereka berpentas di turnamen tingkat Eropa lagi.

Sementara pendukung dua klub lainnya itu sedang sedih. Kenapa? Ya, biasalah, post-power syndrome.

Biasa ‘bergaul’ sama Barcelona, Juventus, hingga Bayern Muenchen, sekarang ‘nongkrongnya’ sama AZ Alkmaar, Eintracht Frankfurt, bahkan Astana. Sudahlah, bersyukur saja.

Tapi kali ini, kita mau bahas soal Wolves aja, nih. Kenapa mereka harus menunggu selama 39 musim untuk bisa kembali berlaga di Eropa?

Sebab, kalau kamu membaca sejarah bagaimana perjalanan klub ini dari musim ke musim, kalian akan paham bahwa perjalanan mereka penuh jatuh-bangun.

Laiknya perjuanganmu mengejar cinta dirinya. Iya, dirinya. Sosok yang kamu sodorkan segelas air tapi malah meminta lautan. Halah.

Wolves sudah berulang kali dapat jatah promosi ke Premier League untuk membanggakan hati masyarakat Kota Tangerang, eh... Kota Wolverhampton, tapi nahas tak pernah bertahan lama. Bak serigala tak bertaring.

Logo Wolverhampton Wanderers. Foto: Wikimedia Commons

Dulu, di Premier League, Wolves hanya jadi bulan-bulanan, lumbung gol lawan. Atau secara sederhananya disebut “pecundang”.

Tercatat, sejak era Premier League digulirkan untuk pertama kali pada musim 1992/93, Wolves lebih sering mondar-mandir di Divisi Championship. Mereka bahkan pernah satu kali terjerembab ke League One.

Pertama kali dalam sejarah Wolves bisa berlaga di Premier League adalah pada musim 2003/04 dan langsung finis di peringkat pertama…… dari bawah alias peringkat 20. Baru juga satu musim, tapi mereka langsung ‘ditendang’ balik ke ‘habitat’ asal mereka: Divisi Championship.

Wolves kembali menjadi tim promosi pada musim 2009/10. Mampu bertahan tiga musim, meski terseok-seok, lalu balik lagi ke Divisi Championship.

Namun, sekarang sudah beda. Semua berkat jasa pelatih asal Portugal, Nuno Espirito Santo, yang mengambil alih kursi kepelatihan sejak awal musim 2017/18. Pelatih yang terkenal punya gelagat beringas di pinggir lapangan ini laiknya juru selamat yang selama ini dinanti-nanti.

Nuno dilempar ke udara oleh para pemainnya. Foto: Reuters/Andrew Couldridge

Lewat kebolehannya meracik taktik dan cara memberi instruksi kepada para pemain, Nuno sanggup mengantarkan Wolves menjuarai Divisi Championship di musim perdananya itu. Artinya, Wolves balik berhak kembali berlaga di Premier League musim 2018/2019.

Selama menjalani musim 2018/19, Wolves bukan lagi pecundang. Mereka tak bisa lagi diremehkan. Bukan lagi sasaran bulan-bulanan maupun sekadar lumbung gol bagi lawan.

Wolves mengakhiri musim di peringkat tujuh klasemen. Artinya, mereka berhak atas jatah play-off Liga Europa 2019/20. Terakhir kali mereka menjejakkan kaki di kompetisi yang sama --yang saat itu namanya masih Piala UEFA-- adalah pada musim 1980/1981.

Pada masa itu, Piala UEFA belum menggunakan format sistem babak grup. Adanya sistem gugur dua leg. Sayang, idola-idola publik Molineux Stadium pada masa itu, seperti Mel Eves, Andy Gray, hingga John Richards, hanya sanggup membawa Wolves tampil di ronde pertama Piala UEFA.

Wolves kalah agregat dari PSV Eindhoven. Mereka dilibas 3-1 saat bertandang di Philips Stadion, dan hanya mampu menang 1-0 di kandang sendiri.

Di era kiwari, para suporter punya idola-idola baru: Conor Coady, Matt Doherty, Ruben Neves, Diogo Jota, Raul Jimenez, hingga Joao Moutinho.

Ekspresi gembira jebolan akademi Liverpool, Conor Coady, saat Wolves menang atas Manchester United musim lalu. Foto: Action Images via Reuters/Carl Recine

Untuk mencapai babak fase grup Liga Europa, di laga play-off Wolves tampil meyakinkan dengan melibas klub Irlandia Utara, Crusaders, dengan agregat 6-1; mengalahkan wakil Armenia, Pyunik, dengan agregat 8-0; dan menumbangkan wakil Italia, Torino, dengan agregat 5-3.

Alhasil, Wolves berhak tampil di fase grup Liga Europa 2019/20, tergabung di grup K bersama Besiktas, Slovan Bratislava, dan Braga. Nama klub yang disebut terakhir mengalahkan mereka 1-0 pada laga perdana di Molineux.

Demam panggung? Mungkin. Asal jangan sampai ‘meriang’ aja.

Namun, Conor Coady dan kolega sukses menang di dua laga teranyar. Kini, mereka bertengger di peringkat dua grup K.

Ke depannya, tentu performa penggawa Wolves harus terus membaik. Soalnya, sayang banget ‘kan, sudah susah-susah masuk, tapi ternyata keluarnya cepat. Jangan loyo.

By the way, ini konteksnya keluar-masuk kompetisi Eropa, lho, ya, maksudnyaaa…

Nuno Espirito harus putar otak demi mengembalikan Wolves ke performa terbaik. Sebab, tampaknya performa mereka musim ini sedang menurun. Di Premier League pun kini mereka sedang terjebak di peringkat 12 usai memainkan 11 laga.

Jangan sampai memori kelam tiga dekade lalu terulang: Tersingkir cepat dari Piala UEFA, di First Division --sebelum era Premier League-- finis di peringkat 18, lalu terdegradasi di musim selanjutnya. Sungguh, deja vu yang tidak diharapkan.

----

Mau nonton bola langsung di Inggris? Ayo, ikutan Home of Premier League. Semua biaya ditanggung kumparan dan Supersoccer, gratis! Ayo buruan daftar di sini. Tersedia juga hadiah bulanan berupa Polytron Smart TV, langganan Mola TV, dan jersey original.

collection embed figure