Kekacauan Transfer Menit Akhir Bikin Hubungan Chelsea dan Monaco Memanas

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi child, soccer, playing. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi child, soccer, playing. Foto: Pixabay

Bursa transfer musim panas ditutup dengan drama luar biasa yang melibatkan Chelsea, AS Monaco, dan Everton. Keputusan darurat di menit-menit akhir tidak hanya membatalkan kepindahan dua pemain bintang, tetapi juga memicu perseteruan sengit antara manajemen Chelsea dan AS Monaco setelah kesepakatan bernilai jutaan poundsterling runtuh seketika.

Kisah ini berpusat pada kegagalan transfer gelandang muda Monaco, Lamine Camara, ke Stamford Bridge dan penyerang Folarin Balogun ke Everton. Kolapsnya negosiasi berantai ini membuat semua pihak yang terlibat merasa dirugikan, menyisakan kemarahan besar serta lubang tak tambal di lini tengah Chelsea.

Siasat Saling Memanfaatkan di Detik-Detik Krusial

Chelsea awalnya mengincar Lamine Camara, gelandang internasional Senegal berusia 22 tahun, guna mengantisipasi penjualan Enzo Fernandez senilai £125 juta ke Manchester City. Namun, AS Monaco bersikap keras kepala dan enggan melepas sang pemain dengan harga murah. Direktur Olahraga Monaco, Thiago Scuro, bahkan sempat menolak mentah-mentah pendekatan awal The Blues.

Namun, situasi berubah dramatis ketika rencana transfer Folarin Balogun senilai £40 juta dari Monaco ke Everton terganjal masalah tes medical. Monaco, yang sedang dalam tekanan besar untuk menghasilkan 150 juta euro dari penjualan pemain demi mematuhi regulasi keuangan UEFA, mendadak butuh solusi cepat karena baru mengumpulkan 106 juta euro dari kepindahan pemain lain.

Melihat celah tersebut, Chelsea bergerak cepat dan menawarkan solusi transfer Camara senilai £47 juta. Thiago Scuro mengungkapkan situasi tersebut, “Tentu saja, Chelsea melihat peluang. Monaco butuh uang, Balogun kesulitan di sana, mari kita coba. Chelsea menghubungi kami dan berkata: Mungkin kami bisa menjadi solusi. Pada momen itu, kami harus membuka pintu untuk diskusi.”

Pembatalan Sepihak yang Memicu Kemarahan Chelsea

Negosiasi kilat menghasilkan kesepakatan cepat. Camara bahkan telah melakukan tes medis, berbicara langsung dengan manajer Chelsea, Xabi Alonso, dan menandatangani kontrak panjang hingga tahun 2033. Namun, kegembiraan kubu London Barat itu langsung sirna hanya beberapa jam sebelum tenggat waktu transfer window ditutup.

Masalah medis Balogun di Everton tiba-tiba dianggap selesai, dan Everton menyatakan siap merampungkan transfer striker asal Amerika Serikat tersebut. Monaco yang merasa kebutuhan finansialnya sudah terpenuhi dari penjualan Balogun, langsung membatalkan kesepakatan Camara dengan Chelsea secara sepihak demi mempertahankan aset muda mereka.

“Apa yang terjadi adalah sekitar pukul 22:00 waktu kami, Everton menyadari tidak ada masalah dan memutuskan siap menandatangani kontrak. Begitu kami menerima informasi itu, kami kembali ke Chelsea dan mengatakan tidak ada kesepakatan. Karena itu juga adil. Ini bagian dari permainan,” jelas Scuro. Langkah ini membuat manajemen Chelsea meradang, terutama karena Monaco mengabarkan pembatalan tersebut melalui surat tertulis alih-alih berbicara langsung melalui telepon.

Plot Twist Akhir dan Krisis Lini Tengah Chelsea

Drama ini tidak berhenti di sana. Dalam kejutan berikutnya di dini hari, Balogun justru memutuskan batal bergabung dengan Everton dan meninggalkan pusat latihan Finch Farm tanpa menandatangani kontrak apa pun. Penyerang tersebut merasa tidak diperlakukan dengan baik selama proses transfer. Akibatnya, Monaco kehilangan kedua kesepakatan tersebut dan dicap telah “bermain api hingga akhirnya terbakar sendiri” oleh pihak dalam industri.

Bagi Chelsea, kegagalan mendaratkan Camara meninggalkan pekerjaan rumah yang sangat besar bagi Xabi Alonso. Kehilangan Enzo Fernandez tanpa adanya pengganti sepadan membuat lini tengah Chelsea menjadi sangat rapuh. Badai cedera yang menimpa Moises Caicedo dan Jordan Henderson memaksa bek kanan Malo Gusto dimainkan sebagai gelandang tengah darurat saat melawan Brighton.

Dalam laga tersebut, Chelsea bahkan mencatatkan penguasaan bola terendah mereka sejak musim 2003/2004, yakni hanya sebesar 25,6 persen. Meskipun begitu, manajemen Chelsea menolak panik dan memilih bersikap profesional tanpa membatalkan penjualan Fernandez ke Manchester City, sembari bersiap untuk mengevaluasi kembali opsi transfer mereka pada bursa transfer Januari mendatang melalui deal sheet baru jika diperlukan.