Kesaksian Kylian Mbappe Bisa Menjadi Kunci Kasus Pemerkosaan Achraf Hakimi

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Bek Maroko, Achraf Hakimi disambut oleh ibunya di akhir pertandingan sepak bola Grup F Piala Dunia 2022, antara Belgia vs Maroko di Stadion Al-Thumama di Doha, Qatar, Minggu (27/11/2022).
zoom-in-whitePerbesar
Bek Maroko, Achraf Hakimi disambut oleh ibunya di akhir pertandingan sepak bola Grup F Piala Dunia 2022, antara Belgia vs Maroko di Stadion Al-Thumama di Doha, Qatar, Minggu (27/11/2022).

Pengadilan tinggi Prancis resmi menolak permohonan banding bek Paris Saint-Germain Achraf Hakimi atas kasus dugaan pemerkosaan pada pekan ini. Penolakan tersebut sekaligus mengukuhkan keputusan Pengadilan Banding Versailles yang dikeluarkan pada pertengahan tahun lalu. Dengan demikian, sang pemain kini telah kehabisan seluruh jalur hukum untuk menghindari persidangan pidana.

Keputusan final ini memaksa bintang tim nasional Maroko tersebut untuk menghadapi persidangan pidana di pengadilan Prancis. Di tengah bergulirnya proses hukum ini, mantan rekan setimnya di Paris Saint-Germain yang kini membela Real Madrid, Kylian Mbappe, dilaporkan bakal dipanggil sebagai saksi kunci untuk memberikan keterangan yang berpotensi memengaruhi arah putusan hakim.

Kronologi Kasus yang Menyeret Bek Paris Saint-Germain

Kasus hukum yang menjerat mantan pemain Real Madrid dan Inter Milan ini bermula pada Februari 2023. Saat itu, seorang wanita berusia 24 tahun mengajukan laporan resmi yang menuduh Achraf Hakimi melakukan tindakan kekerasan seksual di kediaman sang pemain yang terletak di kawasan Boulogne-Billancourt, salah satu pinggiran kota Paris. Keduanya dilaporkan pertama kali saling mengenal melalui media sosial sebelum akhirnya memutuskan untuk bertemu secara langsung.

Berdasarkan keputusan pengadilan tertinggi di Prancis, bek kanan andalan Paris Saint-Germain tersebut harus bersiap untuk hadir langsung di kursi terdakwa. Persidangan pidana ini rencananya akan digelar di Pengadilan Hauts-de-Seine, yang kemungkinan besar bertempat di kota Nanterre. Hingga saat ini, pihak otoritas yudisial Prancis masih belum menetapkan tanggal pasti dimulainya persidangan yang diprediksi akan menyedot perhatian publik sepak bola dunia tersebut.

Peran Krusial Kylian Mbappe Sebagai Saksi

Penyelidikan mendalam terhadap kasus ini mengungkap keterlibatan tidak langsung dari kapten tim nasional Prancis, Kylian Mbappe. Kepolisian setempat sebenarnya telah memeriksa penyerang Real Madrid tersebut sebagai saksi pada April 2023, mengingat kedekatannya dengan terdakwa saat masih bersama-sama membela Paris Saint-Germain. Dalam pemeriksaan awal tersebut, Mbappe menyatakan bahwa rekannya mengaku hanya melakukan tindakan atas dasar suka sama suka atau mutual consent.

Pihak kuasa hukum terdakwa sempat mencoba mengajukan bukti baru berupa pesan tertulis dari Mbappe untuk meyakinkan hakim. Pesan tersebut mengklarifikasi bahwa klien mereka tidak melakukan sentuhan fisik pada bagian sensitif pelapor guna menyangkal adanya unsur tindak non-consensual dalam pertemuan tersebut. Kendati demikian, Pengadilan Banding Versailles menilai penjelasan tambahan tersebut tidak cukup kuat untuk membatalkan dakwaan sehingga proses persidangan harus tetap dilanjutkan.

Harapan Keadilan dan Sikap Kubu Pelapor

Keputusan pengadilan untuk melanjutkan kasus ini ke meja hijau disambut baik oleh Rachel-Flore Pardo selaku kuasa hukum dari pihak pelapor. Dalam pernyataan resminya, sang pengacara menegaskan komitmen kliennya untuk terus memperjuangkan keadilan hingga akhir proses persidangan nanti.

“Setelah pertarungan hukum yang melelahkan, dan setelah klien saya menjadi sasaran pencemaran nama baik, ia merasa yakin bahwa keadilan akan ditegakkan dan ia akan terus berjuang,” ujar Rachel-Flore Pardo kepada kantor berita Spanyol. Pengacara tersebut juga menambahkan, “Klien saya berharap persidangan ini dapat membantu perempuan lain, serta berkontribusi dalam meruntuhkan tembok penyangkalan dan impunitas terhadap kekerasan seksual, bahkan di dalam dunia sepak bola profesional sekalipun.”

Sementara itu, pihak terdakwa tetap bersikeras pada pembelaan awalnya dengan membantah segala tuduhan pemerkosaan. Sang pemain hanya mengakui adanya pelukan serta kecupan yang terjadi atas dasar suka sama suka. Sebaliknya, korban tetap berpegang teguh pada kesaksiannya bahwa tindakan fisik tersebut terjadi di luar kehendaknya, sebelum akhirnya ia berhasil meloloskan diri dan menghubungi kerabatnya untuk menjemput dari lokasi kejadian.