Martinelli Resmi ke Al Hilal Tinggalkan Arsenal Tanpa Sebut Nama Arteta

Hubungan kerja sama selama tujuh tahun antara Gabriel Martinelli dan Arsenal akhirnya resmi berakhir dengan kepindahan sang winger ke klub raksasa Arab Saudi, Al-Hilal. Namun, transfer senilai 60 juta poundsterling yang memecahkan rekor penjualan klub London Utara ini diwarnai oleh keretakan hubungan yang tajam antara sang pemain dan manajer Mikel Arteta.
Keputusan melepas pemain berusia 25 tahun tersebut memicu ketegangan di internal tim, terutama setelah Martinelli mengunggah pesan perpisahan emosional yang secara sengaja mengabaikan keberadaan Arteta. Sikap dingin ini menjadi puncak dari situasi sulit yang dialami sang penyerang sayap asal Brasil itu sebelum meninggalkan Stadion Emirates.
Keretakan Hubungan Berujung Pembekuan dari Skuad Utama
Keretakan hubungan antara Martinelli dan Arteta dilaporkan berkembang sangat cepat sebelum transfer ini terealisasi. Padahal, pada musim sebelumnya, Martinelli merupakan salah satu pilar penting yang membantu Arsenal bersaing ketat hingga berhasil merengkuh gelar juara Liga Primer Inggris. Namun secara mengejutkan, posisinya langsung tersisih hingga benar-benar dibebukan dari skuad matchday Arsenal pada awal musim baru.
Sang pemain sayap tidak dilibatkan sama sekali dalam laga kemenangan Community Shield dan laga pembuka liga domestik melawan Coventry City. Arteta secara blak-blakan memberi tahu Martinelli bahwa ia tidak lagi masuk dalam rencana taktis jangka panjang klub. Menyadari masa depannya yang suram dan sisa kontraknya yang tinggal menyisakan 12 bulan, pemain Brasil itu sempat menolak pendekatan dari klub Turki, Galatasaray, sebelum akhirnya menerima pinangan fantastis dari Al-Hilal.
Surat Perpisahan Emosional Tanpa Nama Sang Manajer
Begitu transfernya diumumkan secara resmi oleh Al-Hilal, Martinelli langsung merilis pernyataan perpisahan yang sangat menyentuh di media sosial miliknya. Menariknya, dari sekian banyak daftar ucapan terima kasih yang ia tulis secara mendetail kepada berbagai elemen di klub, tidak ada satu pun kata yang ditujukan khusus untuk manajer asal Spanyol tersebut. Ia memilih mengapresiasi jajaran staf pendukung yang selama ini bekerja di balik layar.
Di dalam unggahan tersebut, ia menulis, “Saya hanya bisa berterima kasih kepada staf dan rekan satu tim saya. Terima kasih kepada para koki, staf perlengkapan, dokter, penjaga pintu, staf keamanan, tim media, staf kebersihan, fisioterapis, dan setiap rekan satu tim yang telah menjadi bagian dari cerita saya dari tahun 2019 hingga hari ini. Dan kepada para penggemar, terima kasih untuk semuanya. Sejak hari pertama, Anda membuat saya merasa seperti di rumah sendiri.”
Ia juga menambahkan ungkapan emosional mengenai betapa beratnya meninggalkan klub yang sudah dibelanya selama tujuh tahun terakhir. “Saya menulis ini dengan air mata di mata saya, sangat sulit untuk menuangkan 7 tahun ke dalam kata-kata. Dari nomor 35 ke 11. Sekali seorang Gunner, tetap seorang Gunner. Selamat tidur, dan terima kasih sekali lagi,” lanjut Martinelli yang menunjukkan betapa emosionalnya perpisahan tersebut bagi dirinya pribadi.
Keresahan di Ruang Ganti dan Langkah Rekonstruksi Cepat Arsenal
Keputusan Arteta untuk mendepak salah satu pemain paling loyal di skuad tersebut ternyata memicu keresahan yang cukup masif di ruang ganti Arsenal. Beberapa pemain senior dikabarkan sangat kecewa dengan cara klub memperlakukan Martinelli selama bursa transfer musim panas ini. Mantan penyerang legendaris Arsenal, Ian Wright, juga mengekspresikan ketidaknyamanan serupa saat berbicara di media. Wright mengutarakan rasa prihatinnya dengan menyebut, “Cara Martinelli diperlakukan saat ini benar-benar membuat saya merasa tidak nyaman.”
Untuk mengantisipasi kepergian Martinelli, manajemen Arsenal langsung bergerak agresif melakukan rekonstruksi di sektor sayap kiri. Klub telah merampungkan transfer Christos Tzolis senilai 34 juta poundsterling dan mengamankan Eberechi Eze sebagai opsi cadangan, meskipun upaya mereka untuk mendatangkan bintang Real Madrid, Vinicius Junior, sempat menemui jalan buntu. Langkah-langkah ini menunjukkan keseriusan manajemen dalam menambal lubang pasca-kepergian sang pemain Brasil.
Kini, Martinelli resmi memulai petualangan baru di Timur Tengah bersama Al-Hilal di bawah asuhan pelatih Simone Inzaghi. Di klub barunya tersebut, ia akan berkolaborasi dengan rekrutan anyar lainnya seperti Ollie Watkins dan Crysencio Summerville guna bersaing ketat dengan Al-Nassr yang dipimpin Cristiano Ronaldo dalam perebutan takhta juara kompetisi domestik Arab Saudi.

